TRIBUNWIKI

5 Makanan Khas Suku Karo Yang Unik dan Ekstrim

Terites biasanya dijumpai pada perayaan besar seperti kerja tahun ataupun pesta adat lainnya.

Editor: Ayu Prasandi
HO
Terites 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Setiap daerah memiliki makanan tradisional yang unik, sama halnya dengan Suku Karo yang punya begitu banyak makanan tradisional unik.

Tidak hanya unik, 5 makanan ini juga memiliki cita rasa yang nikmat dan sering diincar oleh wisatawan.

1. Terites

Terites
Terites (HO)

Terites atau Pagit-pagit makanan khas Suku Karo yang terbilang unik.

Pasalnya, bahan pokok pembuatan Terites adalah jeroan atau rumput yang terdapat pada perut besar Sapi, Kerbau, atau pun Kambing. 

Tentu saja rumput ini masih segar, karena ketika kerbau atau sapi memakan rumput, maka rumput yang baru di mamah di mulut akan ditelan dan dimasukan kedalam lumbung penyimpanan (perut besar). 

Bahan tersebut kemudian dimasak bersama sayuran serta rempah-rempah, dan daging.

Terites biasanya dijumpai pada perayaan besar seperti kerja tahun ataupun pesta adat lainnya.

Terites memiliki aroma dan rasa yang unik dan biasanya dimasak oleh orangtua yang sudah berpengalaman.

Baca juga: Dishub Sediakan 6 Lokasi Titik Parkir saat Launching Medan Sebagai The Kitchen Of Asia

2. Cimpa Matah

Cimpa Matah
Cimpa Matah (HO)

Makanan satu ini masih eksis di masyarakat Karo, cimpa matah selalu ada dalam setiap pertanyaan atau acara adat.

Seperti namanya 'Cimpa Matah' yang artinya Kue mentah.

Ya, makanan satu ini tidak dimasak menggunakan api, proses pembuatannya sepenuhnya menggunakan tenaga tangan. 

Makanan satu ini, biasanya menjadi cemilan saat sanak keluarga bertandang ke rumah dalam suatu acara adat.

Bahan-bahan pembuatannya pun sederhana yakni tepung beras, gula merah, kelapa parut, serta garam.

Cimpa Marah biasanya memiliki dua warna yakni putih dan coklat muda, cimpa berwarna putih didominasi rasa  asin san gurih sementara yang berwarna coklat muda rasanya manis.

Baca juga: Skuat PSMS Masih 20 Pemain, Manajemen Sudah Berniat Coret Satu Pemain Lagi

3. Cipera

Cipera
Cipera (HO)

Merupakan makanan khas suku Karo yang diolah dari daging ayam kampung dan tepung jagung.

Meski kerap disajikan, saat pesta adat masyarakat Karo, namun kini makanan yang memiliki aroma yang khas ini dapat jumpai di beberapa rumah makan khas Karo di Berastagi dan Medan.

Cipera ini biasanya disantap dengan nasi hangat, rasa gurih cipera berasal dari tepung jagung serta bumbu lainnya seperti santan, buah asam cikala, kunyit, bawang, serai, cabai, kemiri, tomat dan lainnya.

Baca juga: Sandiaga Uno Akan Salat Berjamaah Bersama Wali Kota Medan di Masjid Lama Gang Bengkok

4. Gula Tualah

Gula Tualah
Gula Tualah (HO)

Cemilan lezat satu ini wajib kamu beli saat bertandang ke kota Berastagi.

Biasanya di hari Sabtu atau Minggu, ada saja pedagang yang menjajakan makanan ini di pajak Berastagi.

Gula Tualah yang dalam bahasa Indonesia adalah Gula Kelapa merupakan makanan tradisional Khas Karo yang memiliki rasa manis yang gurih.

Gula Tualah terbuat dari Campuran kelapa muda dan air nira manis.

Biasanya gula tualah dimasak secara tradisional yakni menggunakan tungku api ranting kayu.

Kemudiam dicetak dan didinginkan lalu di kemas menggunakan daun nira. 

Dengan cita rasa yang manis dan legit.

Gula Tualah biasanya, diolah tanpa menggunakan pengawet dan pemanis buatan. Manis alaminya berasal dari rasa manis nira yang unik.

Harganya juga cukup terjangkau hanya dengan Rp 10 ribu saja kamu sudah bisa menyantap tiga keping Gula Tualah. 

Baca juga: SOSOK Profil Francis Ngannou, Dulu Tukang Ojek, Kini Jadi Superstar UFC

5. Kidu-Kidu

Kidu-Kidu
Kidu-Kidu (HO)

Makanan satu ini juga terbilang ekstrim, dan sudah cukup langka ditemukan. 

Kidu adalah makanan khas Suku Karo yang berbahan dasar ulat.

Ulat yang diambil bukan sembarangan, namun ulat yang berasal dadi pohon enau atau pohon aren yang telah membusuk. 

Ulat ini bewarna putih dengan kepala kecoklatan, dengan ukuran yang cukup besar, ulat ini kaya akan protein serta dipercaya masyarakat Karo yang memiliki banyak khasiat dan manfaat untuk kesehatan.

Cara pengolahan kidu-kidu cukup sederhana.

Setelah dibersihkan biasanya ulat sagu digoreng sampai renyah.

Kemudian campur dengan bumbu dapur seperti bawang merah, bawang putih, tomat, cabai, dan garam.

Tidak hanya itu, Ulat sagu juga dapat diolah dengan bumbu arsik khas Karo.

Serta dimasak sesuatu dengan selera masing-masing keluarga.

Konon Kidu adalah makanan favorit raja-raja di Karo kemudian diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Karo.

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved