Balai Bahasa Sumut Dorong Pembelajaran Bahasa Indonesia Sesuai Revolusi Industri 4.0

Dengan Konsep HOTS atau berpikir aras tinggi, diharapkan kemampuan berpikir dan bertindak siswa semakin produktif.

Penulis: Alija Magribi |
Alija / Tribun Medan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Balai Bahasa Sumatera Utara (Sumut) menggelar Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Le Polonia Hotel & Convention, Medan, selama dua hari, dimulai pada Kamis (29/8/2019) hingga Jumat (30/8/2019). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Balai Bahasa Sumatera Utara (Sumut) menggelar Seminar Nasional Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Le Polonia Hotel & Convention, Medan, selama dua hari, dimulai pada Kamis (29/8/2019) hingga Jumat (30/8/2019).

Seminar kali ini, Balai Bahasa Sumut mengajak para peserta memelajari Bahasa Indonesia berbasis aras tinggi sesuai Revolusi Industri 4.0.

Dalam acara kali ini, Balai Bahasa Sumut mengundang sejumlah tenaga pendidik, dosen dan guru di sejumlah daerah di Sumatera Utara.

Selain itu juga tampak hadir beberapa mahasiswa dan peneliti bahasa/ sastra dari Jambi dan Padang.

Plt Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara Muhammad Muis menyampaikan tema seminar nasional yang diambil, yaitu 'Pembelajaran Bahasa dan Sastra Berbasis Pemikiran Aras Tinggi' adalah bentuk upaya Balai Bahasa berkontribusi pada dunia pendidikan Indonesia.

"Kami berharap hasil dari seminar kali ini, membuahkan konsep konsep pemikiran yang bisa dikembangkan untuk pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, khususnya di tengah perkembangan teknologi yang begitu tinggi," ujar pria yang masih mengemban amanat sebagai Kepala Balai Bahasa Aceh.

Perkembangan teknologi yang begitu tinggi menjadi tantangan tersendiri oleh Balai Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyesuaikannya dengan konsep pendidikan bahasa dan sastra di Indonesia saat ini. Oleh karena itu diperlukan konsep berpikir aras tinggi.

"Kita tahu, anak anak muda sekarang memiliki literasi Internet yang tinggi. Nah, kita mencoba agar siswa mampu berpikir lebih tinggi ditengah menyesuaikan perkembangan teknologi yang tinggi ini," ujarnya.

Pemikiran Aras Tinggi' (Hight Order Thinking Skill-HOTS) atau sering disebut keterampilan berpikir tingkat tinggi, bukan sekadar menghafal fakta atau meneruskan sesuatu kepada orang lain sebagaimana apa yang diterima.

Lebih dari itu HOTS merupakan keterampilan untuk melakukan sesuatu dari fakta yang diterima.

Namun HOTS mengajak bagaimana memahami, menyimpulkan, mengelompokkan, menghubungkan antarfakta, mengkategorikan, memanipulasi, dengan cara baru dan menerapkannya saat mencari solusi baru untuk masalah baru.

Dengan Konsep HOTS atau berpikir aras tinggi, diharapkan kemampuan berpikir dan bertindak siswa semakin produktif.

Sehingga siswa memahami berbagai sisi dari sebuah kalimat dengan maksud tidak hanya mengenal unsur Subjek-Prediket-Objek-Keterangan (SPOK)-nya saja.

Kepala Bidang Pembukuan Kemendikbud RI Fajrul Zabadi menyampaikan untuk berpikir aras tinggi, ada enam tangga yang mesti dilakukan. Pertama mengingat, kedua memahami, ketiga menggunakan, keempat menganalisis, kelima mensintesis, dan keenam adalah mengevaluasi.

"Seminar ini sudah di awal tahun dirancang. Bahwa pembelajaran bahasa itu harus menuju aras tinggi. Maksudnya pemikiran tidak hanya dal konteks belajar, tapi bagaimana pembelajaran bahasa bisa bermanfaat dalam kecakapan hidup," tuturnya.

Imbuhnya, pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang diajarkan saat ini hanya bersifat bagaimana para siswa mampu menghafal atau mendefenisikan sesuatu.

Lebih dari itu, Balai Bahasa menginginkan adanya pemikiran yang mendalam, dengan menyesuaikan Revolusi Industri 4.0.

Siswa diharapkan mampu mengambil inisiatif, berkreasi dan produktif dari sebuah pelajaran yang dipelajari selama mengenyam pendidikan formal.

"Jadi tidak sebatas pembelajaran itu, antara guru ke murid. Tetapi terjadi dialog antara murid ke guru atau sebaliknya atas sesuatu yang menjadi tema pembelajaran," pungkasnya yang mendorong agar berpikir aras tinggi dalam menyusupi metode pendidikan saat ini yang diusung dalam Kurikulum 2013.

(cr15/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved