Kemah Lake Toba Film Festival, Sinergikan Komunitas Film dengan Ekosistem Pariwisata

Peserta Kemah Lake Toba Film Festival (LTFF) di Pulau Samosir masih terus berdatangan ke Pantai Situngkir, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

Penulis: Arjuna Bakkara |

TRIBUN-MEDAN.com - Peserta Kemah Lake Toba Film Festival (LTFF) di Pulau Samosir masih terus berdatangan ke Pantai Situngkir, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir, hingga Sabtu Pukul 14.00 WIB, Sabtu (15/11/2019). Orang-orang dari berbagai latar belakang bercengkerama di sekitar tenda-denda camping berbagai warna tersebut.

Pantai yang biasanya hening tersebut ramai riuh oleh suara-suara pengunjung yang sudah semalaman mendirikan camp. Sebagian sibuk menyusuri setiap sudut pantai sambil membawa kamera dan mengabadikan momen-momen yang dianggap menarik bagi mereka.

Kemah didirikan ada yang berhadap-hadapan dan tidak sedikit yang memilih menghadap ke Danau Toba yang berlatar Gunung Pusuk Buhit yang diyakini sebagai muasal orang Batak dan peradabannya. Peserta bahkan berjemur di sepanjang pantai menikmati semilir angin Danau Toba.

Tumpak Wilmark Hutabarat Sekretaris Rumah Karya Indonesia yang sebagai penyelenggara acara ini menyampaikan, kegiatan LTFF berlangsung sejak 15-17 November 2019 besok. Kegiatan ini disebutnya acara yang digelar untuk ketigakalinya.

Output acara ini diharapkan bisa menjadi kombinasi ekosistem film di Sumatera Utara. Tetapi, film tersebut juga bisa dinikmati para pejalan yang justru bisa menghadirkan tontonan baru.

"Sebagai kombinasi ekosistem film di Sumatera Utara, namun juga film tersebut bisa dinikmati para pejalan dan bisa mengapresiasi juga,"ujar Tuppak yang telah berkelana ke puluhan negara di Asia dan Eropa ini.

Untuk kemah ini, mereka membuat konsep menyerupai 1000 tenda yang sudah berjalan selama tiga tahun seperti di Paeopo, Meat dan Samosir. Para pejalan diasuguhkan film bertema kebudayaan serta menghadirkan ruang-ruang kreasi dan bisa dinikmati masyarakat juga memajukan Indonesia.

Untuk konten kali ini Kata Tuppak, menghadirkan kemah film 1000 tenda. Lalu, mereka RKI (Rumah Karya Indonesia) tidak luput menghadirkan tontonan di Desa Lumban Suhi-suhi.

Warga usia tua muda di sini berbaur dengan warga menghadap layar proyektor. Duduk bersila di halaman Rumah Batak menikmati suguhan film bertema kebudayaan malam pertama kegiatan diselenggarakan.

Kemudian di areal kemah juga digelar bioskop terbuka membelakangi Danau Toba untuk malam seni budaya. Selain itu, ada juga ruang diakusi simposium berkaitan dengan flm dan penulisaan naskah.

Pada kemah film 1000 tenda inj ada Sineas yang datang dari bergai wilayah untuk meramaikann. Antara lain dari Jawa Barat, Padang Panjang Sumbar dan lainnya.

"Jadi, di sini kita menghadirkan satu ruang baru sebenarnya membangun ekosistem film di Sumatera Utara untuk yang lebih baik,"sebut pria yang akrab disapa ''Siparjalang,''ini. (jun/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved