Pelantikan Wali Kota Medan

Rekam Jejak Akhyar Nasution, Wali Kota dengan Masa Jabatan Tersingkat di Indonesia

Akhyar menjabat dengan masa kerja tak sampai satu minggu yakni sampai 17 Februari 2021.

Mustaqim / Tribun Medan
AKHYAR Nasution yang ditemui di Rumah Dinas Gubernur Sumut, Jalan Sudirman Medan, Jumat (22/1/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Nama Akhyar Nasution tak lagi asing di telinga warga Kota Medan. 

Lelaki yang sempat menjadi Wakil Wali Kota Medan bersama Dzulmi Eldin itu kini resmi menjadi Wali Kota Medan definitif.

Akhyar menjabat dengan masa kerja tak sampai satu minggu yakni sampai 17 Februari 2021.

Akhyar dilantik langsung oleh Gubernur Edy Rahmayadi pada Kamis (11/2/2021) siang di Aula Tengku Rizal Nurdin, di Rumah Dinas Gubernur, Jalan Sudirman Kota Medan.

Sebelumnya pada akhir 2019, Akhyar diangkat menjadi Pelaksana Tugas Wali Kota Medan setelah Dzulmi Eldin ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus suap proyek yang terbukti memperkaya aset pribadinya.

Pada 15 Oktober 2020, Surat Keputusan pemberhentian Dzulmi Eldin sebagai Wali Kota Medan resmi dikeluarkan.

Dzulmi Eldin diberhentikan secara tidak hormat dari jabatan Kepala Daerah, karena terbukti melakukan praktik korupsi.

Meskipun jabatan wali kota sudah kosong sejak beberapa bulan lalu, pelantikan Akhyar baru dilakukan Februari dengan alasan yang tidak diketahui penyebabnya.

Berikut profil singkat Akhyar Nasution yang sudah resmi menjadi Wali Kota Medan sisa jabatan 2016-2021.

Akhyar Nasution lahir di Medan, 21 Juli 1966. Ia menempuh pendidikan di SD Negeri 060863/27 Kelurahan Brayan Bengkel, Kecamatan Medan Timur pada 1974 hingga 1980.

Kemudian melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 9 Medan atau sekarang SMP Negeri 11 Medan, Kelurahan Pulo Brayan Kota, Medan Barat, Medan pada 1980-1983 dan SMA Negeri 3 Medan pada 1983-1986.

Akhyar lalu melanjutkan pendidikan S1 jurusan Teknik Sipil di Universitas Sumatra Utara (USU) dan meraih gelar Sarjana Teknik pada 1988-1995.

Selama berkuliah, ia aktif menjadi anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Fakultas Teknik USU (1988-1995).

Setelah tamat kuliah, Akhyar sempat bekerja sebagai Karyawan PT Fajar Hamparan Mas (1995-2000).

Kemudian mulai masuk kancah politik dengan menjadi Ketua PAC PDI Perjuangan Medan Deli (1998-2002).

Akhyar menamatkan studi S2 Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan di USU dan meraih gelar Magister Sains (2000-2003).

Pada Pemilu 1999, Akhyar maju sebagai calon legislatif dan duduk sebagai Anggota DPRD Kota Medan periode 1999-2004.

Setelah tidak lagi duduk di legislatif, ia bekerja sebagai wirausaha.

Pada Pilwako Medan 2015, ia ditunjuk sebagai calon Wakil Wali Kota Medan mendampingi Dzulmi Eldin.

Akhyar juga sempat menjadi kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sejak 1994 sampai 2020.

Pada 1 Agustus 2020, kader senior PDIP itu resmi dipecat dari PDIP. Lewat Surat Keputusan yang ditandatangani Megawati Soekarnoputri dan Hasto Kristiyanto. 

Dirinya kemudian mencari dukungan partai oposisi. Partai Demokrat menyambutnya. Disertai dukungan PKS pada tanggal 29 Agustus 2020. 

Akhyar Nasution dan Salman Alfarisi resmi menjadi lawan Bobby Nasution dan Aulia Rahman.

Namun, pada akhirnya Akhyar harus berlapang dada mengakui kekalahan di Pilwalkot Medan dari menantu presiden okowi tersebut.

Akhyar Nasution-Salman Alfarisi (AMAN) kalah tipis, ia memperoleh suara 48 persen dari total suara atau selisih 4 persen dari paslon lawannya, Bobby-Aulia.(cr14/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved