Covid 19
Pelajaran dari Pandemi: tentang Semangat dan Kekuatan Kemanusiaan
Sangat banyak pula yang bergerak dalam senyap. Individu-individu yang memiliki semangat yang sama untuk membantu.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SEJARAH peradaban telah mencatat pandemi yang berulang. Bentuknya berbeda tapi akibatnya sama yakni ketercekaman dan ketakutan.
Orang-orang di Eropa punya kenangan kelam nun dari abad ke-6. Kenangan perihal ‘Sampar Justinian’, tatkala pandemi yang dibawa oleh kutu tikus menghabisi 40 persen penduduk Konstantinopel, Ibu Kota Kerajaan Romawi Timur. Dalam Ancient History Encyclopedia yang disusun John Horgan (2014), disebutkan bahwa awal mula pandemi adalah tikus-tikus hitam (Rattus rattus) yang menyusup di celah-celah tersembunyi di dasar dek kapal-kapal dagang pembawa gabah yang berlayar dari Asia.
Sampai tahun 750 Masehi, pandemi sampar atau pes ini telah menyebar dari Konstantinopel ke seluruh penjuru Eropa. Korban bergelimpangan. Perbandingan jumlah yang mati dan yang hidup waktu itu kurang lebih sama.
Hampir delapan abad berselang pandemi kedua datang. Dunia mengenalnya dengan banyak nama. Great Mortality, Great Plague, Great Pestilence, atau yang paling sohor, Black Death. Disebut demikian lantaran pada tingkat terparah sampai menjelang kematian, kulit penderita akan menghitam akibat pendarahan subdermal (di bawah kulit).
Black Death benar-benar mengguncang Eropa. Awalnya adalah pengejaran yang dilakukan pasukan Mongol terhadap para pembangkang dari Kota Tana (sekarang wilayah Genoa, Italia) pada tahun 1343. Pembangkang-pembangkang melarikan diri sampai ke Kaffa, satu kota pelabuhan yang indah di Semenanjung Krimea di Pantai Utara Laut Hitam (sekarang Theodosia, Republik Crimea; teritorial yang hingga hari ini masih diperebutkan Rusia dan Ukraina). Pembangkang bertahan di benteng dalam kota. Pasukan Mongol mengepung dan menggempur mereka.
Menurut John Kelly dalam The Great Mortality (2005), empat tahun berselang Kaffa jatuh dengan kekalahan pada kedua belah pihak. Tiada keindahan lagi yang tersisa. Kaffa tumbang. Pun para pembangkang dan pasukan Mongol. Sisanya kembali ke Genoa, sebagian ke Sicilia, sebagian menyeberang ke Eropa Selatan dan tanpa sadar telah menjadi pembawa bibit penyakit mengerikan. Maka pandemi pun merebak dalam tempo singkat.
Diperkirakan, sebanyak 30 persen dari total penduduk Eropa menemui ajal. Jika dikalkulasi, korban Black Death lebih banyak dari gabungan jumlah korban Perang Dunia I dan II. Angkanya di kisaran 200 juta.
Black Death mereda pada 1351. Namun pandemi tak berhenti. Pandemi-pandemi lain datang menghadirkan ketercekaman dan ketakutan yang tak kalah dahsyat.
Dari Kuba ke Meksiko di tahun 1520, pedagang budak dan penjelajah-penjelajah Spanyol tanpa sengaja membonceng Cacar (Smallfox) yang kemudian menggerus populasi warga dunia sebanyak 50 juta orang. Disusul Kolera (1817-1923; total korban 1 juta), Flu Spanyol (1918-1919; total korban 50 juta), juga Flu Asia dan Flu Hongkong (periode 1957-1958 dan 1968-1970; total korban 2 juta orang). Lalu muncul pula HIV/AIDS. Sejak kasus pertama terungkap di tahun 1981, pandemi ini telah membunuh lebih dari 35 juta orang dan terus bertambah sampai sekarang.
Memasuki era milenial, pandemi tetap datang dan pergi silih berganti. Mulai dari SARS (2002-2003), Swine Flu (2009-2010), Ebola (2014-2016), MERS (2015), sampai yang paling anyar, Covid-19.
Solidaritas
Begitulah Covid-19 menyelinap dan "hidup" di antara kita dan memaksa siapa pun untuk melakukan hal-hal yang bersifat paradoksal. Di satu sisi kita mesti menjaga jarak, menjauh dari orang lain minimal satu sampai satu setengah meter, tapi di lain sisi mesti tetap saling menguatkan. Masker dikenakan untuk menjaga diri sendiri sekaligus melindungi orang lain. Individual dan komunal di saat yang bersamaan. Kecenderungan yang boleh dikata tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah peradaban manusia.
Pendek kata, membingungkan! Begitu banyak informasi berseliweran. Begitu banyak analisis dan teori, yang satu dengan lainnya seringkali bisa saling bertolak belakang dan berubah dengan sangat cepat pula. Apa boleh buat. Pandemi Covid-19 datang sebagai mahluk asing yang buas, dan memang, tidak seorang pun di planet ini punya pengalaman menghadapinya, hingga –mau tak mau– segala daya upaya untuk melawan dilakukan dengan pendekatan coba-coba.
Meski begitu, ada hal lain yang bangkit nyaris secara dramatis pula. Manusia menunjukkan kekuatan alamiahnya yang terbesar: kemanusiaan itu sendiri. Manusia memiliki semangat solidaritas dan semangat inilah yang sekarang, dari hari ke hari, kian menguat.
Di luar gerakan yang dilakukan lembaga-lembaga pemerintah dan nonpemerintah, banyak prakarsa yang tumbuh di tengah masyarakat. Pembagian masker, cairan desinfektan, peralatan penyemprotan, alat pelindung diri, dan lainnya. Ribuan orang telah mendaftar dan kemudian bergerak sebagai relawan. Baik medis maupun nonmedis. Sangat banyak pula yang bergerak dalam senyap. Individu-individu yang tidak punya keterkaitan dengan lembaga, organisasi, atau komunitas apapun, tapi memiliki semangat yang sama untuk membantu.
Ghiffari Sakti Simatupang baru dua pekan membuka Akhirnya Coffee –kafe di Jalan Sei Putih, Medan, yang menyajikan aneka racikan kopi sebagai andalan– tatkala virus Corona mulai masuk dan menyerang Indonesia secara brutal. Dari nol kasus, pertambahan angka positif Covid-19 melesat sangat cepat. Korban berjatuhan dan seiring itu muncul berbagai isu liar yang menciptakan kepanikan-kepanikan.
"Jujur saja, saya juga ikut panik, dan bingung. Saya sempat menutup usaha," katanya.
Sepekan lebih Akhirnya Coffee tutup, Ghiffari memutuskan membukanya kembali. Dua poin jadi pertimbangan. Pertama, ia punya pegawai yang membutuhkan penghasilan.
"Saat itu sudah mau masuk (bulan) Ramadan, tak lama lagi lebaran, hari raya. Meski sedang dalam situasi tak menentu, saya tidak mau pegawai-pegawai saya menyambut hari besar itu dalam keprihatinan. Paling tidak.ada, lah, mereka mengantongi duit sedikit-sedikit," ujarnya.
Poin kedua, dia ingin ikut memberi sumbangsih dalam upaya memerangi Covid-19. “Waktu kafe tutup, saya berpikir bagaimana bisa tetap memutar roda bisnis sembari ikut berbuat sesuatu untuk membantu pemerintah menangani pandemi,” ucapnya.
Ghiffari menemukan satu jalan. Ia membuka layanan pemesanan via daring. Berbekal jejaring yang lumayan luas, terutama di kalangan anak muda, konsep Ghiffari berjalan mulus. Kopi-kopi racikan Akhirnya Coffee, dalam cangkir (cup) maupun botol, diantar kurir ke rumah-rumah warga Kota Medan yang saat itu sebagian besar mengisolasi diri dan menjalankan aktivitas pekerjaan dari rumah.
Roda bisnisnya berputar lagi. Seiring itu, Ghiffari mulai menjalankan niatnya untuk membantu pemerintah menangani Covid-19. Caranya?
"Saya bukan pekerja medis. Saya pebisnis kuliner. Di awal-awal masa pandemi, selain tenaga medis dan obat-obatan, yang sangat dibutuhkan juga makanan. Termasuk makanan bagi para petugas medis yang saat itu benar-benar tengah berjuang habis-habisan di rumah sakit," katanya.
Ghiffari kemudian mengirimkan 50 cangkir kopi racikan dan 50 porsi makanan secara gratis ke dua rumah sakit penanganan Covid-19 yang menjadi rujukan Pemerintah Provinsi Sumut yakni Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik dan RSU GL Tobing. Ia melakukannya tanpa putus selama dua pekan.
Memasuki pekan ketiga, sejumlah pihak yang mengetahui aksi Ghiffari tergerak ikut memberikan donasi.
"Ada dari kepolisian, dari kwartir Pramuka, dan beberapa instansi pemerintahan maupun perusahaan swasta. Tambahan dana ini membuat jumlah makanan dan minuman yang kami kirimkan jadi makin banyak. Kami pun sempat kirim ke beberapa rumah sakit lain yang juga merawat pasien-pasien Covid," ujar Ghifari seraya menambahkan aktivitas ini berlangsung selama kurang lebih dua bulan.
"Setelah dua bulan pemerintah sudah stabil, ya. Tata kerja dan tata kelola penanganan pandemi yang dilakukan, termasuk di rumah sakit, sudah jauh lebih baik. Ketersediaan makanan dan minuman juga tidak lagi menjadi kendala," katanya.
Sedikit Sama Dibagi
Irsan Mulyadi sedang duduk di beranda rumahnya di Jalan Tani Asli, Gang Samin, Kampung Lalang, Kecamatan Sunggal, Deliserdang, tatkala benaknya mendadak terusik oleh satu berita di sebuah situs yang baru saja ia baca. Berita tentang sejumlah keluarga prasejahtera yang mengeluhkan pembiayaan tambahan yang mesti dikeluarkan untuk internet lantaran anak-anak mereka terpaksa mengikuti sekolah secara daring.
Iya, terpaksa, lantaran memang inilah satu-satunya pilihan. Pandemi Covid-19 yang meraja dan telah memakan banyak korban, langsung maupun tak langsung, membuat pemerintah mengambil langkah ekstrem: seluruh aktivitas belajar dengan sistem tatap muka di sekolah (juga di kampus) ditiadakan. Diganti daring, lewat sejumlah aplikasi pertemuan virtual digital seperti Google Meets atau Zoom.
Di satu sisi, langkah ekstrem ini efektif dalam menekan laju pergerakan angka positif Covid-19. Tanpa aktivitas rutin di sekolah, potensi untuk membentuk kerumunan-kerumunan jadi berkurang. Tanpa kerumanan tidak ada interaksi, dan tanpa interaksi persentase kemungkinan virus menjangkiti makin kecil.
Namun di sisi lain muncul masalah baru. Indonesia bukan negara yang berada di jajaran terdepan dalam perkara kemudahan internet. Lembaga riset Opensignal, pada 2019, menempatkan kualitas internet 4G kita –dalam hal ini ukurannya adalah kecepatan (Megabit per-second atau Mbps)– di peringkat 72 dari 77 negara.
Ini ironis, sebab jika parameternya adalah pengguna, Indonesia berada di urutan ketiga Asia dan nomor lima dunia, di bawah China, India, Amerika Serikat, dan Brasil.
Tarifnya? Baru-baru ini, satu situs pemeringkatan dan perbandingan dari Inggris, cable.co.uk, merilis hasil analisis mereka terhadap tarif-tarif internet di dunia, The Cost of Fixed-Line Broadband in 206 Countries. Indonesia berada di peringkat 54 dengan tarif rata-rata USD 30,02 atau Rp 410.300 per-bulan.
Mahal dan murah jika tolok ukurnya adalah sempit luas kantong barangkali jadi relatif. Uang Rp 410.300 untuk sebagian orang mungkin murah-murah saja, tapi bagi sebagian yang lain bisa saja dianggap mahal. Namun berapa banyakkah yang menganggap murah dan berapa banyak pula yang menilai mahal? Belum ada survei yang valid, tetapi kencangnya pemberitaan yang mengangkat keluhan sedikit banyak bisa memberi gambaran.
"Membaca berita itu saya jadi berpikir, keluhan serupa mungkin saja sebenarnya ada di sekitar saya," kata Irsan Mulyadi.
Selain itu, Irsan, fotografer Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, merasa ada sesuatu yang menggelegak di relung ingatannya. Sesuatu yang selalu ia simpan sebagai kenangan, sekonyong-konyong muncul kembali.
"Saya pernah hampir putus sekolah karena orang tua saya kesulitan untuk membiayai. Waktu itu orang tua saya, ibu saya, bekerja tidak tetap. Kadang-kadang berjualan. Kadang-kadang menjadi asisten rumah tangga," ucapnya.
Satu hari, saat sang ibu benar-benar tidak lagi memiliki uang untuk membayar keperluan sekolah Irsan, ia tanpa sengaja menuturkan kesusahan ini kepada kepala rumah tangga di mana ia bekerja.
"Beliau seorang dokter yang baik hati. Waktu ibu saya bilang bahwa saya terpaksa akan berhenti sekolah, dia malah marah, dan bilang sekolah saya tidak boleh berhenti. Harus diteruskan. Dia yang akan membiayai semuanya. Walau pun kasusnya tidak sama, kesusahan yang dialami anak-anak yang orang tuanya tidak mampu menyediakan fasilitas untuk belajar daring ini, membuat saya ingat pada kenangan tersebut," kata Irsan.
Saat itu juga ia memutuskan untuk berbuat. Irsan berlangganan Wi-Fi bulanan, dan selama ini, menurutnya, hampir-hampir tidak pernah digunakan secara maksimal.
"Sehari-hari saya dan istri saya saja yang pakai, untuk bekerja. Paling-paling tambahan untuk kami berinteraksi di media sosial atau menonton film dan mendengarkan musik. Kami tidak punya jaringan yang tak terbatas. Sebaliknya, sangat terbatas. Namun saya kira, yang sedikit ini, akan lebih baik dan bermanfaat apabila dibagi," ujarnya.
Irsan kemudian berbicara pada tetangga-tetangganya, mengemukakan tawarannya, dan segera mendapatkan sambutan baik. Perkiraan Irsan ternyata tidak meleset jauh. Memang tak sedikit anak-anak usia sekolah di seputaran kediamannya yang kesulitan dalam mendapatkan akses internet. Belajar daring, kata mereka, banyak biaya. Satu kali atau paling banyak dua kali pertemuan virtual bisa langsung menghabiskan kuota paket hemat. Padahal biasanya pemakaian kuota tersebut (dipakai bersama orangtua mereka) baru habis paling cepat dua pekan.
Jadi bagaimana? Menurut Irsan, mereka rata-rata pasrah. Kalau ada uang beli lagi. Kalau tidak, ya, tidak ikut kelas. Toh mereka berkeyakinan, di masa pandemi, sekolah-sekolah tidak akan bersikap kejam untuk memberikan hukuman tinggal kelas kepada siswa atau murid yang absen dari kelas daring lantaran tak bisa mengakses internet.
"Namun masalahnya, kan, bukan terletak pada tinggal kelas dan tak tinggal kelas, melainkan bagaimana agar di masa pandemi tiap siswa tidak tertinggal pelajaran," katanya.
Maka kemudian Irsan membuka pintu pagar rumahnya lebar-lebar. Dari pukul 08.00 sampai selepas tengah hari. Hampir mirip jadwal sekolah. Di pekarangan, ia menyusun meja-meja berikut bangku. Mengikuti protokol kesehatan, meja dan bangku ini disusunnya dengan jarak tertentu. Ia juga menyediakan tempat cuci tangan. Siapapun yang hendak masuk diwajibkan untuk mencuci tangan, menggunakan hand sanitizer. Satu lagi yang wajib, pemakaian masker.
Sekali waktu datang seorang anak. Tidak seperti anak-anak lain yang membawa perangkat telepon selular, anak ini tangan kosong belaka. Saat ditanya, bilangnya, sejak hari pertama pelaksanaan sekolah daring dia lebih sering absen karena tidak memiliki ponsel.
"Yang punya ponsel ayah dan ibunya, dan keduanya bekerja. Ayahnya buruh angkut truk, sedangkan ibunya bekerja di satu usaha doorsmeer. Mereka bekerja setiap hari. Jadi, kalau anak ini mau belajar daring, dia harus ikut ibunya ke tempat kerja. Masalahnya, dia tidak bisa ikut ke sana setiap hari," ucap Irsan.
Anak ini kemudian dipinjami Irsan satu unit ponsel. "Kebetulan di rumah ada ponsel android yang jarang dipakai. Jadi saya pinjam pakaikan ke anak tersebut. Setelah selesai belajar dikembalikan," katanya.
Sampai hari ini, pojok belajar di rumah Irsan Mulyadi masih didatangi anak-anak di sekitar kediamannya. Rata-rata yang datang antara lima hingga enam orang. Bahkan pernah sepuluh orang sekaligus. Sampai kapan? Irsan menggeleng.
"Sampai pemerintah masih memberlakukan sistem belajar daring, dan sejauh mereka masih membutuhkan, rumah saya tetap terbuka," ujarnya.
Irsan Mulyadi, Ghiffari, dan pastinya lebih banyak lagi di luar sana, telah telah secara nyata merepresentasikan empati, keikhlasan, dan komitmen. Mereka menunjukkan betapa semangat dan kekuatan kemanusiaan berarti sangat dalam upaya perlawanan terhadap pandemi.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/covid3.jpg)