Breaking News

Materi Belajar Sekolah

Biografi Soeharto, Presiden Kedua Indonesia: Masa Kecil Soeharto dan Karir Militer

Soeharto merupakan seseorang yang lahir di Yogyakarta, lebih tepatnya di desa Kemusuk, Argomulyo.

ARSIP FOTO KOMPAS / JB SURATNO
Jenderal Besar Soeharto berbincang dengan Jenderal Besar AH Nasution, sesaat sebelum menerima ucapan selamat pada acara silaturahmi di Istana Negara, Jakarta, Minggu (5/10/2007) siang. 

TRIBUN-MEDAN.com - Artikel ini membahas biografi Soeharto, Presiden Kedua Indonesia yang dimulai dari Masa Kecil dan sempat menjabat Pangkostrad.

Sosok Soeharto, presiden kedua Indonesia ini tercatat sebagai presiden yang paling lama menjabat di Indonesia. Soeharto tercatat memimpin Indonesia selama 32 tahun. 

Bahkan, sosok yang dikenal dengan Bapak Pembangunan ini memiliki enam orang wakil presiden selama menjabat.

Semua hal-hal yang terjadi pada masa pemerintahan Soeharto bisa dijadikan pelajaran untuk pemerintahan yang akan datang.

Soeharto akan menjadi tokoh yang memiliki banyak cerita di masa hidupnya, baik itu tentang keluarga, Indonesia, dan masih banyak lagi.

Bukan hanya itu, di mata dunia, Soeharto juga memiliki cerita yang fenomena. Berikut biografi Soeharto yang dilansir dari gramedia.com:

1. Masa Kecil Soeharto
Soeharto merupakan seseorang yang lahir di Yogyakarta, lebih tepatnya di desa Kemusuk, Argomulyo. Soeharto lahir pada tanggal 8 Juni 1921. Ketika lahir, Soeharto bisa dikatakan sebagai keluarga yang kurang mampu.

Soeharto adalah seorang anak yang lahir dari ayah yang bernama Kertosudiro dan ibu yang bernama Sukirah.

Ayah Soeharto merupakan seorang petani di desanya dan seorang pembantu lurah dalam mengairi persawahan desa.

Saat Soeharto belum berusia 40 hari, sang ibu menitipkan anaknya kepada kakek atau Mbah Kromo.

Nama asli Mbah Kromo adalah Kromodiryo yang di mana ia merupakan seorang dukun bayi yang membantu proses kelahiran Soeharto.

Soeharto tinggal di rumah Mbah Kromo bisa dibilang cukup lama sekitar empat tahun.

Selama empat tahun itulah, Soeharto bisa merasakan dan mendapatkan kasih sayang seperti orang tua yang diberikan oleh Mbah Kromo.

Dari rumah Mbah Kromo juga, Soeharto bisa belajar berdiri bahkan sampai bisa berjalan.

Saat masih anak-anak, Soeharto sering sekali diajak Mbah Kromo pergi ke sawah. Soeharto sangat senang karena ketika di sawah ia bisa bermain membalik-balikkan, memberikan perintah kepada kerbau ketika membajak sawah.

Soeharto lihai memberikan instruksi seperti maju, belok kiri, belok kanan, dan ia juga sangat suka bermain air dan mandi di atas lumpur.

Selain itu, hal yang paling senang ia lakukan adalah mencari dan menangkap belut atau ikan. Oleh karena itu, sampai dengan masa tuanya, Soeharto masih sangat gemar atau memiliki hobi memancing ikan.

Orang tua Soeharto berpisah, kemudian ibu Soeharto (Sukirah) menikah lagi dengan seorang laki-laki yang bernama Atmopawiro dan memiliki tujuh orang anak.

Sedangkan, ayah kandung Soeharto (Kertosudiro) juga menikah lagi dan mempunyai empat orang anak.

Setelah sekian lama atau kurang lebih selama empat tahun tinggal bersama di rumah Mbah Kromo, sang ibu Soeharto (Sukirah) mengambil anaknya dan dibawa pulang ke rumah ayah tiri Soeharto (Atmopawiro).

Terkadang beberapa kali, ayah kandung Soeharto datang untuk melihat keadaan anaknya. Hingga pada suatu waktu, Soeharto sangat senang kedatangan ayah kandungnya karena dibawakan seekor kambing.

2. Pendidikan Soeharto
Saat berusia delapan tahun, Soeharto baru masuk sekolah dasar, tetapi ia beberapa pindah sekolah.

Pada awal masuk sekolah, Soeharto bersekolah di Sekolah Dasar (SD) Puluhan, Godean. Namun, ketika ibu dan ayah tirinya pindah rumah ke Kemusuk Kidul maka Soeharto juga pindah sekolah ke Sekolah Dasar (SD) Pedes.

