Betsheba Simanjorang: Aku Ingin Merasakan Jadi Garda Terdepan di Wisma Atlet
Tapi aku tetap aja ingin merasakan rasanya jadi garda terdepan dan senang juga dengan tantangan baru aku berani saja.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
"Dokter itu kan tugas mulia, makanya salah satu cara untuk menerapkannya, aku ingin menjadi relawan. Soal risiko, yang aku tau pasti Alat Pelindung Diri (APD) di Wisma Atlet pasti terjamin. Setelah interview, langsung pengumuman aku lulus, besoknya langsung berangkat ke Jakarta," katanya.
Dikatakannya, orang tuanya tak langsung menyetujui kepergiannya ke Jakarta. Namun dengan penjelasan tepat, orang tuanya berusaha memahami keputusannya.
"Awal aku interview di Agustus, sebenarnya orang tuaku setuju saja. Tapi mungkin setelah enggak diterima dan mereka pikir pikir, ya apa yang aku kerjakan bahaya juga. Mereka bilang untuk apa sih menyerahkan diri saat semua orang menjauhkan diri dari virus itu. Tapi aku coba kasih pengertian lah sama orang tua supaya mereka juga bisa mengerti," katanya.
Baca juga: Jumlah OTG Masih Banyak di Medan, Satgas Covid-19 Imbau Cegah Penularan dengan 3M
Di sana, dokter dibagi per tim. Satu tim bisa 40 sampai 50 dokter dibagi ke berbagai tower yang ada di Wisma Atlet. Lalu dibagi tiga shift pagi, siang, dan malam. Satu dokter bertugas jaga tiga lantai, dimana satu lantai bisa 50 sampai 60 pasien.
"Kita setiap turun observasi semua pasien, kita lihat juga bagaimana sistem imun tubuhnya. Lalu kami juga mendampingi pemeriksaan untuk tanda vital, penciuman pasiennya apakah sudah membaik, selain itu juga kita juga memberikan motivasi. Kita ingatkan agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Pasiennya juga berjemur di pagi hari, kalau sore ada juga yang olahraga," tuturnya.
Dikatakannya dalam penanganan pasien Covid-19, harus ditingkatkan imun tubuhnya. Untuk itu dalam sesi edukasi dan motivasi, para dokter selalu menenangkan pikiran pasiennya satu per satu.
"Jadi kami selalu bilang ke pasiennya agar anggap aja sedang liburan. Enggak perlu khawatir yang lainnya karena kalau semakin cemas, kita kasih obat, obatnya juga enggak akan berfungsi dengan baik kalau sudah stres sendiri," katanya.
Ia mengatakan virus ini akan lebih berbahaya jika pasien memiliki penyakit penyerta. Jika ada pasien yang memiliki keluhannya berat dan enggak bisa ditangani oleh pasien umum akan dikonsultasikan kepada dokter spesialis.
"Jadi memang kita perhatikan pasien itu secara menyeluruh. Keadaan pasien itu jadi tanggung jawab kita," katanya.
Dikatakannya, selama bertugas, para dokter harus memakai dua lapis masker. Lalu lapisan pertama harus di plester rapat. Setelah itu pakai masker surgical dan di plaster juga. Selain itu pakai head cap (tutup kepala). Setelah terpasang itu semua di plaster biar tidak ada celah udara sedikit pun.
"Jadi di plester di daerah hidung, mulut, dan pakai baju hazmat yang di plester juga dari pinggir pipi. Awal aku pakai itu rasanya sesak sekali. Aku awalnya pikir bisa dilepas sesekali ternyata enggak. Makanya kita diwajibkan pakai pampers untuk buang air kecil. Karena kalau ditahan takutnya malah kena infeksi saluran kemih," katanya.
Untuk itu selama satu sampai dua jam sebelum dinas, kami enggak dianjurkan untuk minum. Jadi selama total sekitar delapan sampai sembilan jam para petugas medis tidak makan dan minum selama dinas.
"Itu bagi yang sanggup. Tapi kalau aku sebelum dinas wajib minum banyak karena enggak sanggup juga. Aku takut dehidrasi karena kalau sedang memakai APD lengkap sebenarnya sesak. Ada lagi handscoon dua lapis, pakai pelindung kaki dua lapis, lalu pakai sepatu boot lagi. Setelah itu pakai face shield lagi," katanya.
"Apalagi kalau lagi edukasi pasien, ngomong satu per satu. Jadi terasa sekali, setelah dinas pasti baju juga basah. Tapi dengan banyaknya pasien, delapan jam itu enggak terasa," lanjutnya.
Dikatakannya ada berbagai unit di Wisma Atlet. Pasien awalnya masuk ke triase penerimaan pasien, didata ulang, lalu masuk ke IGD untuk observasi pertama. Kalau pasien membludak hingga puluhan orang, ini bisa membuat situasi chaos karena jumlah dokter yang terbatas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/elisabet-betsheba.jpg)