Kasus Bayi Terkena HIV/AIDS Meningkat, Dokter Anak RS Hermina: Banyak Terjadi Saat Proses Melahirkan
Dokter Anak RS Hermina, dr Riri Virzan Putri, mengungkapkan bahwa penderita HIV/AIDS pada usia bayi biasanya tertular dari orang tua.
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Penyakit HIV/AIDS muncul di kota Medan sejak tahun 1992 dan kini terus mengalami peningkatan. Kini, tidak hanya orang dewasa yang terkena penyakit ini namun sudah menyerang anak-anak bahkan bayi.
Dokter Anak RS Hermina, dr Riri Virzan Putri, M.Ked (Ped), Sp.A (K) mengungkapkan bahwa penderita HIV AIDS yang masih kategori usia bayi biasanya tertular dari orang tua.
"Anak-anak dengan kondisi HIV ini rata-rata ditularkan oleh orang tuanya. Misalnya Bayi baru lahir tidak diketahui ibunya terkena HIV.
Terakhir anaknya terindikasi saat sudah mulai mencret, penyakit kulit, penurunan kondisi tubuh. Biasanya gejala ini akan ketahuan tergantung kondisi bayi, ada yang cepat ataupun lambat," ungkap Riri kepada Tribun Medan, Selasa (1/12/2020).
Riri menuturkan bahwa penularan bayi terkena HIV/AIDS biasanya terjadi pada proses melahirkan ataupun menyusui.
"Pas proses kelahiran karena kalau kita sudah tahu orangtuanya penderita HIV, kita biasanya melakukan operasi sesar dengan APD dengan itu bisa kita cegah anaknya tertular.
Namun ada kondisi orangtuanya tidak tahu terkena atau malu hingga akhirnya melahirkan spontan. Inikan berhubungan dengan darah dan luka, ibu juga menyusui bayinya, itulah yang terjadi penularan," ujarnya.
Lanjut Riri, ia juga mengatakan bahwa imunisasi untuk anak terkena HIV/AIDS perlu mendapat penanganan khusus. Hal ini lantaran imunisasi juga memiliki potensi untuk menambah kondisi buruk anak yang terkena HIV/AIDS.
"Kalau untuk anak terkena HIV/AIDS ini ada beberapa imunisasi yang tidak bisa diberikan ya karena akan menambah beratnya penyakit dan membuat imun menjadi lebih drop. Tapi untuk anak HIV harus ada obat yang dikonsumsi seumur hidup sama seperti orang biasa untuk mempertahankan daya tahan tubuh," jelas Riri.
Riri menegaskan bahwa kasus kematian anak penderita HIV/AIDS bukan karena virus HIV, tapi penyakit bawaan.
"Pasien meninggal bukan karena penyakit HIVnya tapi beberapa kumpulan penyakit akibat virus HIV, misalnya paru-paru atau masalah pencernaan. Itu yang buat daya tahan tubuh menurun," tuturnya.
Tambahnya, Riri menekankan agar masyarakat untuk dapat merangkul para penderita HIV/AIDS dengan cara tidak mengucilkan namun turut diberi semangat untuk dapat melakukan pengobatan.
"Penyakit ini benar tabu tapi bukan berarti kita menyingkirkan orangnya. Sanksi sosial ini sangat berpengaruh pada penderita ODH ini. Dia jadi malu dan takut untuk berbaur. Adanya edukasi terhadap HIV ini kita mendekatkan diri. Karena belum tentu dia terkena karena kesalahan dia sendiri, bisa saja tertular dari orang lain," ucap Riri.
(cr13/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dr-riri-virzan-putri.jpg)