Kemenperin Gelar BMBIFest, Dorong IKM Manfaatkan E-commerce
Selain itu omzet penjualan menurun 50 sampai 90 persen akibat daya beli masyarakat yang turun
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Eti Wahyuni
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Pandemi Covid-19 telah berdampak luas pada semua sektor, termasuk Industri Kecil Menengah (IKM). Omzet penjualan IKM bahkan turun hingga 90 persen akibat melemahnya daya beli masyarakat.
Hal ini diungkapkan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka Festival Bangga Mesin Buatan Indonesia (BMBIFest), Selasa (15/9). Pembukaan festival ini disiarkan secara secara langsung di kanal Youtube Kementrian Perindustrian RI.
"Terdapat 1,3 juta IKM dengan penyerapan 3,42 juta tenaga kerja terdampak Covid-19," katanya.
Ia mengatakan, saat pandemi ini, IKM menghadapi permasalahan, diantaranya pendapatan menurun sangat drastis dikarenakan sulit produksi. Selain itu sulitnya bahan baku, dan adanya penggiliran waktu kerja.
"Selain itu omzet penjualan menurun 50 sampai 90 persen akibat daya beli masyarakat yang turun," katanya.
• Gubernur Edy Rahmayadai Tegaskan Tutup Paksa Restoran dan Pabrik jika Abaikan Protokol Covid-19
Guna menjaga kinerja sektor industri khususnya IKM ini, sejak awal Covid-19 pemerintah telah memberikan stimulus dan insentif yang dibutuhkan bagi sektor IKM.
"Serta terus mendorong semaksimal mungkin agar upaya yang telah diberikan pemerintah kepada sektor industri dapat segera terealisasi dan terasa manfaatnya," ujarnya
Untuk itu, Kementerian Perindustrian terus berupaya membangkitkan gairah pelaku IKM agar terus bersemangat dalam menjalankan usahanya di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19. Pada era kebiasaan baru ini juga telah turut mengubah perilaku belanja masyarakat.
"Dampak pandemi mempercepat transformasi digital baik untuk pelaku bisnis mau pun masyarakat. Tahun 2019, usaha yang memanfaatkan e-commerce hanya 15,08 persen sedangkan sisanya masih menjalankan usaha secara konvensional. Jadi potensi pengembangannya masih sangat besar," ujarnya.
Menurut data Bank Indonesia, terjadi lonjakan transaksi perdagangan online sebesar 18,1 persen pada bulan Maret 2020. Kehadiran BMBIFest diharapkan mendorong IKM peralatan dan permesinan Indonesia memasuki tren bisnis digital, yang berdampak pada perluasan pemasaran dan jaringan IKM melalui teknologi digital.
BMBIfest akan berlangsung selama tiga hari pada 15-17 September 2020 melalui situs www.bmbifest.id.
"Banyak sekali program yang akan dilaksanakan dalam festival yang akan berlangsung selama tiga hari ini. Bagi kami festival ini akan bermanfaat apabila festival ini bisa menjadi gerbang terhadap penyerapan produk-produk mesin buatan Indonesia," katanya.
Ia mengatakan, produk-produk mesin ini merupakan barang modal dari proses produksi dan merupakan hal yang sangat penting. Namun saat ini Indonesia masih banyak melakukan impor untuk barang-barang modal.
"Program ini nantinya akan mendukung program di Kementerian Perindustrian yakni Program Subtitusi Impor 35 persen pada 2022. Berdasarkan laporan BPS pada triwulan kedua 2020, industri pengolahan non-migas mengalami pertumbuhan minus 5,74 persen, di saat yang sama ekonomi Indonesia juga tumbuh minus 5,32 persen," katanya.
Meski tertekan, ia mengatakan, industri pengolahan non-migas masih menjadi kontributor terbesar pada PDB Nasional yaitu 17,83 persen pada triwulan kedua. Beberapa industri yang tumbuh di tengah Covid-19 yaitu industri kimia, farmasi, dan obat-obatan tradisional, serta industri makan dan minuman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/menperin-agus-gumiwang-buka-diklat-3-in-1.jpg)