News Video

Gemilang Cahaya Keemasan Masjid Al-Osmani di Malam Hari

Masjid Al Osmani yang awalnya berbahan kayu-kayu pilihan saat ini sudah semakin megah dan dihiasi cahaya gemerlap.

Penulis: Dedy Kurniawan |

Laporan Wartawan Tribun Medan / Dedy Kurniawan

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Berpadukan lima unsur arsitektur Timur Tengah, India, Eropa, Tiongkok dan Melayu, Masjid Al Osmani masih berdiri megah sebagai bukti kejayaan Islam. Masjid bersejarah ini sudah berdiri sejak 1854 atau 167 pada tahun 2021.

Masjid Al Osmani yang awalnya berbahan kayu-kayu pilihan saat ini sudah semakin megah dan dihiasi cahaya gemerlap.

Lokasinya di Jalan KL Yos Sudarso, Kelurahan Pekanlabuhan, Kecamatan Medanlabuhan, Kota Medan, Sumatera Utara.

Masjid Al-Osmani menjadi saksi sejarah pusat peradaban Islam. Dan sekaligus saksi peninggalan bersejarah pemerintahan Raja Deli Ketujuh, Sultan Osmani Perkasa Alam, sebelum berpindah pusat pemerintahan dipindah ke Istana Maimon, Medan.

"Arsitektur masjid ini sangat kaya dan beragam. Masjid awalnya masih berbahan kayu, dibangun Raja Deli ketujuh, Sultan Osman Perkasa Alam.

Awalnya hanya rumah panggung dari kayu. Kemudian dibangun oleh anaknya langsung, dengan memadukan arsitektur ala Timur Tengah, India, Eropa, Tiongkok, dan Melayu," kata Ketua Pengurus Masjid Ustaz Haji Ahmad Fahruni kepada Tribun Medan.

Khas Tiongkok bisa dilihat dari motif pada pintu-pintu masjid, khas Eropa ada pada bagian ornamen dan tiang-tiang penyanggah, khas India ada pada bagian dalam masjid dan kubah. Lalu, khas Timur Tengah ada pada bagian ornamen dalam masjid, sedangkan khas melayu dari sisi warna kuning dan hijau yang menyelimuti indah warna dinding-dinding masjid.

"Kuning keemasan ini khasnya, melambangkan kemuliaan dan keagungan. Hijau warna adalah simbol Islam dan kedamaian," katanya.

Warna hijau dalam literasi Islam memang beberapa kali disebutkan di Al-Qur'an-firman Allah yang Maha Esa. Di antaranya, dalam surah Al-Insan ayat 21, tertulis 'Mereka (penghuni) di dalam surga memakai pakaian Hijau yang terbuat dari sutera halus dan sutera tebal (yang berketat), serta mereka dihiasi dengan gelang-gelang tangan dari perak dan mereka diberi minum oleh Tuhan mereka dengan sejenis minuman (yang lain) yang bersih suci'.

Dikisahkan Ustaz Ahmad Fahruni, awalnya, masjid ini menjadi tempat ibadah umat Islam, dan sarana berkumpul antara raja dan rakyatnya. Di masjid lah ini jadi muasal persebaran ilmu pengetahuan, ilmu Islam, dan peradaban di kawasan rumpun Melayu, Labuhan Deli.

Seiring perkembangan zaman dan penduduk, bangunan masjid dibangun dan diluaskan oleh Raja Deli Kedelapan, Sultan Deli Mahmud Perkasa Alam, pada medio 1870-hingga 1872. Beliau adalah putra kandung Sultan Osman Perkasa Alam.

"Saat ini masjid ini sudah beberapa kali mengalami pembangunan, tanpa kehilangan esensinya.Bahkan kubahnya ini diduplikat dengan kubah hitam yang ada di Istana Maimun. Pernah dibangun lagi oleh anak Raja Osmani Perkasa Alam langsung hingga seperti saat ini," kata Ustaz Ahmad Fahruni.

Masjid yang berusia ratusan tahun ini memiliki kapasitas menampung 1.000 lebih. Jemaah bahkan bisa salat pada bagian teras-teras yang disanggah tiang-tiang kokoh dan terbuka langsung dengan alam sekitar masjid.

Masjid ini juga sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Masyarakat yang berkunjung juga diperolehkan berziarah ke makam-makam para raja dan keturunan kesultanan yang berada di sekeliling halaman masjid.

(Dyk/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved