Puasa Pertama di Skotlandia, Widi Ikuti Buka Bersama dan Demo Membuat Takjil Online
Warga muslim di Skotlandia harus merasakan durasi berpuasa yang lebih panjang
TRI BUN-MEDAN.com- Warga muslim di Skotlandia harus merasakan durasi berpuasa yang lebih panjang.
Terlebih saat musim panas tiba, durasi puasa bisa 20 jam.
Begitu juga yang dialami Widi Andika Hidayat Nugrahadi, mahasiswa S2 program Marketing dan Business Analysis di University of Edinburgh, Edinburgh, Skotlandia.
Tahun ini merupakan ramadan pertama yang dilewati Widi di Skotlandia.
Bagi Widi ini merupakan pengalaman berpuasa yang menarik baginya karena jauh dari rumah dan berada di situasi serta keadaan yang benar-benar berbeda.
"Tahun ini tahun pertama saya melewati Ramadhan di Edinburgh. Dari diskusi dengan teman-teman yang sudah menetap beberapa tahun di Edinburgh, yang berbeda tahun ini adalah kami melewati Ramadan di situasi
lockdown," tulis Widi saat diwawancarai via aplikasi whatsapp oleh Tri bun Medan, Jumat (8/5/2020).
Widi mengatakan pengalaman paling menarik baginya selama menjalankan puasa di Edinburgh adalah durasi puasa yang lama hingga hanya ada selang waktu 2 jam antara salat isya dan sahur.
Untuk mengusir rasa bosan dan kesepian karena jauh dari rumah, Widi mengatakan dirinya bersama teman-teman Indonesia yang lain sering mengadakan buka bersama online dan serangkaian kegiatan virtual lainnya.
"Walau cuman beberapa hari, sempat nyobain selang waktu salat isya dan tarawih dan sahur lagi hanya 2 sampai 2 setengah jam. Karena masih lockdown, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di sini membuat acara bukber online, ada demo masak takjil online dan lomba bikin kue online. Sekadar
untuk stay connected di antara para pelajar Indonesia dan keluarganya di sini," tambahnya.
Untuk waktu berpuasa, Widi mengatakan setiap masjid di Edinburgh memiliki penentuan waktu masing-masing sesuai dengan mazhab yang dianut. Rata-rata puasa di Edinburgh dan Skotlandia pada umumnya berkisar 18 sampai 20 jam.
"Yang paling mencolok untuk muslim Indonesia di sini adalah panjangnya waktu puasa. Kebetulan Ramadan tahun ini bertepatan dengan pertengahan musim semi,
sehingga daytime-nya lebih panjang dibandingkan waktu malam," katanya.
Widi menerangkan, untuk Kota Edinburgh yang berada di bagian utara UK, waktu puasanya berkisar kurang lebih 18 jam. Dengan waktu sahur rata-rata jam 02.30 BST (british summer time) dan waktu berbuka pukul 21.00 BST.
"Sempat ada anomali waktu berpuasa hingga 20 jam, di mana waktu subuh sekitar pukul 01.14 BST dan magrib sekitar pukul 20.50 BST. Tergantung dari jam sahur dan buka yang diikuti, beberapa masjid punya perhitungan waktu berbeda untuk batas sahur dan jam berbuka, sesuai mahzab perhitungan masing-masing. Saya pribadi mengikuti waktu perhitungan dari Edinburgh Central Mosque," ungkapnya.
Lelaki kelahiran 11 Desember 1990 ini bercerita bahwa Kota Edinburgh termasuk kota yang ramah terhadap umat muslim. Masjid terbesar sekaligus pusat umat muslim beribadah terdapat di tengah Kota Edinburgh yang masih satu bagian dengan kampus tempat Widi berkuliah.
"Kota Edinburgh adalah kota yang cukup ramah terhadap muslim. Di sini memiliki
Central Mosque yang berada di tengah kota, masih satu lingkungan dengan
University of Edinburgh, dan ada pula beberapa masjid lainnya," katanya.
Sebelum adanya virus corona yang mengharuskan seluruh kota melakukan lockdown, Widi mengatakan di Edinburgh sendiri terdapat kegiatan-kegiatan ramadan seperti berbuka puasa bersama dan tarawih berjamaah.
"Sebagai gambaran, di tahun-tahun sebelumnya Muslim di Edinburgh dapat
menikmati iftar bersama di masjid terdekat, shalat berjamaah dan sahur di masjid atau rumah teman-teman sekitar masjid," terangnya.
Meskipun sedang dalam situasi lockdown, Widi aktif mengikuti kajian-kajian islam secara online yang dilakukan oleh komunitas atau organisasi Indonesia yang berada di Edinburgh. Selain itu ia juga disibukkan dengan jadwal kuliah dan tugas yang dilakukan via daring.
"Dalam situasi ini (lockdown), kegiatan ibadah dan interaksi sosial sangat dibatasi.
Kegiatan ibadah di seluruh masjid untuk sementara waktu ditiadakan (masjid ditutup
untuk publik). Beberapa restoran juga diimbau untuk tutup. Sehingga kami lebih
banyak menghabiskan waktu ramadan di rumah bersama keluarga/flatmate," katanya.
"Untuk kajian dan ta'lim dari masjid juga mulai dilakukan lewat platform-platform
online. Beberapa program yang dikoordinir oleh komunitas Islam di Edinburgh juga dilakukan online. Untuk pelajar seperti saya, Ramadan juga tetap diisi dengan beberapa tugas kuliah online, tugas akhir, ujian online, dan sambil menyusun disertasi. Bimbingan disertasi juga dilakukan secara online," tambahnya.
Untuk umat muslim di Inggris dan di Edinburgh sendiri, terang Widi komunitas Islam yang ada sangat membantu dalam memfasilitasi kegiatan-kegiatan peribadatan sehari-hari baik selama bulan Ramadan ataupun di luar Ramadan.
"Di UK dan di Edinburgh sendiri, kami memiliki komunitas muslim, yang disebut
Keluarga Islam Indonesia di Britania Raya (KIBAR). Biasanya kami melaksanakan
pengajian bulanan dan silaturahmi rutin di KIBAR Edinburgh. Informasi seputar islam
dan diskusi tentang shaum biasanya di share di komunitas ini," katanya.
Untuk suasana lebaran di Edinburgh sendiri, mahasiswa S2 program Marketing dan Business Analysis ini mengatakan bahwa sebelumnya pelaja muslim Indonesia merayakan lebaran dengan salat Ied berjamaah yang dilakukan di Central Mosque yang terdapat di tengah Kota Edinburgh.
"Untuk tahun-tahun sebelumnya, biasanya pelajar muslim dari Indonesia sama-sama
shalat Ied di Central Mosque, untuk tahun ini masih menunggu kebijakan dari pemerintah
dan Central Mosque apakah akan diadakan atau tidak. Beberapa teman-teman
pelajar asal Indonesia juga sudah pulang ke Indonesia sejak pandemi covid-19 mulai di bulan Maret-April lalu," tuturnya.
Memasak Masakan Indonesia
Untuk mengobati rasa rindu kampung halaman, Widi dan pelajar Indonesia lainnya yang tinggal di Edinburgh selalu memasak menu sahur dan berbuka sendiri di flat masing-masing. Mereka memasak masakan Indonesia yang bahan-bahannya bisa didapatkan di toko asia terdekat.
"Untuk sahur dan berbuka, biasanya pelajar Indonesia di Edinburgh lebih memilih memasak sendiri. Bahan makanan sangat mudah didapatkan di convenience store atau
supermarket yang letaknya berdekatan dengan tempat tinggal. Untuk bahan
makanan asia seperti tahu, tempe, sambal, bahkan indomie bisa didapat di Chinese
store," katanya.
Menurutnya, mendapatkan bahan makanan yang ramah untuk lidah warga Indonesia di Edinburgh tidak begitu sulit. Beberapa pelajar Indonesia juga sempat berjualan makanan Indonesia, namun karena situasi lockdown harus berhenti untuk sementara waktu.
"Daging-daging halal juga bisa didapatkan di butcher-butcher Halal yang jumlahnya lumayan banyak. Secara umum sebenarnya tidak ada kesulitan mendapatkan bahan makanan disini. Sebelumnya, banyak sesama pelajar atau keluarga pelajar yang berjualan makanan Indonesia, tapi sekarang ini sedang
berhenti karena lockdown," ungkap Widi.
"Kalau makanan khas Edinburgh ada Haggis namanya, cuman tidak terlalu ramah untuk muslim. Jadi yang bisa kita makan secara aman hanya ikan-ikan, dan salmon di sini cukup terkenal dan gampang didapatkan. Atau untuk menu daging, kami cari di Halal butcher," tambahnya.
Selain memasak masakan Indonesia, Widi juga rutin menghubungi keluarganya di rumah melalui video conference. Bagi Widi hal sederhana tersebut bisa mengobati rasa rindunya dengan keluarga dan tidak merasa sendiri meskipun jauh dari rumah.
"Saat ini untuk mengobati rindu paling saya conference sama keluarga sambil cerita-cerita. Masak makanan Indo pakai sambal yang dibeli di chinese store. Dan sekali-sekali shalat jamaah bersama flatmate," ungkapnya.
Widi berharap masa pandemi segera selesai agar ia bisa menikmati suasana Ramadan seperti biasa di Edinburgh serta situasi kembali normal.
"Semoga situasi cepat kembali normal lagi, supaya kita bisa merayakan Idul Fitri dan salat ied di masjid, bisa segera berkumpul dan buka bersama dengan pelajar Indo lainnya, dan bisa menikmati suasana Ramadan dengan muslim-muslim dari berbagai negara lainnya," pungkasnya.
(cr14/tri bun-medan. com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/widi-andika-hidayat-nugrahadi.jpg)