Update Covid19 Sumut 23 Juni 2020
Kisah Sutiem, Pedagang Pecal di Siantar Sembuh dari Covid-19 Kini Alami Kesulitan Ekonomi
Usai 28 hari dikarantina di Rumah Sakit Haji Adam Malik, Sutiem mengatakan pelanggan yang biasa membeli pecalnya tak lagi ramai seperti sebelumnya.
TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Seorang wanita paruh baya asal Siantar yang sempat dinyatakan positif covid-19, Sutiem kini kesulitan.
Ia mengaku sehari-hari bekerja sebagai penjual pecal keliling dan kini dagangannya tak lagi laku.
Usai 28 hari dikarantina di Rumah Sakit Haji Adam Malik, ia mengatakan pelanggan yang biasa membeli pecalnya tak lagi ramai seperti sebelumnya.
"Memang karantina 28 hari di sana ya enak-enak saja. Pelayanannya bagus, tapi ya dipikirkan juga kami ini orang susah. Enggak jualan dalam waktu hampir satu bulan mau makan dari mana," katanya saat berbincang dengan Tri bun Medan, Selasa (23/6/2020).
• Pemko Pematangsiantar Izinkan Usaha Keramaian Dibuka Kembali, Asalkan Penuhi Syarat Ini
Tepat tanggal 3 Mei 2020, Sutiem dibawa ke Rumah Sakit Haji Adam Malik meskipun ia mengaku kondisinya sehat.
Sutiem yang awalnya menolak untuk dirujuk ke Rumah Sakit Umum Pusat itu tak berdaya ketika sang suami membujuknya.
"Saya kan kesehariannya berjualan pecal keliling bersama suami. Waktu itu saya sempat demam, biasanya kalau demam dibawa ke mantri langsung sembuh, tapi kali ini enggak," terang Sutiem saat ditanyai bagaimana dirinya bisa dikabarkan positif covid-19.
Karena disarankan oleh mantri untuk diopname, akhirnya Sutiem opname di Rumah Sakit di Siantar selama tiga hari.
Pada saat hari ke tiga, Sutiem langsung diinstruksikan untuk dibawa ke Rumah Sakit Haji Adam Malik.
"Enggak ngerti saya kenapa waktu itu dirujuk ke Adam Malik. Waktu itu ya saya melawan, saya bilang kami ini orang enggak punya, orang susah, ngapain di bawa ke sana," tuturnya.
Sutiem mengaku dirinya sempat mengalami demam selama tiga hari. Namun ia merasa keadaannya membaik setelahnya.
Selama 28 hari dirawat sebagai pasien Covid-19 dirinya mengaku tak satu haripun ia merasa kondisi fisiknya menurun.
"Saya sehat-sehat saja, tidak merasa sakit apa-apa. Boleh ditanya ke mereka (tenaga medis) hasil cek up saya setiap hari, pasti baik-baik saja," ujarnya.
• DPRD Beri Sinyal Gugat Pemko Pematangsiantar, Buntut Pengembalian Tunjangan Tahun 2019
Ia juga mengaku tak mengerti dari mana ia bisa terinfeksi virus corona.
Karena Sutiem merasa tak pernah memiliki riwayat perjalanan ke luar kota.
"Keluarga saya semua negatif saat diperiksa. Kalau memang saya positif yang pasti menularlah, katanya virus itu sangat cepat menularnya," katanya.
Meski begitu, bagi Satiem dikabarkan sebagai pasien Covid-19 sudah menjadi takdirnya, meskipun keadaanya tak sama sekali merasakan sakit. Ditambah lagi dengan kondisi seluruh keluarganya yang tak seorang pun positif covid-19.
"Saya merasa sehat, tapi kalau medis menyatakan saya positif Corona ya saya bisa apa. Saya enggak mengerti, buktinya saya waktu demam itu masih sempat merawat cucu saya yang umurnya masih 6 bulan. Ketika diperiksa mereka semua hasilnya negatif," ungkapnya.
Kecewa dengan Gugus Tugas
Kini Sutiem yang tinggal di Jalan Singosari Gang Demak Siantar Utara ini merasa sangat kecewa dengan perlakuan Gugus Tugas Covid-19 Sumatera Utara kepada dirinya.
Pasalnya dampak positif Covid-19 yang ia alami menyasar ke kondisi ekonominya berserta keluarga.
Banyak dari tetangga dan orang yang biasa membeli dagangan pecalnya tak lagi mau membelinya.
"Dulu pas saya dikabarkan positif mereka rajin menghubungi, sekarang sudah seperti ini tidak ada lagi tindakan. Sementara kami kesulitan, dagangan tak laku," katanya.
Ia pun mengaku sempat menghubungi pihak pemerintah provinsi agar dapat mengabarkan kepada masyarakat bahwa dirinya telah sembuh.
• Sebaran Kasus Baru Positif Covid-19 di Sumut Hari Ini, Siantar Terbanyak Disusul Kota Medan
Namun sayang, usaha nya tak membuahkan hasil.
"Saya sempat mencoba menghubungi mereka, tetapi tidak ada tanggapan. Maunya kalau orang susah seperti kami ini dipikirkan juga dampaknya bagi kami. Bukan hanya sekadar isolasi-isolasi saja," tuturnya.
Sutiem berharap pihak Gugus Tugas memperhatikan dirinya.
Sedikit memberikan santunan ataupun mengumumkan kesembuhan tentangnya sudah cukup bagi Sutiem.
"Ya sekarang ini sedang bingung bagaimana untuk cari makan. Harapannya dari pemerintah ataupun pihak Gugus Tugas itu ada inisiatif membantu. Walau hanya memberitakan kesembuhan saya, itu sudah cukup. Supaya jangan dikucilkan kali saya di sini, dianggap pembawa virus," katanya.
Sementara itu, sampai berita ini ditulis, Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sumatera Utara dr Aris Yudhariansyah saat dihubungi Tribun Medan menunda untuk memberikan konfirmasi. (cr14/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sutiem.jpg)