Kekhawatiran Kertosudiro (ayah kandung Soeharto) akan masa depan anaknya maka ia menitipkan Soeharto kepada keluarga Prawirowihardjo yang bertempat tinggal di Wuryantoro, Purwodadi, Jawa Tengah.

Prawirowiharjo merupakan suami dari adik Kertosudiro atau adik ipar Kertosudiro. Prawirowiharjo merupakan seorang mantri tani dan ayahnya adalah seorang pengusaha yang sudah terkenal yaitu Sudwikatmono.

Saat tinggal bersama bibi dan pamannya, Soeharto sangat senang karena sering diajak ke sawah oleh pamannya sehingga ia perlahan-lahan bisa mengerti seluk beluk tentang dunia pertanian.

Untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), Soeharto memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Kemusuk.

Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan yang dipilih oleh Soeharto setelah tamat Sekolah Dasar (SD).

Untuk menempuh jarak ke sekolah, ketika berangkat dan pulang sekolah Soeharto menggunakan sepeda yang hampir rusak.

Setelah tamat dari SMP, Soeharto ingin sekali melanjutkan pendidikannya ke jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, karena keadaan ekonomi keluarga dan keterbatasan biaya yang dimiliki oleh orang tuanya membuat Soeharto harus mengurungkan niatnya itu.

Soeharto sempat mendapatkan dua surat panggilan kerja yang terjadi pada sekitar tahun 1939, surat pertama merupakan surat panggilan dari bank dan surat kedua merupakan surat panggilan dari lembaga ketentaraan.

Dan akhirnya yang dipilih oleh Soeharto adalah berkarir di dunia militer.

3. Pernikahan Soeharto
Saat berusia 26 tahun, Soeharto menikahi Siti Hartinah yang berusia 24 tahun. Istri Soeharto merupakan putri dari Soemoharjomo, wedana di Wuryantoro.

Soemoharjomo juga merupakan seorang pegawai Keraton Mangkunegaran, Surakarta. Pernikahan Soeharto dan Siti Hartinah terlaksana pada tanggal 26 Desember tahun 1947 dan dilaksanakan di Solo.

Sebenarnya, Soeharto dan Siti Hartinah  sudah saling mengenal satu sama lain sejak masih anak-anak. Soeharto termasuk orang yang pemberani bahkan ia pernah dipuji oleh Siti Hartinah karena keberaniannya itu.

Keberanian yang dilakukan oleh Soeharto seperti berani masuk ke dalam pekarangan rumah kewedanan hanya untuk menggoda Siti Hartinah.

Ketika masuk ke pekarangan, Soeharto selalu memetik bunga, sehingga ketika ada bunga yang rusak, maka Siti Hartinah akan bilang kalau pelaku yang merusak bunga adalah Soeharto.

Pernikahan yang terjadi antara Soeharto dan Siti Hartinah memberikan enam orang anak yang terdiri dari tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan.

Berikut nama anak-anak Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Istri Soeharto mempunyai hubungan yang sangat baik dengan wartawan sehingga bisa dikatakan Siti Hartinah (Ibu Tien) sangat akrab dengan wartawan.

Siti Hartinah meninggal pada tanggal 28 April 1996. Berdasarkan keterangan keluarga bahwa Ibu Tien meninggal karena menderita penyakit jantung. Ibu Tien disemayamkan di Astana Giri Bangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

4. Karir Militer Soeharto
Sebelum memulai karir politiknya, Soeharto menjadi anggota dari lembaga ketentaraan yaitu TNI (Tentara Nasional Indonesia). Soeharto diangkat menjadi anggota TNI pada tanggal 5 Oktober 1945.

Saat menjadi anggota TNI, Soeharto diberikan tugas memimpin pasukan untuk melawan aksi-aksi militer Belanda yang berusaha untuk kembali menjajah Indonesia.

Pada tanggal 1 Maret 1949, nama Soeharto semakin dikenal oleh banyak orang karena berhasil mengamankan kota Yogyakarta.

Meskipun yang memimpin serangan ini Soeharto, tetapi penggagas dari serangan ini sebenarnya adalah Raja Yogyakarta, Gubernur, Militer, dan Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Soeharto berhasil menjadi seorang tentara dengan pangkat Brigadir Jenderal dan memimpin Komando Mandala yang bertugas untuk merebut kembali Irian Barat.

Komando Mandala dilaksanakan pada tahun 1961, dan dari Komando Mandala ini Soeharto mendapatkan pengalaman yang sangat berharga yaitu bisa berkenalan dengan Mayor Ali Moertopo, Kapten L.B Moerdani, dan Kolonel Laut Sudomo.

Ketiga orang itu merupakan orang-orang yang memiliki peran penting dan strategis.

Soeharto mendapatkan kenaikan pangkat setelah selesai menjalankan tugas di Irian Barat dan kembali dari Indonesia Timur.

Pangkat yang diperoleh Soeharto adalah Mayor Jenderal dan oleh Jenderal A.H. Nasution, ia ditarik ke markas besar ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).

Bukan hanya itu, pada tahun 1962, Soeharto mendapatkan kenaikan menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad).

ABRI khususnya Angkatan Darat di tahun 1965 mengalami perpecahan atau konflik internal. Konflik internal ini disebabkan adanya paham Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) yang digagas oleh Soekarno sehingga membuat TNI AD terpecah menjadi dua kubu, pertama, kubu sayap kiri, dan kedua, kubu sayap kanan.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, terjadi penculikan dan pembunuhan terhadap enam orang Jenderal. Kelompok yang menculik dan membunuh enam Jenderal itu mengaku sebagai kelompok Gerakan 30 September (G30S).

Semua kejadian itu terjadi begitu cepat hingga muncul Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) dari Presiden Soekarno yang berisi tentang pemberian kewenangan dan mandat kepada Soeharto untuk mengambil dan menentukan segala tindakan supaya permasalahan ini terselesaikan dan dapat memulihkan keamanan dan ketertiban.

Sejak dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) oleh Soekarno, jabatan Panglima Komando Panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) dipegang oleh Soeharto.

Pada tanggal 27 Maret 1968, Soeharto dilantik oleh MPRS untuk menjadi Presiden Republik Indonesia. Dengan pelantikan ini maka menjadi tanda lahirnya masa pemerintahan Orde Baru.

5. Karir Politik Soeharto Sebagai Presiden Orde Baru
Sebenarnya Soeharto mulai menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak tahun 1966, tetapi baru dilantik oleh MPRS pada tahun 1968.

Pada awal menjadi Presiden Republik Indonesia, Soeharto belum mempunyai wakil Presiden Republik Indonesia.

Sejak tahun 1973 hingga 1998, barulah Soeharto mempunyai Wakilnya.

Wakil Presiden Masa Pemerintahan Orde Baru

1. Sultan Hamengkubuwono IX

Wakil Presiden pertama pada kepemimpinan Soeharto ialah Sultan Hamengkubuwono IX. Pada masa pemerintahan ini, Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan I. Masa kerja pada Kabinet Pembangunan I adalah tanggal 6 Juni 1968 sampai 28 Maret 1973.

2. H. Adam Malik
Setelah menjabat sebagai Menteri luar negeri dan ketua MPR/DPR RI maka pada tahun 1978, H. Adam Malik dipercaya oleh Soeharto untuk mengemban jabatan Wakil Presiden Indonesia.

Pada masa pemerintahan ini, Soeharto membentuk Kabinet Pembangunan III dengan masa kerja mulai dari 19 Maret 1978 sampai 19 Maret 1983.

3. Umar Wirahadikusumah

Di dua periode sebelumya, Wakil Presiden yang dipilih Soeharto merupakan mantan seorang Menteri di kabinet sebelumnya. Namun, pada Kabinet Pembangunan IV, Soeharto memilih Wakil Presiden bukan dari mantan Menteri, yaitu Umar Wirahadikusumah. Kabinet Pembangunan IV ini mempunyai masa kerja yang dimulai dari 19 Maret 1983 hingga 22 Maret 1988.

4. Sudharmono
Sudharmono menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia yang keempat di masa kepresidenan Soeharto. Soeharto dan Sudharmono membentuk Kabinet Pembangunan V. Kabinet ini memiliki masa kerja mulai dari tanggal 23 Maret 1988 sampai tanggal 17 Maret 1993.

5. Try Sutrisno
Wakil Presiden kelima pada masa kepemimpinan Soeharto ialah Try Sutrisno. Pada masa pemerintahan ini, nama kabinet yang digunakan ialah “Kabinet Pembangunan VI”. Kabinet ini mempunyai masa kerja dari 17 Maret 1993 hingga 14 Maret 1998.

6. B.J Habibie
Pada Kabinet Pembangunan VII masa kerjanya hanya dalam hitungan bulan, yaitu 14 Maret 1998 hingga 21 Mei 1998. Hal ini dikarenakan Soeharto mengundurkan diri menjadi Presiden Republik Indonesia dan digantikan oleh B.J. Habibie.

Kesimpulan
Soeharto terlahir dari keluarga yang kurang mampu sehingga ia harus dititipkan beberapa kali ke saudara orang tuanya. Meskipun lahir dari keluarga yang kurang mampu, tetapi Soeharto tetap semangat dalam menjalani hidupnya.

Ia merupakan seorang yang pekerja keras sehingga setelah menempuh karir militer ia dapat diangkat menjadi Presiden Indonesia yang kedua.

(*/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved