TERBARU, Vitamin D Efektif Kurangi Kematian Pasien COVID-19, Cukup Berjemur 20 Menit Pukul 10 Pagi

Jika Anda ingin mendapatkan vitamin D dari matahari, cukup dengan berjemur setidaknya 15-20 menit saja pada pukul 10.00 hingga 14.3O

Editor: Tariden Turnip
SHUTTERSTOCK/Alrandir
TERBARU, Vitamin D Efektif Kurangi Kematian Pasien COVID-19, Cukup Berjemur 20 Menit Pukul 10 Pagi . Vitamin D 

TERBARU, Vitamin D Efektif Kurangi Kematian Pasien COVID-19, Cukup Berjemur 20 Menit Pukul 10 Pagi 

Sebuah studi baru menunjukkan, orang dengan tingkat vitamin D yang cukup dalam tubuhnya cenderung memiliki risiko kematian yang lebih rendah, ketika dirawat di rumah sakit karena Covid-19.

Melansir Medical News Today, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE ini tampaknya dapat bermanfaat bagi para dokter yang berupaya mengurangi tingkat kematian Covid-19, sebelum adanya vaksin yang efektif.

Penting untuk dicatat bahwa studi terbaru ini memiliki beberapa keterbatasan, sehingga penelitian lebih lanjut dalam cakupan yang lebih besar dibutuhkan.

Jika penelitian lebih lanjut mendukung temuan ini, suplemen vitamin D mungkin menawarkan cara yang hemat biaya untuk membatasi risiko Covid-19 yang parah.

Para peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Boston, mengamati sampel darah dari 235 pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19.

Peneliti mengamati para pasien, mulai dari hasil perawatan, pelacakan gejala, termasuk tingkat keparahan infeksi mereka, apakah mereka menjadi hipoksia (kekurangan oksigen), dan apakah mereka selamat dari Covid-19.

Pasien dengan tingkat vitamin D yang cukup dalam tubuhnya, tampaknya memiliki efek perlindungan lebih terhadap virus corona.

Mereka yang memiliki kadar 25-hidroksivitamin D dalam darah (prakondisi yang diproduksi di hati yang digunakan dokter untuk menentukan kadar vitamin D) minimal 30 ng / mL memiliki peluang yang sangat rendah untuk kehilangan kesadaran, hipoksia, atau bahkan sekarat.

Dalam darah mereka juga menunjukkan tingkat protein C-reaktif yang lebih rendah (penanda inflamasi) dan tingkat limfosit sel kekebalan yang lebih tinggi.

Pada pasien yang berusia lebih dari 40, peneliti menemukan bahwa pasien yang cukup vitamin D memiliki kemungkinan 51,5 persen lebih kecil untuk meninggal karena penyakit Covid-19, dibandingkan dengan mereka yang kekurangan vitamin D.

"Studi ini memberikan bukti langsung, bahwa kecukupan vitamin D dapat mengurangi komplikasi, termasuk badai sitokin (pelepasan terlalu banyak protein ke dalam darah terlalu cepat), dan pada akhirnya menurunkan risiko kematian akibat Covid-19," kata penulis terkait, Dr Michael F.Holick dalam sebuah pernyataan.

“Karena kekurangan vitamin D terjadi pada anak-anak dan orang dewasa seluruh dunia, terutama pada musim dingin, sangatlah bijaksana bagi setiap orang untuk mengonsumsi suplemen vitamin D untuk mengurangi risiko terinfeksi dan mengalami komplikasi Covid- 19.”

Berlimpah dan Gratis

Sumber utama vitamin D adalah sinar matahari, berupa ultraviolet B.

Terkait hal ini, wilayah Indonesia termasuk negara yang beruntung karena hampir sepanjang tahun mendapat sinar matahari, meski sedang musim hujan.

Ironisnya, masih ada banyak orang Indonesia yang mengalami defisiensi atau kekurangan vitamin D.

Ahli Alergi Imunologi Anak Indonesia, Prof Dr Budi Setiabudiawan dr SpA(K) menyampaikan bahwa di tengah pandemi Covid-19 yang mempengaruhi berbagai sektor termasuk ekonomi, seharusnya dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

"Manfaatkanlah sinar matahari yang tidak perlu dibeli dan gratis ini," kata Budi dalam webinar Vitamin D3 Series Kalbe: Lindungi Anak Indonesia dengan Daya Tahan Tubuh yang Optimal, Kamis (23/7/2020).

Bupati Taput, Nikson Nababan (dua dari kanan paling depan) mengajak pejabat TNI/Polri bertelanjang dada berjemur pagi untuk meningkatkan stamina tubuh, Senin (6/4). Kegiatan berjemur ini juga upaya menangkal penyebaran virus Corona.(HO)
Bupati Taput, Nikson Nababan (dua dari kanan paling depan) mengajak pejabat TNI/Polri bertelanjang dada berjemur pagi untuk meningkatkan stamina tubuh, Senin (6/4). Kegiatan berjemur ini juga upaya menangkal penyebaran virus Corona.(HO) (Humas Pemkab Taput)

Budi menuturkan, jika Anda ingin mendapatkan sumber utama dari matahari cukup dengan berjemur setidaknya 15-20 menit saja.

Itu sudah sangat cukup. Selain itu, saat berjemur tidak perlu sekujur tubuh terpapar sinar matahari.

Paling tidak, cukup kedua tangan dari jemari sampai siku dan kedua kaki Anda yang mendapat paparan sinar matahari langsung.

Budi menyebutkan, sinar matahari yang mengandung banyak ultraviolet B ada pada pukul 10.00 sampai 14.30 siang.

"Dengan adanya krisis ekonomi, jangan mencari (vitamin D) dari makanan, harapkan dari matahari saja itu Vitamin D nya. Matahari udah gratis juga, vitamin D nya juga bisa kita dapat maksimal," tegasnya.

Sumber vitamin D selain matahari

Jika benar-benar tidak dapat keluar ruangan sebentar untuk berjemur, vitamin D memang dapat diperoleh dari makanan.

Kendati demikian, Budi mengingatkan bahwa sumber vitamin D terbesar tetap dari matahari.

"Sumber utama vitamin D bisa berasal dari makanan dan matahari. Makanan 20 persen dan matahari 80 persen," tuturnya.

Berikut beberapa jenis makanan yang bisa menjadi sumber vitamin D (sekitar 10-20 persen) untuk tubuh manusia, antara lain:

Keju

Margarin

Mentega

Sereal sehat dan oatmeal

Minyak hati ikan kod

Ikan salmon

Ikan haring dan sarden

Ikan tuna

Kuning telur

Jamur

Susu sapi

Susu kedelai

Jus jeruk

Suplemen vitamin D3

Karena sumber vitamin D yang paling optimal adalah matahari, Budi mengingatkan agar sebisa mungkin kita tetap bisa berjemur.

"Kita enggak boleh berlebihan berjemurnya sampai berjam-jam. 15-20 menit saja cukup," tegasnya.

Dampak kurang vitamin D dan terlalu lama berjemur

Ketika tubuh kekurangan vitamin D atau kita terlalu lama berjemur - sampai berjam-jam, akan berdampak pada tubuh dan memicu sejumlah penyakit.

Ada berbagai gejala atau keluhan ketika seseorang kekurangan vitamin D, antara lain:

Tulang jadi rapuh

Mudah depresi

Meningkatkan risiko untuk terkena penyakit kanker

Meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (jantung)

Berisiko impotensi pada pria

Mengganggu kemampuan otak, hingga pikun

Penyakit alergi

Penyakit infeksi

Penyakit autoimun

Gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak

Kemudian, ketika tubuh mendapatkan vitamin D secara berlebihan atau disebut dengan risiko toksisitas, hal ini juga bisa memicu ragam gejala seperti berikut:

Mual, muntah dan kehilangan nafsu makan

Sakit perut, sembelit dan diare

Peningkatan kalsium dalam darah

Tulang keropos

Gagal ginjal

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Bukti Baru, Vitamin D Turunkan Risiko Kematian pada Covid-19", "Ahli: Manfaatkan Matahari sebagai Sumber Vitamin D Gratis",

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved