Informasi Rahasia Bocor, China Siapkan Ratusan Senjata Nuklir di Gurun Gansu, Amerika Ketar-ketir
Kekhawatiran AS mulai terlihat setelah menerima informasi rahasia, bahwa China telah membangun ratusan lebih banyak silo rudal.
TRIBUN-MEDAN.COM - Ketegangan antara China dan Amerika tampaknya terus berlanjut.
Beragam informasi rahasia mulai dibuka.
Kekhawatiran AS mulai terlihat setelah menerima informasi rahasia, bahwa China telah membangun ratusan lebih banyak silo rudal.
Pada Selasa (27/7/21), Pentagon dan anggota Kongres AS dari Partai Republik menegaskan kembali kekhawatiran tentang akumulasi tenaga nuklir China.
Karena ditemukan setidaknya ada 110 silo rudal yang disembunyikan oleh China.
Sebuah laporan oleh Federasi Ilmuwan Amerika (AFS) yang dirilis pada 26 Juli 2021 mengatakan, bahwa gambar satelit menunjukkan bahwa China sedang membangun ladang bunker rudal tambahan di dekat Hami, di bagian timur Xinjiang.
Laporan itu muncul hanya beberapa minggu setelah dilaporkan bahwa China sedang membangun sekitar 120 silo rudal di Yumen, wilayah gurun 380 km tenggara.
"Ini adalah kedua kalinya dalam bulan ini opini publik menemukan apa yang telah lama kami katakan tentang meningkatnya ancaman yang dihadapi dunia dan tabir kerahasiaan yang mengelilinginya," tulis Komando Strategis AS dalam sebuah pernyataan.
![China membangun lebih dari 100 silo rudal di daerah gurun Gansu, menurut analisis foto satelit perusahaan Planet. [SS/YOUTUBE/WION]](https://asset.kompas.com/crops/Yr6iCHx4mSEvB0s5xWqA0fG-giM=/241x100:928x558/750x500/data/photo/2021/07/02/60de896a5266d.jpeg)
China membangun lebih dari 100 silo rudal di daerah gurun Gansu, menurut analisis foto satelit perusahaan Planet. [SS/YOUTUBE/WION] (SS/YOUTUBE/WION)
Pada awal Juli, Departemen Luar Negeri AS mengatakan bahwa akumulasi tenaga nuklir China sangat mengkhawatirkan.
Beijing tampaknya menyimpang dari strategi nuklir pencegahan minimal selama beberapa dekade terakhir.
AS mendesak China untuk mengambil "langkah-langkah praktis untuk mengurangi risiko perlombaan senjata yang tidak stabil".
Anggota Kongres Mike Turner, anggota Subkomite Pasukan Strategis Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, mengatakan China mengumpulkan tenaga nuklir dalam skala "belum pernah terjadi sebelumnya".
Ia juga menjelaskan bahwa mereka "menggelar senjata nuklir untuk mengancam Amerika Serikat dan sekutunya."
Turner mengatakan penolakan China untuk merundingkan perjanjian pengendalian senjata nuklir "menimbulkan kekhawatiran dan harus dikutuk oleh semua negara yang bertanggung jawab".
Anggota Kongres dari Partai Republik Mike Rogers, anggota Komite Angkatan Bersenjata DPR AS, mengatakan bahwa akumulasi senjata nuklir China menunjukkan bahwa AS perlu dengan cepat memodernisasi penangkal nuklirnya.
Sebuah laporan Pentagon tahun 2020 memperkirakan jumlah hulu ledak nuklir China "di bawah 200".
Memperkirakan negara itu setidaknya akan menggandakan jumlah itu saat memodernisasi angkatan bersenjatanya.
Analis memperkirakan AS memiliki sekitar 3.800 hulu ledak nuklir, di mana 1.357 di antaranya dikerahkan.

missilethreat.csis.org
Rudal DF-26.
Washington telah berulang kali meminta China untuk bergabung dengan Amerika Serikat dan Rusia dalam menandatangani perjanjian kontrol senjata baru.
Informasi tentang pembangunan lebih banyak fasilitas penyimpanan senjata nuklir China datang ketika Wakil Menteri Luar Negeri AS Wendy Sherman akan mengadakan dialog pengendalian senjata dengan Rusia di Jenewa pada 28 Juli.
Sherman mengunjungi China awal minggu ini. Selama kunjungan itu, Beijing menuduh Washington menciptakan "musuh imajiner" untuk mengalihkan perhatian dari masalahnya sendiri untuk menekan China.
Beijing mengatakan persenjataannya tidak seberapa dibandingkan dengan AS dan Rusia.
China juga bersedia untuk bernegosiasi secara bilateral mengenai keamanan strategis "berdasarkan kesetaraan dan saling menghormati".
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri AS meminta China untuk terlibat dalam langkah-langkah praktis guna mengurangi risiko perlombaan senjata.
Sementara itu, anggota Kongres AS dari Partai Republik Mike Turner menyebutkan bahwa Beijing sengaja mengembangkan senjata nuklir untuk mengancam Washington dan sekutunya.
Dia berujar, penolakan China untuk merundingkan kontrol senjata harus menjadi perhatian dan dikutuk oleh semua negara yang bertanggung jawab.
AS perlu memodernisasi sistem pertahanan penangkal nuklirnya dengan cepat.
Washington juga telah berulang kali meminta China untuk bergabung dengan AS dan Rusia dalam perjanjian kontrol senjata yang baru.
Kemampuan Nuklir China dalam Dua Dekade Terakhir
Dikutip dari Kontan, setidaknya, dalam dua dekade terakhir, China telah habis-habisan membangun sistem pertahanan berbasis nuklir demi menangkal segala kemungkinan serangan, baik di darat maupun laut.
Di antara banyak sistem pertahanan nuklir tersebut, terdapat rudal balistik, kapal selam, hingga terowongan bawah tanah sepanjang ribuan kilometer sebagai lokasi perlindungan.
Wang Xiangsui, mantan kolonel senior China yang kini menjadi profesor di Universitas Beihang di Beijing, mengatakan, semua kemampuan yang ada telah menjamin China tetap aman, bahkan dari skenario terburuk.
"Meluncurkan serangan nuklir di China selalu menjadi pilihan militer bagi Amerika Serikat (AS)," kata Wang kepada South China Morning Post.
"Namun untuk opsi tersebut, mereka menghadapi ketidakpastian karena penyesuaian dan perubahan yang kami lakukan dalam 20 tahun terakhir," ujar dia.
Kemampuan pertahanan China

Rudal hipersonik DF-17
Tanpa menyebutkan sumbernya, Wang menyebutkan, beberapa pakar AS mengklaim, hanya satu hulu ledak nuklir China yang mampu bertahan dari serangan pertama AS dan mencapai tanah Amerika dalam serangan balik.
Bagi Wang, penilaian tersebut sangat tidak masuk akal.
Menurut Wang, China telah mengambil serangkaian tindakan selama bertahun-tahun untuk membangun kemampuan serangan balasan yang kredibel untuk menanggapi serangan nuklir.
Selain terowongan panjang sebagai tempat singgal rudal balistik antarbenua, China telah mengembangkan rudal canggih dan memperluas benteng pertahanan laut di Laut China Selatan dan Laut Kuning. Di sana, kapal selam berkemampuan rudal balistik China bisa beroperasi dengan aman.
China juga telah berjanji untuk tidak menggunakan senjata nuklir dalam sebuah serangan pertama. Saat ini, China diperkirakan memiliki 200 hingga 300 hulu ledak nuklir, lebih sedikit dari AS dan Rusia yang masing-masing memiliki setidaknya 4.000 hulu ledak nuklir.
Pada tahun 2018, media Pemerintah China melaporkan, militer Tiongkok telah membangun "Tembok Besar bawah tanah" sepanjang 5.000 km, berupa terowongan panjang di penjuru negeri untuk bersembunyi, memindahkan, dan meluncurkan pasukan serangan balasan nuklirnya.
Dalam laporannya saat itu, ditampilkan beberapa unit rudal balistik antarbenua (ICBM) sedang dimuat di truk dan dibawa masuk ke dalam terowongan.
Dari sektor maritim, pada 2015 lalu, China meluncurkan kapal selam nuklir dengan rudal balistik (SSBN) Type 094A yang dilengkapi rudal JL-2.
Rudal JL-2 memiliki jangkauan hingga 7.400 km. Sementara penerusnya, JL-3, diperkirakan memiliki jangkauan lebih dari 12.000 km. Sederhananya, AS akan masuk dalam jangkauan tersebut.
Belum cukup sampai di situ, Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) juga telah menciptakan rudal glider hipersonik pertama di dunia DF-17. Kabarnya, rudal ini cukup cepat untuk sistem pertahanan rudal AS.
Dalam tes Agustus lalu, rudal penghancur kapal induk China, DF-26B dan DF-21D, telah berhasil menghantam kapal yang bergerak di Laut China Selatan.
Menurut Wang, dengan sederet kemampuan balasan ini tidak mungkin bagi AS untuk melancarkan serangan nuklir besar-besaran terhadap China.
Sistem tempur tak berawak demi memenangkan perang masa depan
Baru-baru ini Ilmuwan di universitas militer China dalam beberapa tahun terakhir telah fokus pada pengembangan sistem tempur tak berawak yang dimaksudkan untuk memenangkan perang di masa depan. Kini, upaya mereka mulai membuahkan hasil.
Melansir People's Daily, Laporan terbaru menunjukkan berbagai jenis peralatan tak berawak, termasuk platform tempur amfibi dan kendaraan tempur dengan konsep desain baru, yang akan memasuki dinas militer.
