Bupati Poltak Sitorus Janji Hadirkan Fasilitas Riset Kelas Dunia di Kabupaten Toba

"Janganlah karena masalah fasilitas sehingga terhalang melakukan riset seperti ini. Kita akan dukung, 100 persen, kita akan dukung," sambungnya

Penulis: Maurits Pardosi |
TRIBUN MEDAN/MAURITS
Bupati Toba Poltak Sitorus saat memberi arahan kepada para petani yang akan berangkat ke Provinsi Jawa Barat dalam agenda belajar bertani, Kamis (15/4/2021). Poltak berharap petani yang berangkat pulang dengan membawa ilmu baru.(TRIBUN MEDAN/MAURITS) 

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA - Bupati Toba Poltak Sitorus siap untuk mengupayakan alat-alat riset untuk pengembangan ilmu pengetahuan di Kabupaten Toba bagi para pelajar.

Walau dengan alat sederhana, para siswa yang berasal dari SMPN 1 Sigumpar mampu menorehkan juara di tingkat dunia.

"Kita bangga dengan hasil temuan beliau dengan alat-alat sederhana. Alat yang dibutuhkan beliau nanti akan kita dukung untuk riset-riset yang berikutnya," ujar Bupati Toba Poltak Sitorus saat disambangi di areal pendopo Rumah Dunas Bupati Toba pada Senin (16/8/2021).

"Inilah kebanggaan kita, masyarakat Toba punya pemikiran yang cemerlang dalam ilmu pengetahuan ini," sambungnya.

Untuk ke depan, ia akan mendukung penuh riset yang dilakukan para pelajar di Kabupaten Toba.

"Janganlah karena masalah fasilitas sehingga terhalang melakukan riset seperti ini. Kita akan dukung, 100 persen, kita akan dukung," sambungnya

Riset seputar Pohon  Rimbang sebagai Pengemulsi Susu Kerbau membawa para siswa dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMP N) 1 Sigumpar, Kecamatan Sigumpar, Kabupaten Toba.

Dalam ajang tingkat dunia, SMP Negeri 1 Sigumpar meraih juara III dengan judul riset "Utility Rimbang (Solanum torvum) As Microemulsion Buffalo Milk".

Para siswa yang berhasil sabet medali perunggu dalam ajang lomba riset tingkat dunia.
Para siswa yang berhasil sabet medali perunggu dalam ajang lomba riset tingkat dunia. (IST / Tribun Medan)

Guru pembina riset SMP N 1 Sigumpar Roy Siagian mengisahkan bahwa pihaknya mengalami kekurangan alat dalam riset tersebut.

"Kita memang sangat minim dalam hal peralatan. Pertama, alat-alat kimia di laboratorium kita tidak mencukupi," ujar

"Walaupun demikian, semangat kita tidak surut. Kualitas kegigihan para siswa yang membuat saya sebagai pengajar dan siswa tetap semangat dan yakin bahwa riset ini bisa memberikan  pengaruh bagi masyarakat sekitar,"

Prestasi itu ditorehkan tiga siswa yang mengikuti lomba pada Juni 2020 yang kemudian menorehkan medali perunggu di tingkat dunia pada November 2020 adalah Restu G Simangunsong, Mindo Napitupulu, dan Ivan Sitorus.

"Kalau menurut saya, profesi saya sebagai guru. Saya punya keyakinan bahwa guru itu bermanfaat, secara khusus saya bermanfaat bagi murid saya sendiri, dengan cara membimbing mereka," ujar Roy Siagian saat ditemui di Balige beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan bahwa riset tersebut ternyata membuat para siswa semakin bersemangat belajar dan mental mereka terbentuk. Selama proses riset, ia mengakui kekurangan fasilitas.

"Cara kita adalah melatih mental mereka dan membawa mereka dalam lomba riset ini. Kita juara pada riset, bermula pada juara II tingkat provinsi, kemudian kita lolos ke nasional dan mendapat perak," sambungnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved