Bikin Tas Pakai Tulang Belakang Manusia, Desainer Asal Indonesia Arnold Putra Dikecam Dunia

Lelaki itu mengaku, material tulang punggung manusia tersebut dia dapatkan dari sumber yang etis, dari pasokan medis di Kanada.

REPRO BIDIK LAYAR VIA byarnoldputra
Sebuah unggahan lama di akun Instagram Arnold Putra yang mempromosikan sebuah kreasi tas dengan menggunakan material kulit lidah buaya dan bagian tulang belakang manusia. 

Namun, dia tidak menjawab, -meski telah beberapa kali ditanya, apakah tulang belakang benar-benar milik manusia?

Insider lantas menghubungi dua ahli osteopati anak dan menunjukkan gambar-gambar tas itu kepada mereka.

Keduanya mengatakan hampir pasti itu adalah tulang belakang manusia, meski tidak sepakat jika disebut itu berasal dari seorang anak.

Dan untuk waktu yang lama, tidak ada yang memperhatikan polemik ini.

Baru kemudian pada tanggal 23 Maret, seorang mahasiswa dan kurator berusia 19 bernama Maxim mengunggah hasil tangkapan layar dari akun @byarnoldputra ke akun Twitter-nya @wqbisabi.

Dari sana, kabar ini mulai dibagikan secara luas, sering disertai dengan beragam kecaman dan kemarahan.

Segera, orang-orang mulai membombardir Instagram Arnold Putra, dan distributor karya tersebut, dengan pertanyaan tentang dari mana bahan-bahan itu berasal.

 

Lalu, ada juga yang mempertanyakan, mengapa dia akan mengubah tulang belakang manusia menjadi sebuah tas?

Plastinasi manusia dan kulit albino

Satu penjelasan datang dari The Unconventional, yang juru bicaranya menjawab pertanyaan WhatsApp yang dibagikan di media sosial, dan kemudian dikonfirmasi sebagai material asli oleh Insider.

"Dia menukar barang-barang suku-suku kuno dengan barang-barang yang dianggap berharga bagi mereka."

Namun, Arnold Putra mengaku kepada Insider, dia tidak bepergian ke daerah kesukuan ketika koleksi ini dibuat.

"Metode saya dalam mengumpulkan material tak terkait dengan perjalanan saya ke tempat-tempat itu," kata dia. 

Dia lalu mengaku, tulang belakang itu dia dapatkan dari asupan medis dari di Kanada. Menurut dia, adalah hal yang mungkin untuk membeli tulang manusia dari perusahaan berlisensi.

Perusahaan tersebut biasanya menerima spesimen manusia yang disumbangkan untuk obat-obatan, dan kadang-kadang pula menjualnya sebagai "surplus". Pada bagian inilah Arnold mendapatkannya.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved