Breaking News

TRIBUNWIKI

SEJARAH Masjid Raya Al-Osmani, Dibangun Pada Masa Kesulthanan Deli, Sudah Alami Renovasi

Masjid ini belum pernah mengalami kerusakan total akibat gejala alam, walaupun pernah terjadi gempa yang cukup dahsyat tahun 2004

Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/AHKCYAR GIANTORO
Masjid Raya Al Osmani, di Jalan KL Yos Sudarso, Km, 19,5, Labuhan, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, hari Kamis (28/2/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN – Masjid Raya Al-Osmani merupakan masjid yang dibangun pada tahun 1854 oleh Kesultanan Deli yang ketujuh, yaitu Sultan Osman Perkasa Alam. 

Lokasinya saat ini berada di Jl. Kol Yos Sudarso, Km. 19,5 Labuhan, Kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan.

Diberi nama Masjid Raya Al-Osmani karena dilatar belakangi oleh nama pendirinya yaitu Sultan Osman Perkasa Alam

Baca juga: PENAMPILAN Mulan Jameela Saat Kenakan Gaun Mewah Khas India Bikin Pangling, Begini Penampakannya

Saat pertama dibangun, masjid ini berukuran 16x16 meter dan masih terbuat dari kayu.

Tujuan sultan membangun masjid saat itu adalah untuk merajut hubungan silaturahim antara rakyat dengan kesultanan.

Masjid Raya Al Osmani
Masjid Raya Al Osmani (Tribun Medan)

Sultan juga menginginkan pembentukan mental masyarakat melayu harus bersumber dari rumah ibadah, sehingga rumah ibadah itu dapat dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan sumber merajut ukuwah islamiyah.

Setelah Sultan Osman mangkat, maka kepemimpinan Kesultanan Deli digantikan oleh anak kandung beliau yaitu Sultan Mahmud Al Rasyid Perkasa Alamsyah (Sultan Kedelapan)

Dimasa kepemimpinan Sultan Mahmud sekitar tahun 1870 Masjid Raya Al-Osmani direnovasi, yang tadinya terbuat dari kayu, menjadi bangunan permanen seperti sekarang.

Selain itu, ukuran masjid pun diperluas menjadi 26x26 meter.

Baca juga: Ingat Mbak You? Ramalannya Soal Bencana Gempa Sempat Bikin Geger, 3 Wilayah Terancam Amblas,Percaya?

“Hal ini terjadi karena populasi masyarakat melayu dimasa Sultan Mahmud sudah semakin berkembang, sehingga dianggap perlu memperluas ukuran masjid agar semakin banyak masyarakat melayu yang bisa beribadah disitu dan melaksana  kegiatan lainnya,” tutur Ketua Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Raya Al-Osmani, H. Ahmad Faruni.

Bangunan masjid ini pun memiliki ciri khas dan nilai arsitektur yang kental dengan kebudayaan eropa, timur tengah, hindia, cina, kemudian melayu deli.

Bagian samping Masjid Raya Al-Osmani
Bagian samping Masjid Raya Al-Osmani (TRIBUN MEDAN/DIAN)

“Khas eropanya adalah bangunan yang berbentuk minimalis, timur tengahnya, kalau kita perhatikan sisi luar bangunanannya, setiap tiang ada diatasnya seperti bulatan ladam kuda, itu persis seperti masjid-masjid d itimur tengah, makkah dan madinah.

Kemudian hindia nya kita bisa melihat ruangan utama masjid ini persis seperti bangunan Tajmahal di india, ada lengkukan besar dibawah menguncup diatas, cina nya bisa dilihat dari pintunya, dan terakhir melayu delinya yaitu warna kuning yang dipadu dengan hijau keislaman,”jelasnya.

Renovasi ini dilatar belakangi oleh Sultan Mahmud Perkasa Alam (Sultan Kedelapan) yang saat itu menginginkan masjid ini direnovasi dengan bentuk yang unsurnya bervariasi, agar masjid ini tidak terlihat kuno saat itu.

Beliau pun memanggil arsitektur dari jerman saat dan mempercayainya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved