Pernah Dinobatkan Kota Terkotor, Bobby Nasution Beri Perhatian Terhadap Penanganan Sampah
Wali Kota Medan, Bobby Nasution mengatakan masalah sampah akan menjadi perhatian serius. Sebab, Kota Medan menyandang predikat sebagai kota terkotor
Penanganan sampah terukur yang dilakukan Bobby Nasution mendapat dukungan banyak kalangan, salah satunya Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara (FISIP USU) Dr Hatta Ridho SSos MS.
Hatta menilai, langkah yang dilakukan Bobby Nasution merupakan sebuah terobosan yang sangat bagus. Sebab, penanganan sampah yang dilakukan selama ini masih menggunakan sistem open dumping.
“Artinya, sampah diangkut dan dibuang langsung ke TPA Terjun. Perharinya, Kota Medan menghasilkan sampah sebanyak 2.000 ton, sedangkan yang bisa diangkut hanya 1.500 ton. Jadi, pengelolaan sampah dengan sistem ALFIMER sangat tepat sekali karena menghasilkan keuntungan berupa pupuk,” ungkap Hatta.
Selanjutnya, Hatta juga mendukung kolaborasi Pemko Medan dengan Deli Serdang dan Pemprov Sumut dalam pengadaan TPA Regional.
Sebab, hal itu dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan kepada masyarakat, tidak hanya dari segi administratif saja, tetapi juga kenyamanan masyarakat seperti udara dan lingkungan yang bersih.
Di samping itu lagi, tambahnya, penanganan sampah di TPA Terjun kemungkinan hanya bisa bertahan hingga 2 tahun ke depan.
Oleh karenanya, kehadiran TPA Regional sangat tepat sekali sebagai pengganti TPA Terjun.
Apalagi, di TPA Regional nanti sistem penanganan sampahnya menggunakan sitem sanitary landfill.
“Saya kira itu bagus dan dampak lingkungannya berbeda dengan open dumping seperti yang selama ini digunakan di TPA Terjun. Sebab, sistem open dumping menyebabkan Kota Medan menjadi kota terkotor karena 60 % penilaian Adipura dari sistem pengolahan sampahnya di TPA. Padahal Kota Medan secara faktual tidaklah lebih jorok dari pada kota-kota lainnya, sungainya sendiri juga tidak terlalu ada sampah. Cuma hanya karena parameter pengolahan sampah di TPA Terjun masih menggunakan open dumping sehingga Medan mendapat predikat kota terkotor tahun 2019,” jelasnya.
Kemudian, Hatta berharap, dalam penanganan sampah harus dilakukan pendekatan kolaborasi antar daerah maupun OPD dengan melepaskan ego sektoral masing-masing.
Di bawah kepemimpinan Bobby Nasution, Hatta menagpresiasi upaya yang telah dilakukan dalam penanganan sampah.
Tidak itu saja, Bobby Nasution juga dinilai melakukan berbagai gebrakan lain seperti anti pungli maupun melakukan gerak cepat (gercep) menjawab apa yang menjadi keluhan masyarakat.
Dukungan lain juga disampaikan Pengamat Kebijakan Kota Medan sekaligus Akademisi Universitas Medan Area (UMA) Yurial Arief Lubis SSos MIP.
Ia mengapresiasi dan mendukung program yang telah dilakukan Wali Kota. Yurial menilai, apa yang dilakukan Wali Kota dalam menangani permasalahan di TPA Terjun dengan menggunakan teknologi ALFIMER sudah sangat tepat dan sebagai akademisi.
ia sangat menyutujui dengan teknologi ALFIMER ini, diharapkan sampah dapat didaur ulang menjadi sesuatu yang berguna seperti pupuk dan lain sebagainya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/kytt.jpg)