Sejak 2013, tim inovasi teknologi untuk sistem tempur tak berawak di National University of Defense Technology (NUDT) telah membuat inovasi independen yang melibatkan teknologi perbatasan dalam peperangan tak berawak, dan telah mengembangkan banyak jenis peralatan tempur tak berawak, yang akan meletakkan dasar teknis bagi pasukan China untuk memenangkan perang di masa depan, Radio Nasional China (CNR) melaporkan pada pekan lalu.
People's Daily yang mengutip CNR melaporkan, salah satu proyek, platform amfibi tak berawak, memenangkan tender kompetitif oleh departemen peralatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA).
Foto yang dilampirkan pada laporan tersebut menunjukkan prototipe platform amfibi di dalam air. Platform seukuran perahu itu sepertinya berlayar dengan kecepatan tinggi dan telah melewati inspeksi pengiriman parameternya di atas air.
Proyek lain, yang dijuluki "kendaraan tempur dengan konsep desain baru," juga siap untuk pemeriksaan pengiriman, kata laporan itu.
Selama fase awal proyek, kepala tim NUDT melakukan survei terhadap lebih dari selusin unit militer untuk mempelajari kebutuhan pasukan akan kendaraan tempur tak berawak, dan akhirnya memutuskan untuk membangunnya untuk berbagai keperluan termasuk pembersihan rintangan dan pengintaian.
Dalam beberapa tahun terakhir, tim NUDT juga mengembangkan seri kendaraan darat tak berawak "Desert Wolf", yang dilengkapi dengan stasiun senjata yang dikendalikan dari jarak jauh, dan dapat mengangkut barang dan tentara yang terluka.
Menurut laporan itu, tim juga memodifikasi kendaraan serbu off-road Dongfeng Mengshi - jenis kendaraan yang banyak digunakan oleh PLA - menjadi varian tak berawak.
People's Daily melaporkan, dalam latihan pendaratan amfibi bersama skala besar baru-baru ini di lepas pantai tenggara daratan China di tengah memanasnya hubungan dengan Taiwan, PLA mengerahkan berbagai jenis peralatan tak berawak termasuk drone pengintai udara, kapal pemecah rintangan tak berawak, dan kendaraan darat tak berawak untuk serangan dan juga kendaraan darat tak berawak.
Senjata Laser China
Selain senjata tak berawak, China juga berhasil mengembangkan senapan laser yang dapat mengenai musuh yang berjarak satu kilometer.
Senjata laser yang diberi nama ZKZM-500 dikelaskan sebagai senjata yang "tidak mematikan" dapat memproduksi sinar energi yang tak kasat mata bisa membuat "karbonisasi instan" terhadap kulit dan jaringan manusia.
"Senjata ini mampu untuk membakar pakaian dalam hitungan detik, jika kainnya mudah terbakar, orang tersebut akan terbakar" kata salah satu ilmuwan yang membuat senjata tersebut seperti dilansir situs berita South China Morning Post.
"Rasa sakit yang ditimbulkan oleh senjata ini diluar daya tahan tubuh kita," kata peneliti yang ikut serta dalam pegembangan dan pegujian prototipe senjata tersebut di Institut Optik Xian dan Akedemi Ilmu Pengetahuan China bagian Presisi Mekanik, Provinsi Shaanxi.
Senapan laser tersebut sudah siap diproduksi secara massal dan digunakan pertama kali oleh pasukan anti-terorisme di kepolisian China.
Jika terjadi situasi penyanderaan, senapan laser China itu dapat menembus jendela yang dekat dengan target lalu melumpuhkan penyandera, sementara pasukan lainya masuk dan menyelamatkan sandera.
Senapan laser China tersebut juga dapat digunakan dalam operasi militer rahasia.
Sinar lasernya cukup kuat untuk meledakkan tangki bensin dan meledakkan fasilitas penyimpanan bahan bakar di pangkal militer.
Laser tersebut disetel ke frekuensi yang tidak dapat dilihat mata, dan tidak menghasilkan suara.
"Tidak ada yang tahu dari mana serangan tersebut berasal. Hal tersebut akan terlihat seperti kecelakaan," kata peneliti yang lain.
Para peneliti meminta untuk tidak disebutkan namanya karena projek tersebut dapat membahayakan mereka.
Pada tahun 2020 lalu, pemerintah Amerika mengajukan pengaduan resmi bahwa senjata laser yang ditembakan dari pangkalan angkatan laut China di Djibouti menyebabkan dua pilot militer AS mengalami cidera ringan dimata mereka.
Protokol PBB terkait senjata laser, dimulai pada tahun 1980 dan ditandatangani lebih dari 100 negara, melarang untuk menggunakan senjata laser generasi sebelumnya karena dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara permanen.
Para peneliti menekankan tidak manusiawi jika menggunakan senjata ini untuk membunuh orang.
(*/tribun-medan.com/ Intisari )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pangkalan-nuklir-china.jpg)