Sumut Terkini

Gantungkan Hidup pada Hasil Kemenyan di Bentaran Bukit Barisan, Ini Kisah Tampan Sitompul 

NASIB petani kemenyan, Tampan Sitompul gantungkan hidup pada hasil panen di bentaran bukit barisan.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Tria Rizki

Gantungkan Hidup pada Hasil Kemenyan di Bentaran Bukit Barisan, Ini Kisah Tampan Sitompul 


TRIBUN-MEDAN.com, TARUTUNG - Seorang petani kemenyan, Tampan Sitompul (53) sedang panen kemenyan di Dusun Sibiobio, Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, Selasa (17/2/2026). Ia membawa bekal dari rumah menuju hutan. 

Perjalanan memakan waktu setengah hari dari rumah hingga hutan kemenyan. Kawasan ini berada pada ketinggian 700-an meter diatas permukaan laut (mdpl). Di desa ini, sejumlah komoditas pertanian bisa tumbuh subur, misalnya kakao, jengkol, durian, petai, manggis, padi, jagung, dan tanaman lainnya. 

Kemenyan tumbuh bersama pohon lain di hutan. Dan setiap pohon kemenyan mampu menghasilkan beberapa ons dengan tingkatan mutu yang berbeda-beda. Setiap grade (tingkat) miliki harga berbeda. 

"Harga yang paling tinggi sebesar Rp 300 ribu dan yang paling murah itu seharga Rp 40 ribu," tutur Tampan Sitompul (53) saat berada di hutan kemenyan yang berada di Desa Simardangiang, Kecamatan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, Rabu (18/2/2026). 

Ia menuturkan, perjuangan masyarakat sekitar yang seluruhnya tergabung dalam masyarakat hukum adat tak terlepas dari rencana kehadiran investor. 

"Sudah pernah ada datang ke sini calon investor yang merencanakan untuk penanaman kemiri. Namun, sebelum menanam kemiri, pastinya mereka akan menebang kayu hutan," tuturnya. 

"Kami tolak karena itu memang dapat merusak hutan. Kami punya tanggung jawab menjaga hutan yang ada di kawasan kita ini," terangnya. 

Menurutnya, proses pemanenan kemenyan memiliki berbagai tahapan. Biasanya sambil panen, pembersihan batang pun dilakukan. 

"Kita akan melakukan proses manigi atau pengambilan gumpalan kemenyan. Lalu dilanjutkan dengan proses mengikis batang yang disebut dengan mangguris," tuturnya. 

Saat mengguris, petani biasanya bernyanyi yang narasinya apa yang sedang ia pikirkan dan doakan. Misalnya, sambil mangguris, ia nyanyikan lagu harapan untuk kesuksesan anak-anak. 

Di hutan, mereka kadang habiskan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Setiap petani berharap mampu membawa hasil panen ke rumah. Ia kisahkan, satu hari, setiap pemanen hanya mampu mengambil hasil panen dari 6 hingga 8 pohon. 

Akhir-akhir ini, warga desa mendapatkan bantuan penyulingan kemenyan. Dengan hadirnya alat tersebut, mereka berharap mampu menghasilkan produk turunan kemenyan

Pada tahun 2022, usulan dan pemetaan partisipatif yang telah melalui berbagai pertemuan sudah mulai. Pada tahun 2023, usulan sekitar 6.500 hektar sudah dilayangkan masyarakat hukum adat ke Bupati Tapanuli Utara dan KLHK. 

Bupati Tapanuli Utara, Nikson Nababan memberikan SK pengakuan masyarakat hukum adat dengan luasan lahan 5800-an hektar. Dan akhirnya, KLHK memberikan SK kepada masyarakat hukum adat setempat seluas 2917 hektar. Pemetaan areal masyarakat hukum adat sudah dilakukan sejak awal. 

Pulang dari hutan membawa harapan agar bisa bertahan hidup. Mayoritas mereka berjuang menyekolahkan anak-anaknya dari hasil kemenyan. Bagi masyarakat sekitar, hutan kemenyan adalah kehidupan dan harapan.

(cr3/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved