Pemakaman Pendeta SAE Nababan

Pendeta Purada Sinaga: SAE Nababan Tokoh Kesetaraan Gender di Lingkungan HKBP

Diakonia HKBP Pendeta Debora Purada Sinaga tertuju pada ingatan akan keadilan dalam pelayanan di HKBP.

Penulis: Maurits Pardosi |

TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Saat mengingat kembali mantan Ephorus Pendeta SAE Nababan, Kepala Departemen (Kadep) Diakonia HKBP Pendeta Debora Purada Sinaga tertuju pada ingatan akan keadilan dalam pelayanan di HKBP.

Secara tegas, ia menyampaikan bahwa almarhum berperan banyak dalam hal kesetaraan pelayanan di lingkungan HKBP.

"Bagiku, itu bagiku adalah pejuang keadilan dan keseteraan gender. Beliau selalu menekankan bahwa perempuan di HKBP selalu maju dan mereka harus dilakukan setara secara sebagaimana dengan laki-laki lainnya," ujarnya saat disambangi di areal pemakaman pada Selasa (11/5/2021).

Bahkan, ia mengatakan bahwa dirinya bertahan sebagai pendeta yang perempuan atas jasa almarhum Pendeta SAE Nababan.

"Karena perjuangan, tokoh keadilan dan kesetaraan gender itulah walaupun banyak tantangan dan rintangan, pelayanan perempuan di tengah HKBP, saya boleh bertahan sampai saat ini," sambungnya sambil menitikkan air mata.

Sebagai perempuan pertama yang ditahbiskan sebagai praeses di HKBP, ia merasa bangga dan memiliki tanggung jawab besar melanjutkan perjuangan almarhum.

"Dengan bangga, saya mengatakan dari kalangan pelayanan pendeta perempuan, sayalah yang pertama perempuan yang pertama jadi praeses di tengah-tengah Gereja HKBP," sambungnya.

Lebih lanjut, ia juga menuturkan perjalanan pelayanannya sebagai Pendeta di kalangan HKBP. Tugas melayani sebagai seorang pendeta ia peroleh melalui jabatan yang ia pangku.

Hingga saat ini, ia masih menduduki jabatan pelayanan sebagai Kepala Departemen Diakonia HKBP hingga tahun 2024 mendatang.

"Saya terpilih jadi praeses pertama perempuan di tahun 2008 sampai 2021, kemudian terpilih pada tahun 2012 hingga tahun 2016 dan pada tahun 2016 saya terpilih menjadi Kepala Departemen Diakonia pada tahun 2016.terpilih kembali hingga periode kedua sebagai Kadep Diakoia pada tahun 2020 hingga tahun 2024," ungkapnya.

Sehingga, ia mengatakan bahwa almarhum adalah inspirasi serta motivasi baginya.

"Semua itu, motivasi, inspirasi dari Oppui Ephorus Pendeta SAE Nababan yang terus menerus menggalakkan kepada kami perempuan bahwa kami, perempuan harus maju di dunia pendidikan di tengah-tengah Gereja HKBP," terangnya.

Ia menuturkan bahwa dirinya adalah perempuan pertama yang test sebelum ditahbiskan pada tahun 1983.

"Pada saat kepemimpinan Ephorus Emeritus Pendeta Dr SAE Nababan dari alumni 1983 lah yang pertama sekali untuk penerimaan pertama sekali calon pelayan. Itu betul-betul melalui test yang luar biasa sebelum kami ditahbiskan," lanjutnya.

Dalam test tersebut, ia mengatakan bahwa almarhum adalah seorang pemrakarsa penyajian ujian sebelum ditahbiskan sebagai pendeta.

"Beliaulah termasuk salah satu pemrakarsa untuk setiap yang mau menjadi Pendeta harus lebih dahulu menghadapi ujian untuk bisa ditahbiskan," ungkapnya.

"Di situ ada beberapa teman yang kalah dan itu adalah sesuatu yang menyakitkan karena itu pertama sekali," pungkasnya.

(cr3/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved