Paralayang di Bukit Singgolom, Balige Bisa Jadi Pilihan Habiskan Weekend

Kegiatan paralayang ini pun membuat adanya komunikasi antara kawasan Singgolom dan Pakkodian yang ada di bawahnya.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS
Paralayang di Bukit Singgolom 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Satu hal baru di Bukit Singgolom yang ada di Desa Lintong Nihuta, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba adalah adanya aksi paralayang.

Aksi para paralayang ini bisa membius para pengunjung yang tengah berada di kawasan tersebut. 

Bukit Singgolom memiliki hamparan rumput yang luas yang membuat persiapan parasut bagi paralayang bisa berjalan dengan baik. 

Angin yang berhembus dari perairan Danau Toba pun menambah sejuk di atas bukit tersebut manakala terpaan matahari mulai memanas. 

Kegiatan paralayang kini membuat kawasan Bukit Singgolom menjadi ramai. 
Kegiatan paralayang kini membuat kawasan Bukit Singgolom menjadi ramai.  (TRIBUN MEDAN/MAURITS)

Menurut paralayang Liber Pardede, paralayang mengambil posisi take off di kawasan Singgolom dan landing di Pantai Pakkodian yang merupakan dataran rendah yang berada di tepi Danau Toba. 

“Saat berada di atas, rasanya damai dan bisa melihat secara jelas bagaimana keindahan Danau Toba dan kawasan yang ada di pinggiran danau itu,” ujarnya pada Sabtu (17/4/2021). 

Baca juga: Julius Raja Sebut Sehabis Lebaran PSMS Medan Kedatangan Pemain Bintang

Selain merasakan kedamaian, ia juga merasakan ketenangan, namun ia juga merasa cemas saat take off. 

“Cuman kalo tiba tiba angin berubah, atau dapat thermal kaget pasti karena kadang parasut serasa tersentak. Intinya saat di atas itu, aku cuman merasakan relasiku dengan dunia,” sambungnya. 

Hingga saat ini, tontonan paralayang itu sekali dalam dua minggu.

Walaupun demikian, itu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.

Mulai dari anak hingga orang tua dapat melihat secara langsung bagaimana gestur di kawasan Danau Toba dapat dioptimalkan melalui kegiatan edukatif. 

Baca juga: Ditinggal Suami, Wanita Ini Nekat Edarkan Sabu demi Biayai Hidup Anak-anaknya

“Kita terbang pada hari Sabtu atau Minggu, sekali dalam dua minggu, karena kita juga harus menyesuaikan dengan jam terbang di Huta Ginjang,” tuturnya. 

Ternyata kenikmatan paralayang seakan tertular bagi para pengunjung yang tengah berada di kawasan tersebut.

Seorang pengunjung di kawasan tersebut Samuel Tambunan (43) menuturkan bahwa kegiatan paralayang membuat kawasan Bukit Singgolom sangat dekat dengan para pengunjung. 

“Ini kan pertanda bahwa kawasan ini benar-benar bersahabat dengan masyarakat maupun pengunjung ke kawasan ini.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved