Human Interest Story
Kisah Dokter Relawan Covid-19 Sumut, Bikin Ibu Menangis, Mertua sampai Sakit, Dicibir Tetangga Pula
DOKTER M Zuchri Darmawan menjadi satu di antara sekian tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan melawan virus Corona.
DOKTER M Zuchri Darmawan menjadi satu di antara sejumlah tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan melawan virus Corona.
Ia menjadi dokter relawan untuk penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit GL Tobing Tanjung Morawa, Deliserdang, Sumatera Utara.
Zuchri pun mengisahkan momen awal dirinya bergabung bersama puluhan dokter dan perawat lainnya di tim medis untuk penanganan Covid-19.
Dokter muda ini mengakui sempat mendapatkan penolakan dari keluarga saat akan bergabung menjadi tenaga medis penanganan Covid-19.
Bahkan ibunya menangis lantaran tak tega mengizinkan anaknya berada di garda terdepan melawan pandemi virus corona.
"Komentar keluarga menjadi cerita tersendiri juga. Kebetulan anak orang tua saya ada 7 orang dan saya anak laki laki satu satunya.
Saat saya minta izin ke orang tua, ibu saya langsung nangis spontan dan enggak ngasih izin," ujarnya kepada Tribun-Medan.com, Jumat (1/5/2020).
"Karena khawatir, anak laki-laki satu satunya penerus keluarga ikut jadi relawan, karena lihat berita di televisi relawan banyak yang kena virus corona, jadi cemas mereka.
Tapi lama kelamaan saya kasih pandangan ke mereka, lalu mereka memberi izin. Lama juga itu meyakinkannya," tambahnya.
Penolakan tak hanya datang dari keluarganya. Dari pihak keluarga sang istri setali tiga uang.
Keinginan lelaki yang akrab disapa Dimas ini mendapat penolakan. Bahkan, mertuanya sempat sakit dan muntah-muntah.
"Bukan cuma dari situ, dari keluarga istri enggak memberi izin. Saya kebetulan menantu satu-satunya, dan anak saya masih balita.
Istri saya dan mertua pun enggak memberi izin awalnya, sampai-sampai bapak mertua saya kena sindrom muntah-muntah keesokan harinya, karena dengar saya mau jadi relawan," ungkapnya.
Tak berhenti di situ, Dimas mencoba memberikan pandangan. Akhirnya istri dan sang mertua pun luluh dan memahami keinginannya menjadi dokter relawan Covid-19.
Setelah mendapatkan izin dari keluarga dan telah bertugas satu bulan lebih, lelaki kelahiran 25 Desember 1989 ini kembali menghadapi hambatan.
Kali ini dari kalangan tertangga. Ia merasa tidak nyaman dengan cibiran miring orang-orang yang mengatakan para tenaga kesehatan yang bertugas menjadi relawan terlalu mendapatkan fasilitas yang lengkap.
"Dukanya lagi, ada sepelintiran di luar sana yang bilang fasilitas relawan terlalu mewah, sempat sedih juga dengar berita tersebut.
Memang sih relawan tidur di hotel, fasilitas lengkap, mau makan tinggal makan, minuman bernutrisi baik selalu ada, mau olah raga tempat disediakan, dan sebagainya,” ujarnya.
Bagi Dimas, semua kenyamanan menjadi tidak berarti jika harus jauh dari keluarga. “Kami itu jauh dari keluarga. Untuk apa (nyaman fasilitas tapi jauh dari keluarga)?
Meski begitu, ia tak mau merespons berlebihan komnetar miring tersebut. Bagi Dimas, keputusannya untuk menjadi dokter relawan Covid-19 adalah demi tugas kemanusiaan.
“Tapi bagi saya, ini demi ikhtiar memutus rantai covid-19," katanya.
Ia pun menantang bagi mereka yang berkomentar miring untuk bertukar posisi dan merasakan yang dirasakan para relawan selama bertugas.
"Bagaimana jika bertukar saja? Buat yang masih sering keluar nongkrong dengan teman-teman di kafe atau tempat nongkrong lainnya, kalian berada di sini, saya di rumah dengan keluarga. Kami belum tahu sampai kapan kami pisah dari keluarga, kalau pandemi corona selalu meningkat," ungkap Dimas.
"Kami tidak butuh dipuji cukup didoakan agar sehat-sehat saja. Jangan menilai relawan karena ada anggaran dari pemerintah jadi menganggap relawan itu rela untuk dibayar, karena bayaran enggak sebanding dengan pengorbanan, dan risiko yang didapat," tambah lelaki yang hobi bersepeda ini.
Ia mengatakan ingin menjadi relawan karena berniat memberikan sedikit tenaga yang dimiliki untuk warga Sumut.
"Kalau ditanya alasan menjadi relawan saya mau memberikan tenaga saya yang cuma sedikit ini buat Sumatera Utara. Harapannya warga Sumut memahami dan bisa ikut sama-sama berusaha meredam virus ini," pungkasnya.
(cr14/tri bun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dokter-zuchri-darmawan-alias-dimas.jpg)