Cerita Seleb

Nasib Jennifer Jill, Perusahaan Tambang Mendiang Suaminya Bangkrut, Ajun Perwira Tak Kecipratan

Max Armand mewariskan kekayaan berlimpah kepada Jennifer Jill dan anak-anaknya. Max Armand ternyata mantan pembalap gokart nasional.

instagram
Pernikahan Ajun Perwira - Jennifer Jill dan Maxwell Armand -Nasib Jennifer Jill, Perusahaan Tambang Mendiang Suaminya Bangkrut, Ajun Perwira Tak Kecipratan 

"Nggak. Halo ini punya suami gue, sorry bukan suami gue, almarhum suami ayahnya anak-anak," ungkap Jennifer.

"Jadi apapun itu, semuanya gue siapkan untuk anak-anak," jelasnya.

Seperti saat dirinya menjual salah satu properti milik mendiang suaminya belum lama ini.

Saat laku terjual, Jennifer Ipel pun membagi hasil penjualan kepada keempat anaknya.

Sayangnya, pada awal tahun 2020, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk dinyatakan bangkrut hingga harus ditendang dari Bursa Efek Indonesia.

Ketika itu, dalam keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen perusahaan, kinerja keuangan 2018 justru “terjun bebas” dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Dalam keterbukaan informasi pada Selasa (11/2/2020), Borneo Lumbung Energi mencatatkan kerugian sebesar US$ 46,59 juta pada 2018, turun drastis dari perolehan laba bersih sebesar US$ 34,32 juta pada 2017.

Penurunan laba tersebut disebabkan berkurangnya secara drastis pendapatan bersih perusahaan dari US$ 241,7 juta menjadi US$52,7 juta.

Di sisi lain, jumlah kewajiban naik tipis dari US$1,7 miliar menjadi US$ 1,72 miliar. Sedangkan aset justru turun dari US$ 989 juta menjadi US$ 957 juta.

Kinerja nan tak moncer ini juga yang jadi pertimbangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (20/1) resmi menghapus pencatatan sham PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN).

Perusahaan tambang terintegrasi itu dinyatakan delisting per Jumat (17/1) atau emiten pertama yang dihapus pencatatannya dari bursa pada tahun ini.

Pengumuman potensi delisting ini diikuti oleh pengumuman penghapusan pencatatan pada 10 hari kemudian. Menurut Bloomberg, transaksi terakhir saham BORN adalah pada 29 Juni 2015 dengan harga Rp 50 per saham.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis BEI, penghapusan saham BORN menyusul penghentian perdagangan saham (suspend) Borneo sejak 4 Mei 2015.

Penghentian perdagangan saham kembali diberlakukan di pasar negosisi pada 9 Mei 2019.

Alasan BEI menghapus pencatatan saham BORN adalah perusahaan mengalami kondisi atau peristiwa yang secara signifikan berpengaruh terhadap kelangsungan usaha baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status perusahaan tercatat sebagai perusahaan terbuka.

Di luar itu, perusahaan tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

(*/ tribunmedan.id)

Sumber: Fotokita

Sumber: Grid.ID
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved