Meningkatnya Angka Bunuh Diri, Psikolog Sebut Masalah Asmara hingga Keluarga Jadi Alasan Utama

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi USU, Amalia Meutia menyebutkan meningkatnya angka percobaan ini karena adanya gangguan mental.

TRIBUN MEDAN/HO
PSIKOLOG sekaligus dosen Fakultas Psikologi USU, Amalia Meutia. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Percobaan bunuh diri di Sumut menunjukkan peningkatan beberapa bulan terakhir. 

Hari Minggu (8/11/2020), terjadi percobaan bunuh diri di Fly Over Jamin Ginting Medan. Sebelumnya pada 30 Januari 2020 lalu seorang oknum polisi Sabhara Polda Sumut berinisial AAP (25) mencoba bunuh diri dengan lompat dari Fly Over Jamin Ginting. Namun ia hanya mengalami patah kaki setelah melompat.

Baru-baru ini seorang remaja yang nekat mencoba melompat dari Fly Over Jamin Ginting kemarin, Minggu (8/11/2020) namun digagalkan pengendara.

Meningkatnya angka percobaan bunuh diri dinilai mempunyai banyak faktor sebagai penyebab.

Psikolog sekaligus Dosen Fakultas Psikologi USU, Amalia Meutia menyebutkan meningkatnya angka percobaan ini karena adanya gangguan mental.

Salah satunya yang paling memungkinkan bagi para remaja adalah putus cinta.

"Percobaan bunuh diri ini dialami karena adanya gangguan mental seperti depresi. Depresi itukan biasanya diawali oleh stress, lama-lama tidak diatasi dengan baik maka akhirnya menjadi depresi. Bisa juga mengalami kekerasan psikologis, contohnya kayak orang yang di bully. Mungkin saja kondisi psikologis dia itu akibat pembullyan. Bisa juga dari adanya tekanan batin tiba-tiba, contoh karena putus cinta," katanya saat diwawancarai tribun-medan.com, Senin (9/11/2020).

Baca juga: Usai Diselamatkan, Gadis yang Coba Bunuh Diri di Fly Over Jamin Ginting Menangis Terisak-isak

Hal lainnya, kata Amalia, karena masalah di dalam keluarga.

"Mungkin bisa juga entah orangtuanya bangkrut atau kehilangan pekerjaan atau status. Jadi bisa dikarenakan tekanan batin atau dia bisa juga mengalami kekerasan seksual, entah diperkosa lalu mengalami trauma yang telalu mendalam. Akhirnya tidak tahan dan ingin mengakhiri hidup," ungkap Amalia.

Amalia menyebutkan seharusnya sang anak tak boleh langsung dipulangkan ke rumah, dan harus dianalisa terlebih dahulu penyebab ia ingin mengakhiri hidup.

"Kita maunya, menganalisa dulu ini sebenarnya apa yang teradi. Jangan-jangan penyebabnya itu ada di rumah. Harusnya dievaluasi dan dianalisa dulu penyebabnya seperti apa. Kalau dia depresi tentu saja kita akan cari bantuan profesional untuk membantu dia keluar dari masalah psikologisnya itu dulu," tuturnya.

Ia menyebutkan bahwa untuk menangani para korban percobaan bunuh diri ini harus membutuhkan konseling dan support dari lingkungan terutama keluarga.

"Jadi bisa psikiater, bisa psikolog karena biasanya orang yang melakukan percobaan bunuh diri ini tidak hanya membutuhkan konseling tapi juga bantuan obat untuk menenangkan psikisnya mereka. Dia itu harus dijauhkan dari barang-barang yang dapat membunuh. Jadi harus benar-benar diawasi didampingi dan diberikan sosial support. Bisa juga physiotherapy dengan memberikan pasien itu tadi membukakan pikirannya. Jadi pelan-pelan ditelusuri apa yang menyebabkan dia depresi apa yang menyebabkan dia tekanan bantin atau trauma apa yang membuat dia seperti itu terus kita konseling dan memberikan obat," pungkas Amelia.(vic/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved