Gelar Pameran Foto Omnibus Law, Fotografer Ini Ajak Warga Medan Maknai Foto dari Perspektif Jurnalis
Aksi demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kota Medan pada Jumat (8/10/2020) lalu, berujung ricuh.
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Aksi demo menolak Omnibus Law UU Cipta Kerja di Kota Medan pada Jumat (8/10/2020) lalu, berujung ricuh.
Beragam momen aksi bentrok dengan aparat yang diabadikan Dedi Sinuhaji, fotografer asal Medan akhirnya dapat dinikmati masyarakat melalui pameran foto bertajuk Omnibus Law in My Eyes mulai 18-24 Oktober 2020 di Literacy Coffee, Jalan Jati II, Kecamatan Medan Kota, Medan.
Dedi mengungkapkan latar belakang hingga akhirnya memutuskan untuk mengadakan pameran foto terkait momen demo tolak Omnibus Law.
Hal ini berawal saat seorang temannya mengomentari sebuah foto yang mengatakan foto Dedi hanya berpihak ke satu pihak saja.
"Ada teman yang mengkritisi foto polisi yang ia bilang foto tersebut framingnya berpihak ke salah satu pihak. Kubilang ini gak berat sebelah, ini seimbang dari bahasa framing fotografi. Dia ajak buat diskusi dan akhirnya sekalian aja buat pameran," ungkap Dedi kepada Tribunmedan.com, Minggu (18/10/2020).
Amatan TribunmMedan.com, ada 11 foto dengan menampilkan beragam momen seperti bentrokan massa dengan aparat, demonstran berada di tengah aksi dengan membawa bendera, aparat yang sedang menembakkan gas air mata, hingga di ujung foto menampilkan sebuah pot bunga yang tumbang.
Dalam pameran foto ini, Dedi mencoba menyampaikan pesan mendalam yang disajikan dalam visual, di antaranya baik demonstran ataupun aparat sama-sama melanggar tupoksinya hingga mengakibatkan ada pengrusakan.
"Dari visual ini pesan yang ingin kusampaikan, pertama polisi memiliki tupoksi untuk mengamankan. Massa aksi juga ada dengan menyampaikan aspirasinya. Tetapi kenapa bisa bentrok? Berartikan masing-masing sudah melanggar tupoksinya. Sehingga pada akhirnya ada fasilitas yang rusak. Ya kita sama-sama rugi," ujarnya.
Bagi Dedi sendiri yang juga merupakan seorang jurnalis, ia mengungkapkan bahwa sebelum ada aksi, jurnalis memiliki pilihan apakah akan meliput atau tidak.
Kalau ingin mengambil posisi nyaman, bisa saja mendiam di tempatnya masing-masing. Tetapi ia memilih tidak, melainkan harus bertugas untuk turun di tengah polemik yang terjadi.
Selain itu, ia juga jelaskan di tengah-tengah momen tersebut, jurnalis memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya posisi jurnalis ibarat berada di antara talenan dan pisau.
"Polisi adalah talenan dan massa aksi pisaunya maka jurnalis yang diiris-iris. Begitu juga sebaliknya," tutur Dedi.
Tambahnya, saat ditanya mana foto dengan angle terbaik, ia memilih sebuah foto dengan angle seorang demonstran yang berada di tengah aksi dengan memegang bendera.
"Paling baik menurut saya memang gambar yang bercerita tentang kemarahan warga negara di Indonesia di tengah masa pandemi," pungkasnya.
(cr13/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/pameran-fopo-omnibus-law.jpg)