Superball

Hasil Drawing Perempat Final Liga Champions: Pertarungan Raksasa dan Kegembiraan Leicester City

Nama yang memang nyaris saban saban tahun menjejak di fase ini, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Ada Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir |
OLI SCARFF/AFP
Striker Leicester City, Jamie Vardy 

TRIBUN-MEDAN.COM - Delapan klub sampai di fase perempat final Liga Champions 2016-2017. Enam di antaranya adalah nama-nama yang sudah sangat familiar.

Nama yang memang nyaris saban saban tahun menjejak di fase ini, setidaknya dalam satu dekade terakhir. Ada Barcelona, Real Madrid, Bayern Munchen, Atletico Madrid, Juventus, dan Borussia Dortmund.

Satu nama, AS Monaco, tidak rutin tampil namun pernah mengejutkan saat melesat sampai ke final Liga Champions 2003-2004. Kala itu, bermain di Gelsenkirchen, Jerman, Monaco dihajar tiga gol tanpa balas.

Menggenapi delapan besar adalah Leicester City. Satu-satunya wakil Inggris yang tersisa.

Satu- satunya, dan yang pada awalnya paling tidak diperhitungkan. Leicester datang bersama-sama Arsenal, Manchester City, dan Tottenham Hotspur.

Baca: Depak Sevilla, Leicester City Lanjutkan Sejarah di Liga Champions

Baca: Keajaiban, Barcelona Taklukkan PSG 6-1, Cetak Sejarah Baru di Liga Champions

Statusnya memang mentereng, yakni sebagai juara. Akan tetapi, dibandingkan tiga wakil Inggris lain, Leicester paling hijau. Paling tidak berpengalaman di kompetisi strata utama klub-klub di benua biru.

Nyatanya, tatkala Tottenham, Arsenal, dan City berturut-turut tumbang, Leicester City tetap bertahan. Bahkan ketika terguncang di kompetisi dalam negeri dan membuat Claudio Ranieri, pelatih yang telah berjasa mengantarkan Leicester menjuarai liga untuk kali pertama dalam 132 tahun, dipaksa angkat koper, mereka terus melaju.

Di perdelapan final, Leicester menyingkirkan klub asal Spanyol yang memiliki pengalaman tanding di Eropa lebih baik, Sevilla.

"Sungguh tak bisa dibayangkan. Sebelumnya, bermimpi pun saya tidak berani. Sekarang kami berada di antara para raksasa. Kami di sini, di perempat final kompetisi Eropa, di antara raksasa- raksasa dan (dibanding mereka) kami bukan siapa-siapa. Dan ini sungguh menggembirakan," kata Wes Morgan pada Daily Mail, beberapa jam pascalaga kontra Sevilla di King Power Stadium.

Leicester menang 2-0, memupus kekalahan 1-2 di kandang Sevilla.

Gelandang Leicester City asal Nigeria, Wilfred Ndidi (tengah), bek Leicester City kelahiran Jamaika, Wes Morgan (kanan) dan kiper Leicester City asal Denmark, Kasper Schmeichel (kiri), melakukan selebrasi karena keberhasilan timnya lolos ke perempat final Liga Champions usai menang 2-0 atas Sevilla pada pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions di Stadion King Power, Selasa (14/3/2017). (OLI SCARFF/AFP)
Gelandang Leicester City asal Nigeria, Wilfred Ndidi (tengah), bek Leicester City kelahiran Jamaika, Wes Morgan (kanan) dan kiper Leicester City asal Denmark, Kasper Schmeichel (kiri), melakukan selebrasi karena keberhasilan timnya lolos ke perempat final Liga Champions usai menang 2-0 atas Sevilla pada pertandingan leg kedua babak 16 besar Liga Champions di Stadion King Power, Selasa (14/3/2017). (OLI SCARFF/AFP) (OLI SCARFF/AFP)

Begitulah Leicester menjadi kurcaci, menjadi liliput, yang gembira di antara pertarungan para raksasa. Dan ini akan membuat mereka bertarung tanpa rasa takut.

"Kami sekali lagi berhasil melewati malam yang berat. Sekarang kami siap menghadapi siapa saja. Tidak ada lagi bedanya bagi kami," ucap Morgan.

Jumat (17/3) petang di Nyon, Swiss, UEFA memutar pengundian perempat final. Hasilnya menarik. Dua pertandingan digaransi bertensi sangat tinggi: Juventus versus Barcelona dan Bayern Munchen kontra Real Madrid. Wakil Jerman lain, Borussia Dortmund, menghadapi Monaco. Sedangkan Leicester harus bentrok dengan Atletico Madrid.

Tiga klub Spanyol dan dua klub Jerman terhindarkan untuk saling membantai. Artinya, tiga klub Spanyol dan dua klub Jerman memiliki peluang yang sama untuk lolos ke empat besar, atau sebaliknya, gugur seluruhnya.
Dari tiga klub Spanyol, peluang Atletico Madrid untuk lolos terbilang paling besar.

Benar bahwa Leicester sebelumnya menyingkirkan klub Spanyol. Akan tetapi, Atletico bukan Sevilla. Atletico jauh lebih solid dan liat. Lebih bersemangat dan punya mental lebih kuat. Sejak musim 2012- 2013, Atletico dua kali menembus final.

Tentu saja tidak berarti peluang Leicester City tertutup. Sepakbola, bagaimana pun, adalah permainan harapan. Sepakbola berjalan dalam 90 menit, plus waktu tambahan, dan sepanjang itu harapan tetap hidup.

The miserable have no other medicine, but only hope. Jika ada obat yang paling mustajab untuk kesedihan, itulah harapan, sebut tokoh Claudio dalam Measure for Measure, drama William Shakespeare, penyair terbesar Inggris yang kebetulan bernama belakang sama dengan pelatih pengganti Leicester, Craig.

Leicester sudah pernah mencatat keajaiban. Mereka anak ayam yang menjelma garuda. Upik Abu yang menjadi Cinderella. Siapa bisa menjamin mereka tak bisa mengulangnya? Terlebih- lebih, mereka akan belakangan menjadi tuan rumah. Di King Power, rekor mereka di Liga Champions sejauh ini 100 persen. Empat kali main empat kali menang.

Atletico patut waspada meski di lain sisi mereka juga memiliki rekor yang sangat baik tiap kali berhadapan dengan klub-klub Inggris di Vicente Calderon. Klub-klub Inggris yang lebih berpengalaman dibanding Leicester.
Borussia Dortmund versus AS Monaco juga menjanjikan gelut yang sengit.

Di liga masing- masing, kedua klub mengawali kompetisi dengan jalan berbeda. Dortmund harus tertatih sebelum kembali ke trek. Sebaliknya Monaco melesat lebih cepat. Kini mereka memuncaki klasemen Ligue 1, meninggalkan PSG yang berkuasa penuh di Perancis dalam empat musim terakhir.

Meski demikian, seperti Leicester, tetap saja Monaco bukan klub yang difavoritkan untuk berada di delapan besar. Manchester City lebih dijagokan. Dan awalnya Monaco memang sempat tertinggal. Namun, di laga kedua, mereka mampu memaksimalkan celah kelemahan City yang kerap kali kelewat konsentrasi melakukan penguasaan bola.

Ini pertemuan pertama kedua klub, dan kubu Dortmund telah pasang kuda-kuda. "Saya melihat bagaimana mereka menghancurkan City. Di Ligue 1, mereka memiliki selisih gol plus 58. Jelas mereka memiliki kestabilan. Kuat dalam bertahan maupun menyerang. Bagi kami ini sama sekali tidak mudah," kata CEO Borussia Dortmund, Hans-Joachim Watzke, pada FourFourTwo.

Lalu bagaimana dua laga lain? Di luar perkara "melankolis-melankolisan", kenangan yang sesungguhnya tidak terlalu banyak berarti di alam bola profesional, yakni keberadaan Carlo Ancelotti dan Xabi Alonso di Munchen dan Dani Alves di Juventus, laga-laga ini digaransi berlangsung ketat.

Di Alianz Arena, Bayern Munchen akan menjamu Real Madrid, dan Juventus lebih dahulu menjamu Barcelona di Turin. Dari sisi kualitas, keempat klub boleh dikata setara. Pun halnya perkara mental. Tidak ada yang lebih lemah dibanding yang lain. Munchen, Madrid, Juventus, dan Barcelona, merupakan kekuatan-kekuatan tradisional sepakbola Eropa yang sudah kenyang merasakan gelar juara.

Maka, faktor yang paling bisa jadi penentu kemenangan atau ketersingkiran adalah momentum. Strategi penting tapi tetap bukan yang terpenting. Bukan juga margin skor. Margin berapa saja berpeluang untuk dipapas.
Jadi begitulah, siapa yang bisa menjaga dan kemudian jeli memanfaat momentum, mereka yang akan lolos ke fase selanjutnya.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved