Sosok Arief Budiman, Kakak Soe Hok Gie yang Pernah Dipecat dari Kampus Karena Melakukan Protes
Sahabat Arief Budiman, Daniel Dhakidae mengatakan, kabar meninggalnya tersebut diketahui dari jaringan pertemanan di Yogya.
Sosok Arief Budiman, Kakak Soe Hok Gie yang Pernah Dipecat dari Kampus Karena Melakukan Protes
TRIBUN-MEDAN.com - Sosiolog Arief Budiman (79), yang juga kakak kandung aktivis Soe Hok Gie meninggal dunia, Kamis (23/4/2020).
Arif meninggal dunia di Rumah Sakit Ken Saras, Kabupaten Semarang, sekitar pukul 12.20.
Sahabat Arief Budiman, Daniel Dhakidae mengatakan, kabar meninggalnya tersebut diketahui dari jaringan pertemanan di Yogya.
"Arief meninggal siang ini," jelasnya saat dihubungi melalui telepon.
Arief Budiman rencananya dimakamkan di Pemakaman Bancaan Salatiga. Jenazah diberangkatkan dari RS Ken Saras ke Pemakaman Bancaan.
Penjaga rumah Arief Budiman, Siti mengatakan, Arief dirawat di RS Ken Saras satu minggu lebih. "Beliau menderita parkison dan komplikasi. Tapi sejak dirawat tidak boleh dijenguk," jelasnya.
Aried Budiman adalah aktivis era Orde Baru. Dia pernah mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Kemudian, dia pindah ke Australia.
Setelah itu, Arief yang kelahiran Jakarta 3 Januari 1939, kembali ke Salatiga bersama istrinya, Leila C. Budiman. Mereka tinggal di Jalan Kemiri Candi, Sidorejo Salatiga.
Arief Budiman meninggalkan dua anak dan cucu-cucu.
Berikut profil Arief Budiman:
Arief Budiman seperti diketahui adalah aktivis angkatan 1966 yang selalu konsisten memperjuangkan demokrasi dan membela kaum marjinal.
Dilansir dari Harian Kompas, 30 Oktober 1994, Arief Budiman lahir di Jakarta pada 3 Januari 1941 dengan nama Soe Hok Djin.
Sejak muda ia terlibat aktif dalam gerakan antikemapanan seperti penandatanganan Manifes Kebudayaan, demonstrasi tahun 1966 yang penuh mitos, Golput pada tahun 1971 dan lain-lain.
Arief memang dikenal memiliki sikap keras kepada penguasa, tetapi ia juga tak segan memuji tokoh-tokoh yang memiliki sikap dan pandangan yang ia anggap baik untuk Indonesia walaupun tokoh yang ia puji bertentangan pendapat dengannya.
Baginya, konflik dilihat sebagai komunikasi mengadu gagasan.
Sebagai intelektual, Arief terlihat sering menggunakan pemikiran strukturalisme untuk menggugat kapitalisme Orde Baru.
Ia kritis mempertanyakan masalah kebijakan pembangunan, kemiskinan, ketidakadilan, dan terabaikannya hak asasi manusia. Kritiknya tetap berlanjut meskipun rezim Soeharto telah berakhir.
Sebagai tokoh gerakan demokrasi, Arief menjadi semacam simpul dari berbagai aktivis gerakan yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Terutama pada awal 1980-an ketika gerakan mahasiswa bertransformasi menjadi berbagai kelompok diskusi dan kelompok studi.
Ketika ia masuk Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga pada 1981, semua gerakan di kampus itu sering dihubung- hubungkan punya afiliasi dengan dirinya.
Tak hanya itu, Arief juga disebut manusia di tengah demonstrasi, termasuk pernah juga didemonstrasi beberapa mahasiswa UKSW.
Dipecat dari UKSW
Terhitung sejak 31 Oktober 1994, melalui surat keputusan yang ditandatangani ketua umum dan sekretaris Yayasan UKSW, Arief dipecat dengan tidak hormat dari posisinya sebagai tenaga akademik dan segala jabatan di UKSW.
Alasannya yakni Arief diketahui terus memprotes proses pemilihan rektor yang dianggapnya tak demokratis dan penuh kecurangan.
Oleh pimpinan Arief dianggap merugikan dan merusak citra universitas.
Masih dari sumber yang sama menyebutkan, sejak kecil Arief merasa sering diperlakukan tak adil, kecamuk politik yang berlangsung seiring pertumbuhannya, serta kepekaannya terhadap ketidakadilan, bertaut dengan hal lain agaknya punya peranan dalam altruismenya.
Perlu diketahui, altruismenya adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri.
"Ada teman bilang, kalau tak ada pertentangan jangan-jangan saya malah sakit," kata Arief bercanda.
Suka humor
Doktor Sosiologi dari Universitas Harvard, Amerika Serikat (1981) yang sebelumnya mengenyam pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (lulus 1968) ini sebenarnya pribadi yang suka humor.
Humornya kering dan kadang disampaikan dengan dingin. "Tapi dengan konflik itu saya bisa lebih mengaktualisasikan kebenaran," jelas Arief.
Semua konflik ia hayati sebagai usaha penegakan keadilan yang secara filosofis ia yakini sebagai episode yang tak akan pernah selesai dalam kehidupan.
Itulah yang membuatnya tidak pernah capai berada di tengah kemelut konflik.
Harian Kompas, 11 Agustus 2018 memberitakan, Arief Budiman sempat mengajar sebagai Guru Besar di Universitas Melbourne, Australia.
Selain itu, tentu juga peranan istri yang memahami sikap kejuangannya, Sitti Leila Chaerani yang dinikahinya tahun 1967, dua anaknya, Andrian Mitra Budiman (26) dan Susanti Kusumasari (24).
Mereka tinggal di rumah yang berwawasan ekologis di Desa Kemiri, Salatiga.(*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Sosiolog Arief Budiman, Kakak Soe Hok Gie, Meninggal Dunia"
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/arief-budiman-sosiolog.jpg)