Kabar Terkini Corona di Dunia - 11.591 Meninggal di Italia, 7.716 di Spanyol, Ini Daftar Lengkapnya
Italia dan Spanyol mengantongi jumlah kematian terbanyak kasus positif virus corona, melampaui China dan AS.
Hal ini membuat kasus corona di AS bertambah menjadi 161.088.
Sementara itu, Italia menjadi negara di Eropa dengan jumlah kasus paling banyak, diikuti Spanyol.
Dua negara tersebut juga mengantongi jumlah kematian terbanyak, melampaui China dan AS.
TRI BUN-MEDAN.com - Perkembangan persebaran wabah virus corona atau Covid-19 pada level dunia masih menyedihkan.
Italia mendominasi kondisi parah virus corona di benua Eropa.
Sementara parahnya Spanyol, menyalib China yang kini sudah berangsur membaik.
Berikut ini update corona (Covid019) per Selasa, 31 Maret pukul 06.00 WIB, kasus di Italia tembus 100 ribu dengan jumlah kematian mencapai 11 ribu orang.
Berdasarkan data worldometers.info, jumlah kasus corona di Amerika Serikat (AS) semakin meningkat.
Sejak Senin (30/3/2020) hingga Selasa, kasus Covid-19 di AS meningkat sebanyak 17.597.
Hal ini membuat kasus corona di AS bertambah menjadi 161.088.
Sementara itu, Italia menjadi negara di Eropa dengan jumlah kasus paling banyak, diikuti Spanyol.
Dua negara tersebut juga mengantongi jumlah kematian terbanyak, melampaui China dan AS.
Selasa pagi, kasus Covid-19 di Italia telah tembus angka 100 ribu.
Sedangkan Spanyol mengantongi 87.956 kasus.
Secara global, total kasus corona di seluruh dunia mencapai 781.485.
Sebanyak 37.578 dinyatakan meninggal akibat virus yang pertama kali muncul di Wuhan, China ini.
Sementara 164.726 lainnya sembuh.
Berikut ini update data kasus corona di 20 negara dengan jumlah pasien terbanyak per Selasa pukul 06.00 WIB:
1. Amerika Serikat
Terkonfirmasi: 161.088
Meninggal: 2.968
Sembuh: 5.245
2. Italia
Terkonfirmasi: 101.739
Meninggal: 11.591
Sembuh: 14.620
3. Spanyol
Terkonfirmasi: 87.956
Meninggal: 7.716
Sembuh: 16.780
4. China
Terkonfirmasi: 81.470
Meninggal: 3.304
Sembuh: 75.700
5. Jerman
Terkonfirmasi: 66.885
Meninggal: 645
Sembuh: 13.500
6. Prancis
Terkonfirmasi: 44.550
Meninggal: 3.024
Sembuh: 7.927
7. Iran
Terkonfirmasi: 41.495
Meninggal: 2.757
Sembuh: 13.911
8. Inggris
Terkonfirmasi: 22.141
Meninggal: 1.408
Sembuh: 135
9. Swiss
Terkonfirmasi: 15.922
Meninggal: 359
Sembuh: 1.823
10. Belgia
Terkonfirmasi: 11.899
Meninggal: 513
Sembuh: 1.527
11. Belanda
Terkonfirmasi: 11.750
Meninggal: 864
Sembuh: 250
12. Turki
Terkonfirmasi: 10.827
Meninggal: 168
Sembuh: 162
13. Korea Selatan
Terkonfirmasi: 9.661
Meninggal: 158
Sembuh: 5.228
14. Austria
Terkonfirmasi: 9.597
Meninggal: 108
Sembuh: 636
15. Kanada
Terkonfirmasi: 7.427
Meninggal: 86
Sembuh: 1.093
16. Portugal
Terkonfirmasi: 6.408
Meninggal: 140
Sembuh: 43
17. Israel
Terkonfirmasi: 4.695
Meninggal: 16
Sembuh: 161
18. Brasil
Terkonfirmasi: 4.579
Meninggal: 159
Sembuh: 120
19. Norwegia
Terkonfirmasi: 4.445
Meninggal: 32
Sembuh: 12
20. Australia
Terkonfirmasi: 4.359
Meninggal: 18
Sembuh: 244
Untuk melihat daftar lengkap negara terjangkit Covid-19 klik di sini.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W)
Sumber: https://www.tribunnews.com/corona/2020/03/31/update-corona-hari-ini-31-maret-2020-kasus-di-italia-tembus-100-ribu-spanyol-lampaui-china
Kapan Badai Corona Berakhir? Muncul Titik Terang Jawabannya, Ahli Beberkan Syarat, Berat Tapi Harus
Kapan badai virus corona berakhir? Beberapa ahli membeberkan prediksi berakhirnya pandemi Covid-19, syarat-syaratnya memang tidak mudah, tapi harus dijalankan.
Seorang ahli biofisika Stanford dan pemenang Nobel, Michael Levitt membuat analisis yang memperkirakan berkurangnya jumlah kematian terkait COVID-19.
Penurunan drastis angka kematian yang diiringi peningkatan angka kesembuhan pasien Covid-19 menurutnya adalah tanda-tanda awal berakhirnya pandemi virus corona.
Analisis yang dimulai Levitt sejak Januari 2020 itu menunjukkan perhitungannya dengan tepat.
Ia menemukan bahwa China akan melalui titik terburuknya terhadap virus corona jauh sebelum para pakar kesehatan memperkirakan.
Ilmuwan penerima hadiah Nobel 2013 itu mengibaratkan wabah adalah mobil yang melaju di jalan raya.
Meskipun mobil itu masih memiliki kecepatan tertentu, bukan berarti mobil akan mengalami peningkatan kecepatan yang sama besar seperti sebelumnya.
"Ini menunjukkan bahwa tingkat peningkatan jumlah kematian akan melambat pada pekan-pekan mendatang," tulis Levitt dalam sebuah laporan yang dikirim kepada teman-temannya, 1 Februari lalu.
Laporan tersebut juga secara luas dibagikan melalui media sosial di China.
Itulah mengapa ia memperkirakan jumlah kematian akan berkurang setiap hari.
Tiga minggu setelahnya, Levitt mengatakan kepada China Daily News bahwa tingkat pertumbuhan virus telah memuncak.
Dia memperkirakan bahwa jumlah total kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di China akan mencapai sekitar 80.000, dengan sekitar 3.250 kematian.
Prediksi tersebut ternyata sangat akurat.
Total kasus Covid-19 di China pada 16 Maret 2020 tercatat sejumlah 80.298 kasus dan 3.245 kematian.
Jumlah kasus baru pun berkurang, turun sekitar 25 pasien setiap harinya.
Hal Serupa akan Terjadi di Negara Lain
Penerima hadiah Nobel untuk pengembangan model kompleks sistem kimia 2013 itu mengungkapkan adanya titik balik yang serupa di negara-negara lain.
Levitt menganalisis data dari 78 negara yang melaporkan lebih dari 50 kasus Covid-19 baru setiap harinya dan melihat adanya tanda-tanda pemulihan di banyak negara.
Dia tidak fokus pada jumlah total kasus di suatu negara, tetapi lebih pada jumlah kasus baru yang diidentifikasi setiap hari, terutama pada perubahan jumlah dari satu hari ke hari berikutnya.
Misalnya, di Korea Selatan, kasus baru memang masih muncul dan membuat jumlah total kasus bertambah.
Namun, perhitungan kasus baru setiap harinya telah menurun dalam beberapa minggu terakhir dengan angka tetap di bawah 200.
Selanjutnya Iran, jumlah kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi per harinya relatif datar sejak pekan lalu.
Pada Senin pekan lalu, kenaikan kasus mencapai 1.053, tetapi pada hari Minggu hanya 1.028.
Meskipun angka kasus baru tersebut terbilang masih cukup tinggi, kata Levitt, tetapi polanya menunjukkan bahwa wabah di sana seolah sudah melewati batas setengah jalan dari masa ledakan wabah.
Prediksi Ahli di China
Sementara itu, ahli di China memprediksikan pandemi virus corona akan segera berakhir pada Juni 2020.
Dilansir dari New York Post, penasihat medis senior China, Zhong Nanshan, mengatakan pandemi virus corona dapat berakhir pada bulan Juni jika negara-negara di seluruh dunia mengambil tindakan tegas dalam memerangi wabah tersebut.
"Jika semua negara bisa dimobilisasi, virus corona bisa berakhir pada Juni," kata Zhong
"Perkiraan saya bulan Juni didasarkan pada skenario bahwa semua negara mengambil tindakan positif," tambahnya.
Syarat Penting agar Prediksi Berakhirnya Pandemi pada Juni dapat Terjadi
"Saran saya menyerukan semua negara untuk mengikuti instruksi WHO dan melakukan intervensi pada skala nasional," imbuhnya lagi.
Panasihat medis senior China itu menambahkan, jika negara-negara tidak melakukannya, virus dapat bertahan lebih lama.
Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan Michael Levitt bahwa jaga jarak sosial adalah penting mengingat vaksin untuk virus corona belum bisa digunakan.
Selain itu, ia juga menambahkan perlu deteksi dini yang lebih baik, tidak hanya melalui pengujian, tetapi juga bisa dengan pengawasan suhu tubuh seperti diterapkan China, dan isolasi sosial.
(TribunStyle.com/Gigih Panggayuh)
Artikel Ini Sudah Tayang di Tribun Style dengan Judul UPDATE Corona Dunia Hari Ini, 31 Maret: Italia 'Juara Covid-19' Eropa, Parahnya Spanyol Lebihi China
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/30-pasien-covid-19-tidak-menunjukkan-gejala-awal.jpg)