Problematika Belajar Daring di Medan, Mulai Keluhan Biaya Paket Data hingga Guru Kurang Responsif

banyak pelajaran yang tidak dimengerti oleh siswa lantaran guru hanya memberikan banyak tugas tanpa ada penjelasan lengkap.

Editor: Juang Naibaho
Tribun Medan
Siswa belajar daring menggunakan jaringan internet gratis yang disediakan warga di Jalan Tani Asli, Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Senin (20/7/2020). Lokasi belajar daring dengan jaringan internet gratis dan wajib menerapkan protokol kesehatan tersebut dibangun untuk membantu warga yang kesulitan dengan akses dan biaya internet.TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Belajar daring tentu memaksimalkan komunikasi melalui ponsel android selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Namun, sistem yang dibuat secara mendadak ini tentu tidak semua dapat mempersiapkan secara matang, terlebih yang baru mengoperasikannya. Kendala inilah yang dirasakan oleh beberapa siswa di Medan.

Jenny, siswi kelas 7 di sebuah SMP di Kecamatan Medan Maimun ini mengungkapkan bahwa banyak pelajaran yang tidak ia mengerti lantaran guru hanya memberikan banyak tugas tanpa ada penjelasan lengkap.

"Banyak gak ngerti. Habisnya gurunya cuma kasih tugas ringkasan banyak-banyak, kita gak ada diajarin, terus juga kalau ditanya gurunya lama responnya. Kadang disuruh cari jawaban di google," ungkap Jenny kepada Tribun Medan, Minggu (26/7/2020).

Pembelajaran daring memiliki banyak wadah pembelajaran seperti Google Classroom, Zoom, ataupun Whatsapp.

Pembelajaran ini tentunya membutuhkan biaya paket data yang tidak sedikit.

"Banyak makan paket lah, kita disuruh nengok YouTube, paketnya habis di tengah jalan kadang. Kalau gitu ya udah terakhir nanya sama temen. Sering juga kadang mamak marah disuruh hemat," ujarnya.

Senada dengan Jenny, ada Bella yang juga siswa yang berdomisili di bantaran Sungai Deli ini mengaku kesulitan untuk melakukan pembelajaran secara daring.

Bella mengakui bahwa sering mengeluarkan banyak uang untuk beli paket 4GB untuk 2 hari namun ia tidak dapat memahami secara benar materi yang disampaikan gurunya.

Hal ini lantaran sang guru tidak responsif ketika ditanya dan hanya menyuruh murid untuk mencari referensi lain.

"Sulit sekali, kadang tidak ngerti juga. Udah habis paket banyak lihat google sama youtube tapi belum paham. Terus tanya guru lama sekali balasnya," ujar Bella.

Ke depannya, Bella berharap belajar yang dilakukan secara daring ini dapat dimengerti oleh siswa lain dan berharap guru dapat responsif agar pembelajaran dapat berjalan lancar.

"Kita maunya guru bisa gampang menjawab ketika ditanya. Kami kan tidak bisa jumpa ya maunya chat kami dibalas. Ini hampir banyak juga lama dibalas chatnya. Semoga juga corona cepat berakhir biar bisa jumpa teman dan belajar langsung di sekolah," pungkas Bella.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved