China Punya Rudal Supersonik Antikapal, Indonesia Juga tak Kalah, Simak Alat Canggih yang Kita Punya
China dikabarkan sudah memiliki alat tempur canggih berupa rudal supersonik antikapal. Dan Indonesia juga punya alat canggih
TRIBUN-MEDAN.com-China dikabarkan memiliki alat tempur canggih untuk pertahanan negaranya.
Adapun alat canggih yang dimiliki China saat ini berupa peluru kendali (rudal) yang mampu menghancurkan kekuatan musuh.
Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) baru-baru ini mengelar serangkaian latihan militer yang menampilkan dua kapal perusak kelas Sovremenny buatan Rusia.
Baca juga: Produsen Jet Tempur Rafale Bertemu Anak Buah Prabowo, Indonesia Positif Beli 36 Jet Tempur Rafale?
Sekelompok kapal perang Angkatan Laut Komando Teater Timur PLA mengadakan patroli dan latihan tempur di wilayah laut yang dirahasiakan, navy.81.cn, situs berita Angkatan Laut PLA melaporkan.
Yakni, kapal perusak berpeluru kendali Type 052D Taiyuan, kapal perusak berpeluru kendali kelas Sovremenny Hangzhou dan Ningbo, dan fregat berpeluru kendali Type 054A Zhoushan.
Hangzhou, yang menjalani modernisasi pada 2015 dan menyelesaikan peningkatan di akhir 2019, terlihat dari dekat secara detail dalam serangkaian foto yang dirilis navy.81.cn, seperti dikutip Global Times.
Baca juga: Lagi-lagi TNI Gagalkan Agresi Israel ke Libanon, Tiga Tank Merkava Putar Balik, Ini Kronologinya
Ini adalah pertama kalinya Angkatan Laut PLA menunjukkan peluncur rudal anti-kapal supersonik YJ-12 yang baru dipasang di Hangzhou, demikian Passion News melaporkan, seperti dilansir Global Times.
Kepada Passion News, Yin Zhuo, pakar angkatan laut, mengatakan, rudal YJ-12 hampir tidak mungkin untuk dicegat karena kecepatannya yang cepat hanya menyisakan musuh sekitar 10 detik untuk mencoba mencegat.
Sebagai bagian dari program modernisasi untuk meningkatkan kemampuan kapal perusak yang dikirim Moskow pada 1999, sebanyak delapan rudal anti-kapal YJ-12 terpasang menggantikan delapan rudal Sunburn buatan Rusia.
Lalu, sistem peluncur rudal vertikal 32 unit untuk rudal pertahanan udara HQ-16 terpasang menggantikan dua set sistem rudal pertahanan udara Shtil. Dan, sistem elektronik kapal perang juga ditingkatkan secara komprehensif.
Baca juga: DIPERKENALKAN Kota Rudal Milik Iran, Berisi Peralatan Perang Super Canggih, Arab Saudi Ketar-ketir
Modernisasi kapal perusak kelas Sovremenny dengan senjata dan peralatan canggih buatan China secara signifikan meningkatkan kemampuan tempur kapal perang itu, seorang pakar militer China tanpa mau menyebut nama mengatakan kepada Global Times.
China membeli empat kapal perusak kelas Sovremenny, Hangzhou pada 1999, Fuzhou pada 2000, Taizhou pada 2005, dan Ningbo pada 2006.
Menurut eastday.com, Hangzhou dan Fuzhou adalah varian 956E sedang Taizhou dan Ningbo varian 956EM.
Bila China punya alat tempur canggih, Indonesia juga punya alat tempur yang tak kalah hebat.
Menilik dari laporan sebelumnya, Pemerintah Indonesia berencana akan mendatangkan sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) modern.
Baca juga: Rudal Trident Inggris Bisa Hancurkan Rusia dan China Bersamaan, Bisa Menjangkau Penjuru Dunia
Alutsista yang dimaksud antara lain pesawat multi-role combat aircraft F-15 EX, serta jet tempur Dassault Rafale.
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Fadjar Prasetyo menyatakan, pihaknya akan membeli peswat tempur secara bertahap hingga tahun 2024.
”Mulai tahun ini hingga 2024 kita akan segera merealisasikan akuisisi berbagai alutsista modern secara bertahap,” kata Fadjar dalam keterangan resminya saat berpidato di Rapim TNI AU di Mabes TNI AU, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (19/2/2021).
F-15 EX merupakan pesawat pabrikan Boeing, Amerika Serikat (AS).
Pesawat ini merupakan versi paling baru dari F-15 dan disebut yang paling canggih.
Pesawat ini dilengkapi sistem peperangan elektronik Eagle Passive/Active Warning and Survivability System.
Baca juga: INILAH Target Invasi China di Taiwan, Pantas China Rutin Kerahkan Puluhan Jet Tempur dan Pembom
Kemampuan tersebut berguna untuk meningkatkan efektivitas misi dan kemampuan bertahan bagi operator.
Sebagaimana dilansir dari situs Boeing, F-15EX menyelesaikan penerbangan pertama pada 2 Februari 2021.
Varian modern dari F-15 ini juga mencakup kontrol penerbangan fly-by-wire, kokpit digital baru, radar AESA modern dan ADCP-II, dan diklaim beroperasi dengan komputer misi tercepat di dunia.
Boeing menjelaskan produknya ini mengantongi sertifikasi pengangkutan senjata yang tak tertandingi, dan izin muatan memungkinkan pengangkutan senjata canggih yang tidak dapat dibawa di teluk internal seperti senjata hipersonik.
Baca juga: SEHARI China Kirim 8 Pesawat Pembom Nuklir 4 Jet Tempur Terobos Zona Udara Taiwan, Tanda Invasi?
Boeing juga mempromosikan kecanggihan radar dan sensor jet tempur F-15EX, di mana menghadirkan rangkaian peperangan elektronik terintegrasi untuk memberikan spektrum perlindungan penuh sambil memungkinkan keterlibatan dominan dari ancaman baru dan yang muncul.
Masih dari situs Boeing, F-15EX diklaim menampilkan kokpit abad ke-21, menyediakan akses waktu nyata terkait informasi medan perang dan meningkatkan pemahaman pilot tentang lingkungan mempercepat pengambilan keputusan saat bertempur.
Terakhir, Boeing menyebut F-15EX menghadirkan arsitektur Sistem Misi Terbuka untuk memungkinkan penyisipan, teknologi digital yang cepat.
Adapun Dassault Rafale adalah jet temput buatan Perancis.
Baca juga: Beredar Video Drone Misterius yang Sanggup Bom Tank Merkava Israel, Belum Diketahui Asli atau Palsu
Dilansir dari situs resminya, pesawat ini memiliki kapabilitas 'Omnirole'.
Rafale juga dapat berperan dalam misi permanen 'Peringatan Reaksi Cepat' pertahanan udara atau kedaulatan udara.
Dassault Rafale diklaim mampu sebagai proyeksi kekuatan dan penyebaran untuk misi eksternal, misi serangan dalam, dukungan udara untuk pasukan darat, misi pengintaian, serangan pelatihan pilot, dan tugas pencegahan nuklir .
Dassault menyebut Rafale dilengkapi keserbagunaan, yaitu kemampuan dengan sistem yang sama untuk melakukan misi yang berbeda, interoperabilitas atau kemampuan untuk bertarung dalam koalisi dengan sekutu, menggunakan prosedur umum dan perjanjian standar, serta berkolaborasi dan berkomunikasi secara real-time dengan sistem lain.
Rafale juga diklaim baik unjuk kekuatan di ketinggian rendah, kecepatan tinggi yang dissuasive), atau bahkan membatalkan misi sampai detik terakhir (reversibilitas).
Terkait harga, hingga saat ini belum ada keterangan resmi berapa harga kontrak pengadaan F-15 EX maupun Dassault Rafale.
Di Amerika Serikat sendiri nilai kontrak pengadaan pesawat tersebut masih jadi tanda tanya.
Menurut laporan Air Force Magazine, biaya per unit F-15EX dalam kontrak yang baru dibuat Angkatan Udara AS mencapai sebesar US$87,7 juta atau sekitar Rp1,2 triliun (kurs Rp14.010 per dolar AS).
Namun hal tersebut dibantah Wakil Presiden Boeing dan Manajer Program F-15 Prat Kumar.
Dalam wawancaranya kepada Forbes, ia mengatakan US$87,7 juta adalah angka yang dipublikasikan dalam pengajuan anggaran kepada Presiden AS untuk 2021.
"Ini bukan nomor kontrak," kata dia.
Sementara dalam wawancara terpisah, seorang juru bicara Angkatan Udara berkata US$87,7 juta merupakan perkiraan biaya per unit pesawat.
"Sesuai dengan permintaan anggaran Departemen Angkatan Udara (DAF) 2021, perkiraan biaya unit pesawat terbang adalah US$87,7 juta," ucapnya.
Berbeda dengan F-15 EX, biaya pengadaan Dassault Rafale dilaporkan lebih mahal.
Baca juga: Setelah Jet Tempur F-16 Taiwan Hilang Pilotnya Belum Ditemukan, Kini Giliran Teknisinya Bunuh Diri
Melansir Aircrafts Compare, untuk per unit Rafale Indonesia mesti merogoh kocek sebesar US$115 juta atau sekitar Rp1,6 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS).
Hal serupa dikonfirmasi Defence Industry Daily yang menyebut kalau satu unit pesawat ini dihargai lebih dari 100 juta euro.
Sejumlah negara dikabarkan telah membeli jet tempur tersebut di antaranya India, Libya, Inggris, dan Swiss.
Terbaru, portal defense news melaporkan Menteri Pertahanan Yunani menandatangani kontrak pengadaan 18 jet tempur Rafale dengan kesepakatan nilai US$ 3,04 miliar awal Januari lalu.
Baca juga: Arogannya Pilot China saat Dicegat Jet Tempur Taiwan, Habiskan Rp 13 Triliun Mengusir Penyusup
Merujuk dokumen Rapim TNI 2021 beberapa waktu lalu, Indonesia rencananya akan memboyong 36 unit Rafale dan 8 unit F-15 EX.
Harapannya, 6 unit F-15 EX sudah tiba di Tanah Air sebelum 2022.
Selain dua alutsista tersebut, TNI AU juga membidik pesawat berupa multi role tanker transport dan pesawat angkut Hercules jenis C-130 J.
Tak hanya itu, ada juga Radar GCI3, pesawat berkemampuan airborne early warning, UCAV berkemampuan MALE dan berbagai alutsista lainnya.
"Kita juga akan melaksanakan modernisasi berbagai pesawat tempur TNI AU, yang pelaksanaannya akan dimulai pada tahun ini," kata Fadjar.
Baca juga: Tank TNI Melaju Kencang tak Terkendali Lindas Gerobak dan Sepeda Motor, Begini Kronologisnya
Incaran Prabowo
Jet tempur F-15 EX buatan Boeing dan Rafale memang sudah lama jadi incaran Menteri Pertahanan Prabowo Subianto.
Pada 2020 silam, Prabowo sempat berkeliling melakukan penjajakan untuk akuisisi alutsista ke berbagai negara termasuk jet tempur AS dan Perancis.
KSAU Marsekal Fadjar Prasetyo menyebutkan, Prabowo telah berupaya melaksanakan diplomasi pertahanan dengan sejumlah negara sahabat.
Diplomasi ini guna mempercepat proses pembangunan kekuatan TNI, salah satunya belanja alutsista mutakhir.
Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Rudal Supersonik AntiKapal Milik China, Musuh Cuma Punya Waktu 10 Detik Mencegatnya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rudal-supersonik-antikapal.jpg)