Proyek Wastafel Covid-19 Senilai Rp 2,1 Miliar di 90 Sekolah Negeri Tebingtinggi Menuai Sorotan
Upaya Pemerintah Kota Tebingtinggi untuk mencegah penyebaran Covid-19 di sekolah-sekolah negeri menuai sorotan.
Penulis: Alija Magribi | Editor: Juang Naibaho
Laporan Wartawan Tribun Medan/Alija Magribi
TRIBUN-MEDAN.com, TEBINGTINGGI - Upaya Pemerintah Kota Tebingtinggi untuk mencegah penyebaran Covid-19 di sekolah-sekolah negeri menuai sorotan.
Pasalnya, proyek pembuatan wastafel untuk sekolah-sekolah tersebut dinilai kemahalan.
Mencuat dugaan mark-up anggaran yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Pemerintah Kota Tebingtinggi, dalam proyek yang menelan anggaran hingga Rp 2,1 miliar tersebut.
Beredar informasi, untuk satu unit wastafel tersebut dianggarkan senilai Rp 3,5 juta.
Wastafel itu dibangun di 90 sekolah SD dan SMP Negeri di Kota Tebingtinggi.
Bagi sebagian kalangan masyarakat, nilai wastafel tersebut tergolong fantastis.
"Harga satu wastafel bentuk sederhana itu bila mencapai Rp 3,5 juta, itu sudah tidak masuk akal. Kalau dilihat, paling mahal per unitnya itu hanya Rp 1-2 jutaan sudah dengan instalasi pipa," ujar seorang warga bernama Eko.
Seorang kepala sekolah dasar berinisial L menyampaikan, di sekolahnya sudah dipasang 5 wastafel.
Namun lantaran kegiatan belajar mengajar libur semester, wastafel tersebut belum terlihat manfaatnya.
"Iya, ada 5 untuk sekolah kami. Mereka (pekerja) bilang, anggarannya dari BOS. Soal bentuknya bagaimana kita gak tahu. Dari Disdiknya ini," ujarnya.
Menanggapi ini, Sekretaris Dinas Pendidikan Amris Siahaan enggan berkomentar.
Ia justru menanyakan hal ini ke penanggung jawab proyek (Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan.
"Ditanya PPTK-nya aja, pak. Yang tahu teknisnya di lapangan itu PPTK," ujarnya singkat melalui pesan WhatsApp, Senin (22/6/2020).
Tribun Medan juga mencoba mengonfirmasi hal ini ke PPTK Dinas Pendidikan Tebingtinggi melalui WhatsApp. Sayang pesan yang dilayangkan hanya dibaca.
Pengamat teknik bangunan dari Perhimpunan Arsitek Indonesia Sumatera Utara Boy Brahmawanta menilai pembuatan wastafel seyogianya harus mempertimbangkan fungsi.
"Duh sayang sekali, amatan saya konstruksinya berlebihan, kurang fungsional. Harusnya bisa lebih simpel. Kalau dibuat sederhana akan bisa lebih murah mungkin," katanya.
Boy tak mau mengkaji nilai yang dianggarkan lantaran belum melihat spesifikasi dan level kualitas bahan-bahan bangunan.
"Hanya melihat dari bentuknya saja, saya rasa tak terlalu memaksimalkan wastafelnya. Biar hemat, kiranya dibangun di dinding sekolah, jadi menekan biaya," katanya usai melihat foto wastafel yang ditunjukkan wartawan.
Selain itu, ia menyampaikan wastafel sebaiknya dibangun melekat dengan dinding sekolah, sehingga bisa dimanfaatkan dalam kondisi apapun.
"Kalau dibuat di luar, pas hujan, mungkin mana ada siswa yang mau mencuci tangan. Fungsionalnya yang kita lihat," jelasnya.
(tri bun-medan.com/Alija Magribi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/proyek-wastafel-sd-di-tebingtinggi.jpg)