Travel
Potret Desa Tak Bernyawa di Tanah Karo Gambarkan Peradaban Kelabu Kaki Gunung Sinabung
Permukiman yang berada di pinggiran Jalan Berastepu - Gambir, Kecamatan Simpang Empat dan Desa Bekerah, Kecamatan Neman Teran
Penulis: Alija Magribi | Editor: Salomo Tarigan
T R I B U N-MEDAN.com, KABANJAHE - Letusan Gunung Sinabung yang terjadi satu dekade yang lalu menyimpan ruang hampa nyawa dari beberapa desa di bawahnya.
Sejumlah desa dan fasilitas publik bagaikan gambaran peradaban kelabu dari kaki gunung tertinggi kedua di Sumatra Utara ini.
• BUKAN WUHAN, Terkini Asal Virus Corona Ditemukan Peneliti China, Pria Jepang dari Indonesia Positif
• Ibunda Lyodra Ginting Apresiasi Dukungan Warga Medan untuk Putrinya di Final Indonesian Idol 2020
Zona Merah dicanangkan pada beberapa desa di bawahnya.
Beberapa di antara desa atau kawasan kaki Gunung Sinabung yang didatangi awak T r i b u n Medan adalah permukiman yang berada di pinggiran Jalan Berastepu - Gambir, Kecamatan Simpang Empat dan Desa Bekerah, Kecamatan Neman Teran, Kabupaten Tanah Karo.
Kunjungan ke desa tanpa aktivitas manusia ini, membuat siapa pun merinding.
Bukan tanpa alasan, puluhan bangunan rumah warga beserta isinya kian rusak termakan waktu, setelah ditinggalkan pemiliknya bertahun-tahun.
• Adik Paula Verhoeven Resmi Dinikahi Nail Fadhly, Lihat Potret Mewahnya Pesta Pernikahannya
• BUKAN WUHAN, Terkini Asal Virus Corona Ditemukan Peneliti China, Pria Jepang dari Indonesia Positif
SMP Negeri 1 Simpangempat yang berlokasi tepat di Jalan Berastepu - Gambir, Kecamatan Simpangempat bak monumen sejarah kemarahan Sinabung.
Plang sekolah yang masih kokoh, menggambarkan puluhan manusia pernah dididik di sini.
Atap bangunan di sekolah ini runtuh tak bersisa. Ilalang dan rerumputan memenuhi ruang-ruang, menggantikan murid yang dahulu mengenyam pendidikan setiap pagi.
Suasana nahas yang sama juga terlihat di Desa Bekerah, Kecamatan Neman Teran. Permukiman yang konon dihuni 400 Kepala Keluarga (KK) seperti kampung mati.
Hembusan desir angin yang menggoyangkan seng dan bangunan rumah adalah suara yang bisa didengar di sini.
Bahkan di sebuah rumah, ditemukan piala milik penghuninya yang tak sempat dibawa pulang.
• BUKAN WUHAN, Terkini Asal Virus Corona Ditemukan Peneliti China, Pria Jepang dari Indonesia Positif
Ada beberapa pakaian, lemari, tempat tidur, perabot rumah yang ditinggal.
David Sembiring, salah seorang warga mengatakan berbagai opsi diberikan bagi masyarakat yang papannya dihantam abu Sinabung, yaitu merelokasi ke tempat yang aman atau penggantian uang Rp150 juta.
• Ibunda Lyodra Ginting Apresiasi Dukungan Warga Medan untuk Putrinya di Final Indonesian Idol 2020
"Pemerintah waktu itu beri pilihan, uang Rp 150 juta atau direlokasi ke tempat lain seperti ke Siosar. Banyak juga yang memilih uang dan meninggalkan tempat tinggal," ujar David.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/penampakan-rumah-rumah-warga-kaki-gunung-sinabung.jpg)