Aktif Jaga Toleransi di Siantar, Humatob Akan Mulai Dengan Berziarah ke Makam Pendiri

Himpunan Masyarakat Batak Toba (Humatob) segera aktif lagi untuk menjaga rasa kondusifitas dan toleransi Kota Pematangsiantar

Penulis: Tommy Simatupang |
TRIBUN MEDAN/TOMMY SIMATUPANG
Pengurus Humatob usai rapat untuk melakukan ziarah ke makam badan pendiri, Rabu (30/10/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Himpunan Masyarakat Batak Toba (Humatob) segera aktif lagi untuk menjaga rasa kondusifitas dan toleransi Kota Pematangsiantar.

Organisasi yang dibentuk pada tahun 2003 ini akan melakukan ziarah ke makam para pendiri Humatob.

Ada empat makam pendiri yang akan didatangi yakni Resman Panjaitan, MR Sidabutar, Lian Harianja, dan Mangandar Sidabutar.

Empat makam ini berada di dua daerah yakni Siantar dan Samosir. Lalu, Humatob akan membentuk rapat konsolidasi untuk memilih ketua pengurus baru.

Salah satu Pendiri Humatob Kanor Butarbutar mengatakan kegiatan akan dilaksanakan Sabtu (2/11/2019).

Pria yang akrab dipanggil Garogol ini mengatakan tujuan mengaktifkan lagi Humatob ini untuk menjaga toleransi di Kota Pematangsiantar.

Humatob siap mendukung pemerintah untuk kepentingan pembangunan.

"Untuk menghidupkan kembali diawali dengan ziarah ke makam badan pendiri. Kita mendukung pemerintahan. Selama itu untuk membangun. Kita berikan waktu,"ujarnya, Rabu (30/10/2019).

Garogol menjelaskan Humatob hadir untuk menyatukan seluruh masyarakat Batak Toba.

Kehadiran Humatob sebagai peran elemen masyarakat untuk menjaga kondusifitas suatu daerah.

Ia berharap tidak ada lagi konflik yamg dapat memecah toleransi di Kota Pematangsiantar.

Garogol menceritakan Humatob sebuah organisasi yang berdiri atas sebuah rumor pelarangan menggunakan bahasa Batak Toba di Siantar.

Dan, ada juga rumor tidak boleh pimpinan dari luar suku Simalungun.

Pada tahun 2003, Humatob menggelar Gondang Partangiangan Raja Batak di Lapangan Adam Malik. Setelah dilakukan even itu, muncul struktur organisasi dengan ketua pertama terpilih yakni Teddy Silalahi.

"Kami ingin mempersatukan bahwa orang batak itu satu. Tumbuh kami dulu karena ada wacana tidak ada yang lain memimpin selain Simalungun. Ada pemikiran-pemikiran yg kurang positif melarang menggunakan bahasa Batak Toba di Siantar,"katanya ditemani salah satu pendiri Jayadi Sagala dan Julham Situmorang.

Para pendiri Humatob pun menemui para petuah adat ya g berada di Kota Pematangsiantar.

"Pada saat itu berkumpul pemuda-pemuda menjumpai orang tua kita. Setelah proses yg sudah berapa lama. Kita langsung adakan Gondang Partangiangan si Raja Batak,"katanya.

Ia mengatakan berdiri Humatob mendapatkan persetujuan dari suku lain yang berada di Kota Pematangsiantar.

Garogol memastikan seluruh masyarakat Batak Toba dapat bebas masuk dalam perkumpulan ini. Humatob berniat akan mengaktifkan lagi pengurus hingga di luar Kota Pematangsiantar.

"Konsolidasi kembali dan bentuk panitia pengurusan baru. Niat ada mendirikan di luar daerah dengan pusat di Kota Pematangsiantar,"ujarnya.

Saat disinggung tentang aktifnya lagi Humatob karena menyambut Pilkada Siantar-Simalungun, Garogol langsung membantah hal itu. Ia mengatakan Humatob tidak ada mendukung pasangan calon maju dalam Pilkada 2020.

(tmy/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved