Ratusan Masyarakat Medan Antusias Nonton Film Legendaris Bintang Ketjil Tahun 1963 CGV Focal Point
bocah penyemir sepatu yang kabur dari panti asuhan untuk mencari uang agar bisa membeli rumah untuk kakak dan neneknya.
Ratusan Masyarakat Medan Antusias Nonton Film Legendaris Bintang Ketjil Tahun 1963 CGV Focal Point
TRIBUN-MEDAN.com-Ratusan Masyarakat Medan Antusias Nonton Film Legendaris Bintang Ketjil Tahun 1963 CGV Focal Point.
"Kita tidak akan kehilangan apa-apa sebab kita tidak punya apa-apa,"
Dua anak perempuan, Maria dan Susi tidak pulang ke rumah. Kedua orang tuanya panik. Ternyata dua anak itu mencari sendiri jalan pergi ke kebun binatang, karena orangtuanya tidak menepati janji.
Kedua anak ini mengikuti Nana, bocah penyemir sepatu yang kabur dari panti asuhan untuk mencari uang agar bisa membeli rumah untuk kakak dan neneknya.
Pelarian mereka dibantu pula oleh seorang lelaki tua, bekas guru mereka, untuk bisa pergi ke kebun binatang dan tempat hiburan lainnya.
Demikianlah penggalan kisah dalam film Bintang Ketjil arahan sutradara Wim Umboh dan Misbach Jusa Biran yang dirilis pada tahun 1963.
Dalam menjalankan Amanat Undang-Undang untuk menyelamatkan film sebagai aset negara, serta budaya yang ada di dalamnya, pusat pengembangan perfilman kementrian pendidikan dan kebudayaan (Pusbangfilm) bersama Yayasan Manuprojectpro Indonesia, adakan pemutaran film restorasi Bintang Ketjil di CGV Cinemas Focal Point Jalan Ring Road, Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Selasa (3/9/2019)
Baca: Nyatakan Perang dengan Menteri Susi, Gubernur Murad Ismail: Ini Daratan Punya Saya
Baca: Kapolda Sumut Pastikan Polwan yang Berprestasi dan Memenuhi Syarat Dapat Posisi Terbaik
Baca: Begu Tersenyum saat Disuruh Menunjukkan Sabusabu Miliknya di Kantor Polisi
Meski keluaran tahun 1963 yang pada masa itu tenik produksi film masih serba konvensional, film tersebut mampu membuat ratusan penonton Medan tak henti berdecak kagum.
Pemeran karakter Nana, Nana Awaludin mengatakan hingga saat ini film Bintang Ketjil masih relefan bagi masyarakat Indonesia, sebab selain mengandung unsur-umsur kebudayaan, film ini mengandung kritik sosial dan keluarga.
Baca: Eldin: Jadikan Tahun Baru Islam 1441 H Momentum Muhasabah Spritual Sosial dan Politik
Baca: Seorang Pria Ketahuan Selingkuh Setelah Surat Tilang Dikirim Polisi ke Rumah,
Baca: Pria Ini Diteriaki Wanita Tepergok Mencuri Celana Dalam, Ditangkap Ngaku Buat Kenikmatan
"Sekarang dengan adanya restorasi seperti ini kita busa meruntut kembali film Indonesia untuk ditampilkan kembali, sehingga kita tidak kehilangan identitas, Film Bintang Ketjil sekarang diputar kembali ternyata masih relevan ya?," katanya.
Projec Director Render Digital Indonesia, Rizka Fitri Akbar mengatakan salah satu alasan dipilihnya film Bintang Ketjil karena Kondisi fisik copy film Bintang
Ketjil asli yang sangat memperihatinkan saat ini, dan membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berinisiatif memperbaiki film tersebut sebagai upaya untuk menyelamatkan aset
negara.
Film Bintang Ketjil tersimpan pada arsip nasional dan Sinematek Indonesia. Restorasi film ini difasilitasi Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud RI.
Baca: Akhyar: Pucuk Coolinary Festival Kukuhkan Medan Sebagai Kota Kuliner
Baca: Baru Dilantik 21 Hari, Anggota DPRD Padangsidimpuan Tertangkap Bawa Alat Isap Sabu
"Kesulitan Terbesar dari proses restorasi ini adalah karena kondisinya copynya sudah hampir rusak akibat tidak disimpan dengan baik, dan sebenarnya membutuhkan waktu lebih lama lagi dalam melakukan proses restorasi ini," katanya.
Baca: Pucuk Coolinary Festival Kukuhkan Medan Sebagai Kota Kuliner
Baca: KNKT Jelaskan Tol Cipularang Makan Banyak Korban, 7 Kecelakaan Hebat Libatkan Istri Saiful Jamil
Menanggapi hal tersebut, Kepala Pusbangfilm Kemendikbud, Maman Wijaya mengatakan saat ini pusbang film memiliki 700 film layar lebar dan telah merestorasi 3 film layar lebar Indonesia, di antaranya Darah dan Doa pada tahun 2013, Pagar Kawat Berduri yang sebelumnya juga pernah diputar di kota Medan dan ketiga Bintang Ketjil.
"Pusbangfilm akan terus secara konsisten melakukan penyelamatan dan restorasi arsip film nasional sebagai aset seni budaya bangsa, tanggungjawab kepada bangsa, dan pemenuhan hak akses masyarakat atas arsip film nasional," katanya.
(cr21/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/diskusi-film-restorasi-bintang-ketjil.jpg)