Ramadhan 2020

Empat Tahun Ramadan di Irlandia, Mildka Kangen Lemang dan Mi Gomak Khas Berbuka Puasa ala Medan

Mildka menuturkan tidak dapat lepas dari lemang dan mi gomak yang kini hanya dapat ia rindukan atau konsumsi saat berada di Indonesia.

TRIBUN MEDAN/HO
DOKUMENTASI berbuka puasa Mildka bersama suami di Irlandia. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Makanan khas berbuka memang yang paling ditunggu masyarakat di bulan Ramadan.

Berbeda dengan masyarakat di Indonesia yang begitu mudah menemui makanan berbuka, Mildka Silviana Manurung Gray yang kini menetap di Dublin, Irlandia sulit menemukan makanan khas Indonesia.

Mildka menetap bersama suami yang juga bekerja di Irlandia sejak tahun 2017.

Bagi Mildka, jalani Ramadan di negeri orang dengan tanah air begitu terasa secara signifikan.

"Perbedaannya sangat signifikan. Indonesia euforianya bagus. Masyarakat sangat antusias. Kita bisa rasakan perbedaan hari biasa dan Ramadan. Di sini tidak ada euforia seperti jualan berbuka, perayaan Ramadan, atau orang yang pergi asmara subuh atau sahur. Tidak ada yang spesial," ungkap Mildka, Senin (4/5/2020).

Mildka menuturkan bahwa gema takbir begitu ia rindukan selama tinggal di Irlandia.

Ia mengungkapkan bahwa masjid di Irlandia tidak boleh membuat suara besar, begitu juga dengan rumah ibadah lainnya.

"Paling rindu suara gema takbir. Kalau dengarnya itu damai. Di sini masjid tidak boleh membuat suara yang dapat mengganggu warga sekitar. Gereja juga, kuil juga. Jadi yang dirindukan suara gema takbir dan asmara subuh pas menunggu waktu berbuka. Apalagi bukber," tuturnya.

Selama jalani Ramadan di Indonesia, Mildka menuturkan tidak dapat lepas dari lemang dan mi gomak yang kini hanya dapat ia rindukan atau konsumsi saat berada di Indonesia.

"Makanan favorit aku suka banget lemang dan mi gomak dan bubur kacang hijau yang sangat aku rindukan yang tidak boleh terlewatkan. Hampir berpuasa di Indonesia, pas lagi mudik selalu ada lemang, dari kecil juga makan pakai lemang," jelas Mildka.

Mildka mengungkapkan bahwa makanan khas Indonesia cukup sulit didapat di negara yang dijuluki Pulau Zamrud tersebut.

"Di sini kita tidak bisa dapatkan kecuali kita masak sendiri. saya pernah tahun lalu berbuka dengan masak kacang hijau sendiri. Cuman inikan masak berbeda kalau di Indonesia kan kita beli bukaan ya. Memang terasa. Cuman bubur kacang hijau yang bisa saya masak. Lemang dan mi gomak tidak bisa dimasak sendiri," ujarnya.

Mildka sendiri saat ini bekerja sebagai Training Manager di bidang pariwisata Failt dari Kementerian Pariwisata Republik Irlandia.

Mildka menuturkan bahwa banyak pengalaman berharga saat menjalani puasa di Irlandia, terutama dia turut membantu dan mendukung suami yang seorang muallaf untuk belajar berpuasa untuk pertama kalinya.

Mildka menuturkan bahwa perbedaan kultur yang berbeda membuat ia harus ekstra mengajarkan sang suami dasar-dasar ilmu agama.

Masjid Tajul Madras Gelar Kajian Virtual via Youtube, Inovasi Perkuat Iman di Bulan Ramadan

"Sebagai muallaf suami saya belajar berpuasa tergolong agak rumit. Karena kebiasaan sebelumnya dia belum pernah berpuasa, kemudian durasi puasa yang paling lama. Dia juga harus belajar banyak ilmu agama seperti doa selesai sahur, buka puasa, dan doa tarawih dia harus banyak belajar. Bagi dia, waktu Ramadan adalah waktu yang tepat dan pas untuk belajar agama," ungkap Mildka.

Mildka menuturkan bahwa suami sangat bertekad untuk belajar ilmu agama dengan mempelajari melalui media online seperti Youtube untuk mendengar kajian.

"Yang saya ajarin biasanya memberi tahu apa itu makhruh, sunnah apa yang tidak boleh dilakukan sebelum puasa. Selebihnya dia belajar dari online, melihat ceramah yang berada di negara Arab dengan menggunakan pengantar bahasa Inggris. Jadi dia belajarnya secara online," terang Mildka.

Irlandia sendiri menjadi satu diantara negara yang menjadi puasa dengan durasi cukup lama yaitu 18 jam yang saat ini berada di musim panas.

"Karena ini musim panas jadi jalani puasanya agak lama. Waktu puasa di Irlandia 18 jam. Sahur karena 2.30 pagi jadi kita buka puasa 9.30 jadi biasanya saya buka puasa sekalian sahur, karena kan setelah tarawih langsung tidur. Sahur kita biasanya hanya minum jus," jelasnya.

Menikah dengan warga negara Inggris, Mildka menuturkan bahwa ia harus menyesuaikan menu berbuka ataupun sahur dengan kultur yang berbeda dengan suami.

"Kalau untuk menu masakannya ganti-gantian. Kalau hari ini masak menu makanan Indonesia, besoknya suami masak makanan barat jadi adil gak hanya menu barat atau menu Indonesia aja. Jadi bergantian bervariasi untuk menu berbuka," kata Mildka.

Dikatakannya, muslim di Irlandia masih menjadi minoritas.

Namun, warga Irlandia sangat menghormati masyarakat yang menjalani puasa.

Mildka menceritakan bahwa warga Irlandia akan berusaha tidak makan dan minum di depan warga yang sedang jalani puasa.

"Warga Irlandia yang tahu kita jalani puasa Ramadan, mereka akan berusaha tidak minum atau makan di depan kita tapi restoran tetap buka seperti biasanya. Tapi kalau di bus kan mereka tidak tahu kita berpuasa jadi mereka makan dan minum seperti biasa. Namun kalau kita memberitahu mereka, mereka akan segera menghentikan makanan dan meminta maaf," ujar Mildka.

Mildka menuturkan bahwa masjid di Irlandia dapat terhitung.

Untuk sampai ke masjid, ia dan suami harus menempuh perjalanan selama setengah jam.

"Masjid cuman ada beberapa. Saya tinggal di Dublin. Masjid ada di pusat kota, agak jauh. Jadi kalau mau tarawih kita naik mobil yang setengah jam kita baru sampai. Masjid itu dibangun di area pemukiman muslim. Ketika kita masuk ke masjid kita akan terasa bulan Ramadannya. Kebanyakan orang yang tinggal jauh dan punya anak kecil biasanya memilih untuk beribadah di rumah," ungkapnya.

Lebaran di Irlandia bagi Mildka tidak selamanya jauh dari tanah air.

Saat lebaran tiba, ia dan warga Indonesia lainnya rutin adakan halal bihalal dengan memberikan nuansa indonesia seperti makanan khas lebaran.

"Kalau halal bihalal emang kita cuman buat untuk komunitas masyarakat Indonesia. Karena masyarakat muslim lainnya pada mudik. Kita kumpul WNI di satu rumah ada yang bawak lontong, ketupat, rendang atau balado. Biasanya mereka bawa sendiri untuk dibagi-bagikan," kata Mildka.

Es Merah Ahong Sejak Tahun 1985, Laris Manis Jadi Menu Berbuka Saat Ramadan

Stok Makanan hingga Batal Mudik Akibat Lockdown Covid-19

Penerapan Lockdown akibat corona di Irlandia membuat beberapa kebijakan yang mengharuskan menghentikan aktivitas di ruang publik.

Sama seperti negara lainnya yang menerapkan kebijakan lockdown, Mildka mengungkapkan bahwa akses masjid ataupun tempat ibadah harus ditutup selama masa lockdown.

"Tahun ini berbeda karena Covid-19, jadi semua tempat ibadah semua ditutup. Kita yang sedang berpuasa, tidak boleh beribadah di masjid. Sekarang lockdown. Pemerintah sangat ketat, tidak ada buka kecuali yang jual bahan pokok makanan. Untuk saat ini tidak ada tarawih di masjid," ungkap Mildka.

Dalam menghadapi lockdown, Mildka memiliki antisipasi tersendiri yaitu membuat stok bumbu dan bahan makanan khas Indonesia.

Ia menuturkan bahwa di Irlandia sendiri untuk masuk ke minimarket ada jadwal untuk berbelanja.

"Untuk saya antisipasinya yaitu stok makanan ya. Apalagi untuk bahan makanan khas indonesia seperti gulai ataupun rendang. Semenajak corona, semua tutup kecuali supermarket. Di irlandia Selasa dan Kamis khusus untuk pengunjung lanjut usia di atas 65 tahun. Mulai 7 - 9 pagi. Pengunjung di bawah 65 tahun, satpam tidak akan memperbolehkan masuk," tuturnya.

Mildka juga menjelaskan bahwa untuk masuk ke supermarket diberlakukan sistem jumlah pengunjung untuk berbelanja.

"Kalau di supermarket lebih dari 20 orang, pengunjung akan disuruh mengantre. Tunggu ada pengunjung yang keluar dari supermarket baru boleh satu masuk. Jadi antreannya bisa sampai satu jam karena tidak boleh semuanya masuk lebih dari 20 orang," tuturnya.

Pemberlakukan lockdown juga berpengaruh dengan aktivitas penerbangan yang dihentikan sementara.

Mildka juga sempat khawatir tidak dapat mudik saat hari Idul Fitri.

"Pemerintah Irlandia masih lockdown jadi tidak ada pesawat masuk dan keluar dari dalam negeri. Jadi sangat disayangkan kalau tahun ini tidak bisa pulang. Mungkin mudiknya setelah Lebaran. Semoga virus ini cepat berakhir agar kegiatan bisnis atau lainnya dapat berjalan dengan normal," pungkasnya.(cr13/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved