Eco-enzyme Disarankan sebagai Disinfektan, Ramah Lingkungan dan Aman Bagi Tubuh

Yayasan Budaya Hijau Indonesia menganjurkan penggunaan eco-enzyme sebagai cairan disinfektan.

HO
Relawan Yayasan Budaya Hijau menyemprotkan eco-enzyme di Medan Night Market beberapa waktu lalu. Disinfektan ramah lingkungan ini diklaim dapat "memakan" virus dan bakteri. 

TRIBUN-MEDAN.com - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah mengingatkan bahwa penyemprotan disinfektan ke permukaan tubuh tidak mampu membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh.

Tindakan ini justru berbahaya karena kandungan klorin, alkohol dan hidrogen peroksida dapat berbahaya jika terkena kulit. Ketua Yayasan Budaya Hijau Indonesia, Bathara Surya Yusuf, pun menawarkan solusi.

Ia menganjurkan agar masyarakat menggunakan cairan eco- enzyme sebagai pengganti cairan disinfektan.

"Cairan disinfektan yang mengandung klorin, alkohol dan hidrogen peroksida bisa berbahaya saat terkena kulit atau selaput lendir seperti mata. Makanya penyemprotannya di jalan bisa berpotensi berbahaya karena jalan raya merupakan tempat umum," ujar Bathara, Selasa (7/4/2020).

Cairan eco-enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah, sayur, yang kemudian difermentasikan dengan air dan induk gula (molase) selama kurang lebih seratus hari.

Eco-enzyme dapat "memakan" virus-virus berbahaya yang terdapat di udara, karena kandungannya dapat melepaskan zat ozon (O3) dan mengurangi karbondioksida (CO2).

"Bakteri yang dihasilkan dari proses fermentasi yang ada pada eco-enzyme kita semprotkan ke udara. Selain mengubah ozon menjadi oksigen murni, eco-enzyme juga dapat memangsa virus dan bakteri yang ada di udara," kata Bathara.

Cairan eco-enzyme, saat tiba masanya (panen) dapat digunakan untuk berbagai fungsi seperti pengganti sabun mandi, pembersih lantai, pupuk cair untuk tanaman, untuk kumur mulut, dan banyak lagi.

Bathara mengatakan bahwa edukasi di masyarakat yang masih kurang menyebabkan cairan eco-enzyme yang lebih ramah lingkungan belum populer.

"Kita terpaku hanya pada disinfektan konvensional yang pada dasarnya hanya untuk disemprot ke benda. Sementara eco- enzyme kalau disemprot ke kulit tidak akan memiliki efek samping, malah dia membunuh kuman dan bakteri," katanya.

Ketua organisasi nirlaba yang bergerak di bidang lingkungan ini mengatakan perlunya informasi yang sehat dan positif serta akurat yang disampaikan ke masyarakat khususnya terkait virus corona. Karena menurutnya, informasi menjadi berpengaruh sangat besar bagi kondisi psikologis dan imunitas manusia.

"Makanya dibutuhkan penyebaran informasi yang edukatif dan akurat. Misalnya kalau disebarkan bahwa bilik penyemprotan itu tidak efektif menurut WHO, maka harus disampaikan juga solusinya," ujarnya. 

Pelatihan pembuatan cairan fermentasi sampah dapur (eco-enzyme) oleh Yayasan Budaya Hijau Indonesia di Sidorejo Hilir Medan Tembung Rabu (8/1/2020).
Pelatihan pembuatan cairan fermentasi sampah dapur (eco-enzyme) oleh Yayasan Budaya Hijau Indonesia di Sidorejo Hilir Medan Tembung Rabu (8/1/2020). (Tribun Medan/Hani Ritonga)

Banyak Manfaat

Yayasan Budaya Hijau melakukan penyemprotan eco-enzyme di Medan Night Market beberapa waktu lalu. Sebelumnya, organisasi ini juga telah menggunakan eco-enzyme untuk membersihkan sungai-sungai di Medan.

Bathara Surya Yusuf mengatakan bahwa dirinya berharap masyarakat mulai tersadarkan untuk peduli terhadap lingkungan setelah mengetahui manfaat eco-enzyme.

"Kita lihat masyarakat semakin antusias, nanti dari sini kita kalau ada yang minta kita adakan pelatihannya kita akan adakan. Tapi kita tidak bergerak untuk tujuan komersial. Harapannya, warga bisa membuat eco-enzyme sendiri di rumah," ujarnya.

Satu di antara para peserta yang turut menyemprotkan eco- enzyme ke udara di Medan Night Market, Ida, menceritakan pengalaman pribadinya mengenai manfaat yang dirasakan dari eco enzyme. Ia mengatakan eco-enzyme membuat rumah mereka lebih bersih dan segar. Juga dapat menyembuhkan sakit gigi dan luka.

"Sejak pakai eco-enzyme untuk membersihkan rumah, tikus, kecoa alhamdulillah hilang semua. Saya juga pakai untuk kumur untuk mengobati sakit gusi dan gigi saya karena behel," ujar Ida.

Ia berharap semakin banyak masyarakat yang teredukasi untuk menggunakan cairan eco-enzyme untuk memerangi wabah Covid-19. Karena, menurut Ida proses pencegahan yang kurang tepat hanya akan mengulur waktu tanpa ada usaha yang efisien.

"Di mana-mana sekarang kan banyak penyemprotan disinfektan yang bisa bahaya jika terkena kulit atau mata, sementara eco- enzyme bisa lebih efektif karena membunuh virus di udara dan aman untuk tubuh. Serta yang paling penting eco enzyme ramah lingkungan," pungkasnya. (cr14)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved