Mark Zuckerberg Tuding TikTok dan China Mengancam Kebebasan Berpendapat

Ia menyoroti TikTok sedang menjadi sorotan karena diduga menyensor beragam konten yang terkait dengan demonstrasi Hong Kong.

Paul Marotta / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP
Mark Zuckerberg memberikan sambutan dalam upacara wisuda ke-366 Universitas Harvard pada Kamis (25/5/2017). 

TRIBUN-MEDAN.com - "Apakah ini internet yang kita inginkan?" tanya Mark Zuckerberg, di sela kuliah umum di Universitas Georgetown, AS pekan ini.

Orang nomor satu di Facebook itu sedang mengkritik TikTok, platform video pendek populer besutan ByteDance, perusahaan asal China.

Ia menyoroti TikTok sedang menjadi sorotan karena diduga menyensor beragam konten yang terkait dengan demonstrasi Hong Kong.

Dengan penghapusan konten tersebut, Zuckerberg menudung TikTok tidak sejalan dengan kebebasan berpendapat (free speech) di internet, salah satu prinsip yang dipegang olehnya.

Zuckerberg membandingkan kebijakan TikTok dengan Facebook, misalya di aplikasi chatting WhatsApp yang menurut dia dipakai oleh beragam elemen pengguna, termasuk mereka yang melakukan aksi demonstrasi di Hong Kong.

Tik Tok. (Istock / tiktokv.com)
Tik Tok. (Istock / tiktokv.com) (Istock / tiktokv.com)

Meski digunakan oleh para demonstran, Zuckerberg mengaku tidak sewenang-wenang membatasi WhatsApp. Sebab, aplikasi tersebut dibekali dengan sistem keamanan yang kuat, berbeda dengan TikTok.

"Di TikTok, seluruh konten yang berbau demo (Hong Kong) disensor, bahkan untuk para penggunanya di AS," tutur Zuckerberg.

Baca: Lagi Marak, Anak Alami Gangguan Jiwa akibat Kecanduan Game Online

Baca: Mengantuk Antar Istri Berobat, Sedan Tabrak Truk hingga Terbakar, 4 Orang Sekeluarga Tewas Terbakar

China mengancam kebebasan berpendapat?

TikTok bereaksi dengan membantah tuduhan Zuckerberg ini. Menurut juru bicara TikTok, pihaknya tidak menghapus konten berbau demonstrasi Hong Kong.

"Pemerintah China tidak meminta TikTok untuk menghapus konten dan memang tidak memiliki wewenang, karena TikTok tidak beroperasi di sana (China)," kata juru bicara TikTok kepada CNBC, sebagaimana dirangkum KompasTekno, Sabtu (19/10/2019).

TikTok memang tidak beroperasi di China. Namun, ByteDance punya aplikasi serupa bernama Douyin.

Aplikasi Douyin ini sangat terikat dengan regulasi yang berlaku dan diatur oleh pemerintah Negeri Tirai Bambu.

Terkait kebabasan berpendapat di internet, Zuckerberg mengaku khawatir akan masa depan warganet.

Sekarang, menurut dia, sebanyak 6 dari 10 aplikasi yang populer secara global berasal dari China, salah satunya TikTok. 

Baca: MISTERI Kasus Novel Baswedan, Jokowi Gak Jawab, Sudah Kasih Waktu 3 Bulan Kapolri Tito Karnavian

Baca: Jelang Pelantikan Presiden, Kapolres Asahan Instruksikan Patroli ke Seluruh Wilayah

Padahal lanjut Zuckerberg, 10 tahun lalu seluruh aplikasi populer berasal dari AS yang membela prinsip free speech alias kebebasan mengekspresikan pendapat, termasuk di internet.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved