Sanusi Pane Dinilai Layak Jadi Pahlawan Nasional dari Sumatera Utara

Balai Bahasa Sumatra Utara (BBSU) merekomendasikan tokoh pergerakan nasional yang juga sastrawan, Sanusi Pane, menjadi pahlawan nasional dari Sumut.

Tribun Medan/Victory Arrival Hutauruk
Kepala Balai Bahasa Sumatra Utara Maryanto 

TRIBUN-MEDAN.com - Balai Bahasa Sumatra Utara (BBSU) merekomendasikan tokoh pergerakan nasional yang juga sastrawan, Sanusi Pane, menjadi pahlawan nasional dari Sumut.

Sanusi dikenal sebagai seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru yang karya-karyanya banyak diterbitkan antara 1920 hingga masa kemerdekaan. 

Kepala Balai Bahasa Sumatra Utara, Maryanto menyebutkan bahwa Sanusi layak diangkat menjadi pahlawan nasional.

"Selain membicarakan bagaimana sejarah pergerakan lahirnya bahasa persatuan Indonesia, tujuan dari seminar ini juga untuk mengangkat tokoh pergerakan nasional Sanusi Pane agar memperoleh gelar pahlawan," katanya, Sabtu (22/2/2020) di Medan.

Sanusi Pane dianggap berjasa karena ikut memperjuangkan lahirnya satu bahasa pemersatu. Meski Indonesia baru merdeka pada 1945, namun gagasan itu sudah diperjuangkan sejak 1926, di Kongres Bahasa yang mendorong lahirnya Sumpah Pemuda 1928. 

"Tidak hanya melahirkan bahasa persatuan Indonesia, Sanusi Pane juga melahirkan lembaga kebahasaan yaitu Institut Bahasa Indonesia sebagai lembaga yang bertanggungjawab terhadap perkembangan kebahasaan," tutur Maryanto.

Menurutnya, nama Sanusi Pane kalah familiar dengan tokoh lain yang bergerak di bidang sastra.

"Hal inilah yang mendasari BBSU memperjuangkan agar Sanusi Pane diangkat menjadi pahlawan nasional dari Sumatra Utara," ungkapnya.

Gagasan tersebut, kata Maryanto, juga sudah mendapatkan dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara. 

"Gagasan ini sudah kami sampaikan ke Gubernur Sumut dan Dewan Perwakilan Rakyat Sumut. Alhamdulillah, sudah mendapat dukungan penuh dan mereka setuju," pungkasnya.

Sanusi Pane cukup produktif dalam menghasilkan karya kesusastraan, diantaranya Pancaran cinta (1926), Prosa Berirama (1926), Puspa Mega (1927), Kumpulan Sajak (1927), Airlang ga (drama berbahasa Belanda, 1928), Eenzame Garoedavlucht (drama berbahasa Belanda, 1929), Madah Kelana (1931).

Kertajaya (drama, 1932), Sandhyakala Ning Majapahit (drama, 1933), Manusia Baru (drama, 1940), Kakawin Arjuna Wiwaha (karya Mpu Kanwa, terjemahan bahasa Jawa Kuno, 1940). 

Sanusi lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara, 14 November 1905 – meninggal di Jakarta, 2 Januari 1968 pada umur 62 tahun.

(vic/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved