TRIBUNWIKI

SOSOK Nikson Nababan, Bupati Taput, Jadikan Masa Lalunya Inspirasi

Pria kelahiran Siborongborong pada tanggal 5 Oktober 1972 ditempa dalam keluarga yang sederhana. Selain guru, orangtuanya juga bertani. 

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/ MAURITS PARDOSI
Bupati Taput Nikson Nababan.  

Sejak SD hingga SMA, ia selalu membantu orangtuanya ke ladang. Bahkan, pada hari Sabtu setiap minggunya, ia pergi ke hutan mencari kayu bakar yang berjarak 6 kilometer dari rumahnya. 

"Kalau ke ladang itu pukul 13.00 WIB, nanti kita balik ke rumah sudah pukul 19.00 WIB. Jadi enggak ada namanya hari libur. Mungkin, kalau libur itu pun pas libur Natal dan Tahun Baru aja. Kalau hari Minggu itu tidak ada istilah libur. Kita menjemur padu, kopi," sambungnya penuh haru.

Pengalaman di masa kecil itulah yang membuatnya mudah berempati. Setelah SMA, ia berangkat ke Medan kuliah tepatnya di Medan Area selama satu tahun. 

"Saat kuliah di Medan Area selama 1 tahun, saya juga mengalami betapa pahitnya hidup. Kadang, sampai satu bulan tak ada uang kiriman. Jadi, sangat sedih kadang," terangnya. 

Baca juga: Ayam Cipera, Kuliner Karo Yang Terbuat Dari Tepung Jagung, Begini Cara Memasaknya

Lalu, ia melanjutkan sekolah ke Yogyakarta dan mengecap pendidikan di  Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa. 

"Di sana kita diajari bagaimana membangun dengan bottom up, membangun dari desa. Itulah yang memburtuk bahwa Top down di zaman orde Baru. Dan itulah yang membuat saya berangkat ke Jakarta, lamar ke sana-kemari," ungkapnya. 

Walau sudah kuliah, ia merasa bahwa dirinya masih butuh menuntut ilmu lagi dengan kursus bahasa, termasuk kursus Bahasa Inggris.

Setelah menjalani hidup di Jakarta, ia menghidupi profesi wartawan di Media Indonesia. Setelah menjalani profesi sebagai wartawan, ia membuka mata pada bisnis. 

"Ternyata menjadi wartawan itu juga keras. Pergi pagi, pulang malam dan menunggu deadline juga. Maka, saya berpikir bagaimana caranya saya membahagiakan orang tua. Saya coba geluti bidang bisnis," sambungnya. 

Setelah menggeluti dunia bisnis, ia pun terjun ke dunia politik hingga menghantar dia menjadi orang nomor satu di Tapanuli Utara. 

Baca juga: Berita Foto: Permainan Kayak Menjadi Primadona bagi Pengunjung saat Liburan di Taman Candika

"Dan setelah itu, saya masuk ke politik. Saat itu, saya ingin berkeinginan untuk menjadi kepala daerah yang memiliki kewenangan untuk membangun.

Saya ingin mengubah wajah Tapanuli Utara. Pasalnya, dulu Tapanuli Utara dikenal dengan jalan rusak," sambungnya. 

"Setelah mendarat dari Jakarta ke Sumur, kita melihat bahwa daerah Tapanuli banyak jalan yang berlubang-lubang. Apalagi masuk ke daerah Siborongborong di Jalan Makmur, banyak jalan rusak. Ini harus dibenahi, gitu," terangnya. 

Dengan bermodalkan pengalaman di luar negeri khususnya di Eropa dan juga berbagai daerah di Indonesia, ia ingin membangun kampung halamannya sendiri.

"Pengalaman di berbagai negara di Eropa dan daerah lainnya atau di Indonesia misalnya di Jawa. Kapan Tapanuli bangkit? Itulah yang mendasar saya maju menjadi Bupati Tapanuli Utara," pungkasnya.

(cr3/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved