Bosan 4 Tahun Kuliah, Pemuda Ini Pulkam Beternak Babi, Kini Jadi Pengusaha Sukses Beromzet Miliaran

Bosan 4 Tahun Kuliah, Pemuda Ini Pulkam Beternak Babi, Kini Jadi Pengusaha Sukses Beromzet Miliaran

Editor: Juang Naibaho
KOMPAS.COM/NANSIANUS TARIS
Leonard Renold Tanto (26), memantau kondisi babi-babi di kandang tepatnya di Desa Nampung Lau, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, Rabu (18/9/2019). 

Bosan 4 Tahun Kuliah, Pemuda Ini Pulkam Beternak Babi, Kini Jadi Pengusaha Sukses Beromzet Miliaran

TRIBUN MEDAN.com - Setelah memutuskan berhenti kuliah di jurusan Ilmu Komunikasi karena bosan, Leonard Renold Tanto kembali ke kampung halamannya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebulan menganggur, Renold memutuskan beternak babi.

Padahal, saat itu ia tidak mengerti sama sekali ihwal teknis beternak babi. Ia cuma punya tekad dan kemauan.

Kini, Renold menjadi peternak babi yang sukses. Pemuda yang masih berusia 26 tahun itu kini meraup omzet miliaran rupiah.

Kisah Renold, seorang pemuda asal Desa Nampung Lau, Kecamatan Waigete, Kabupaten Sikka, NTT, ini memang patut menjadi inpsirasi.

Baca: Pengantin Wanita Hamil Meninggal Terserang Stroke Jelang Pemberkatan, Begini Nasib Bayinya

Baca: Nasib Anggota TNI Gadungan Diringkus Buser, Ternyata 3 Wanita Ini Jadi Korban Termasuk Mahasiswi

Baca: Gara-gara Video Keceplosan, Rencana Pernikahan Rezky Aditya dan Citra Kirana Bocor ke Publik

Semula, Renold kuliah hingga semester 8 di kampus Widya Mandala Surabaya dengan jurusan ilmu komunikasi.

Renold bahkan sedang menyelesaikan skripsinya. Tetapi, ia memilih berhenti kuliah dan melepaskan tulisan akhirnya begitu saja dengan alasan bosan.

Ia berhenti kuliah pada semester akhir. Alhasil, Renold tak berhasil menyandang gelar sarjana Ilmu Komunikasi.

Tapi, Renold tak pernah menyesali pilihannya meninggalkan bangku kuliah. Meski sudah menghabiskan waktu studi selama 4 tahun.

Renold juga mengaku kuliah dan ambil jurusan komunikasi tanpa cita-cita mau jadi apa. Tidak ada motivasi apa pun masuk jurusan itu.

"Pada bulan November 2014, saya memutuskan berhenti kuliah. Skripsi saya lepas. Saya pulang ke Kota Maumere. Alasannya, saya bosan kuliah. Itu saja," kata pemuda yang kerap disapa Renold saat berbincang dengan Kompas.com, Rabu (18/9/2019) siang.

Ia menceritakan, setelah tiba di Maumere, ia langsung memikirkan apa yang harus dikerjakan agar tidak menganggur.

Tidak sampai satu bulan di Maumere, ia memutuskan untuk beternak babi.

Renold menceritakan, awalnya ia tidak mengerti sedikit pun tentang bagaimana beternak babi.

Dengan modal uang tiket, ia berangkat ke Bali dan Kupang untuk mempelajari bagaimana teknisnya orang beternak babi.

"Selama di 2 tempat ini saya belajar vaksin, kebiri, dan takaran obat untuk babi. Selebihnya saya lihat-lihat saja cara mereka merawat babi di kandang," katanya.

Baca: Setelah Digerebek Bareng Pria Beristri, Kini Pedangdut Seksi Xena Xenita Divonis 3 Bulan Penjara

Baca: Balita Tewas Dalam Insiden Baku Tembak KKB Papua Versus TNI-Polri, Total Korban 3 Tewas dan 4 Luka

Renold mengatakan, ia memilih beternak babi itu punya alasan yang jelas.

Prospek ternak babi di Maumere cukup bagus dan menjanjikan.

"Acara apa saja di Maumere pasti butuh babi. Saya putuskan untuk ternak babi. Daripada tidak ada kerja," kata pemuda yang masih status lajang itu.

Renold mengisahkan, awal usaha ternak babi itu, ia mesti pinjam uang di Bank Nasional Indonesia (BNI) cabang Maumere untuk membeli babi.

Menurutnya, dengan meminjam uang di bank itulah membuat dirinya berani dan termotivasi untuk segera menjalankan usaha ternak babi.

Awalnya membeli 28 ekor babi betina dan 2 jantan. Dari puluhan induk itulah pelan-pelan menghasilkan ratusan ekor babi seperti sekarang ini.

"Per tahun itu hasil dari ternak babi ini ya, ratusan juta. Satu ekor babi kan dijual Rp 1 juta. Pada tahun 2017 pernah hasil Rp 1 miliar. Sebelum dan sesudah, hasilnya Rp 700 juta dan Rp 800 juta. Tetapi, itu bukan hitung bersih. Kita kan beli pakan, vaksin, obat, dan gaji karyawan. Kalau bersih, ya sekitar Rp 500 juta," tutur Renold.

Baca: Polisi Temukan Titik Terang Kasus Raibnya Uang Rp 1,6 Miliar di Pemprov Sumut, Pelaku Terekam CCTV

Baca: Viral Bule di Bali Berboncengan dengan Posisi Begini tatkala Mengendarai Motor Matic di Jalan Lintas

Tantangan

Ia menyebut, selama 4 tahun menjalani usaha ternak babi pasti mengalami tantangan.

Tantangan yang sering dialami itu adalah anak babi mati dan karyawan berhenti.

Ia menyebutkan, pada tahun 2016 sebagian induk dan anak babi kena penyakit huklera.

Ada 5 induk yang mati dan puluhan anak babi yang mati karena penyakit itu.

"Saat itu sempat kecewa dan putus asa. Tetapi tetap bersyukur. Yang penting ada hasil. Saya selalu berpikir positif, setiap usaha pasti ada jatuh bangunnya. Pernah juga saya kerja sendiri. Urus makan dan bersihkan kandang. Tetapi, intinya tetap semangat dan tidak kehilangan harapan," kata Renold.

Baca: PENGAKUAN TERBARU Imam Nahrawi tak Bersalah Setelah KPK Jadikan Tersangka Kasus Suap Dana Hibah KONI

Baca: Viral Kisah Pria Setia Dampingi Pacarnya yang Terkena Tumor, Harapkan Kekasihnya Segera Sembuh

Ia melanjutkan, hasil usaha ternak babi diperuntukkan membiayai adik-adiknya yang sedang kuliah 2 orang, gaji karyawan, kredit motor pekerja, dan belanja kebutuhan sehari-hari.

Ia mengatakan, beternak babi itu sebenarnya tidak ribet dan tidak lama jika memahami pola kerjanya.

"Kawinnya kan 1 hari pagi dan sore. Untuk buntingya itu 3 bulan, 3 minggu, dan 3 hari.

Satu induk minimal menghasilkan 8 anak dan sampai belasan. Kalau di bawah 8 kita rugi. Dalam 2 bulan kita sudah bisa jual dengan harga Rp 1 juta per ekor," katanya.

(Kompas.com/ Kontributor Maumere, Nansianus Taris)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Renold Berhenti Kuliah Saat Skripsi: Jadi Peternak Babi dengan Omzet Miliran Rupiah"

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved