Catatan Piala Dunia
Olok-olok, Harapan, Ambisi
KETIKA Kenzaburo Oe menuliskan 'Man'en Gan'nen no Futtoboru', pada 1967, Jepang belum "pandai" bermain sepak bola.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
KETIKA Kenzaburo Oe menuliskan 'Man'en Gan'nen no Futtoboru', atawa 'Football in the First Year of Man'en', pada 1967, Jepang belum "pandai" bermain sepak bola. Mereka berantakan, penuh skandal, kekurangan pemain dan oleh sebab itu merasa minder, lantas menarik diri dari persaingan ke putaran final Piala Asia di Korea pada 1960 dan di Israel empat tahun berselang.
Piala Dunia? Sampai 1966, mereka selalu gagal lolos fase kualifikasi. Pendek kata, sungguh jauh dari standar kelayakan, dan memang, sepak bola yang dipapar dalam novel ini, yang kemudian dialihbahasakan menjadi 'Silent Cry', sama sekali tidak ada kaitpautnya dengan prestasi. Seperti Aamir Khan, yang menggunakan cricket dalam film 'Lagaan' sebagai simbolisme perlawanan, lewat karakter Takashi yang tengik dan licik, Kenzaburo menjadikan sepak bola sebagai alat propaganda. Cerita lebih fokus pada upaya pemberontakan. Bahkan sepak bola yang ditampilkan pada dasarnya bukanlah sepak bola sungguhan. Tidak ada sentimen kebanggaan. Tidak ada harga diri. Apatah lagi nasionalisme. Justru lebih terkesan sebagai olok-olok belaka. Takeshi, dan saudaranya Mitsusaburo, berhadapan dengan penguasa lalim yang disebut 'Kaisar', laki-laki kaya perlente yang datang dari Korea. Mereka kalah, dengan cara yang menyakitkan, sekaligus memalukan. Tentu saja! Saat itu, sepak bola Jepang tersuruk berlapis-lapis di bawah Korea. Terutama Selatan.
Begitu pun, publik Jepang, tak banyak yang terusik. Tahun 1960-an hingga pertengahan 1970-an, seperti digambarkan dengan detail oleh Haruki Murakami dalam novel 'Noruwei no Mori' atawa 'Norwegian Wood', orang Jepang, terutama orang-orang mudanya, mahasiswa-mahasiswanya, sedang disibukkan dengan berbagai gejolak sosial yang memicu beragam aksi protes. Mereka juga masih dibingungkan dengan pencarian jati diri di tengah serbuan budaya pop barat.
Baru di awal 1980-an mereka terkesiap. Kegagalan di kualifikasi Piala Dunia Argentina 1978, dan (lagi-lagi) keputusan menarik diri di Piala Asia 1980, membuat Jepang sadar betapa ketertinggalan mereka sudah kelewat jauh. Jarak dengan Korea Selatan, Iran, dan sebagian negara Timur Tengah, menganga lebar.
Setahun berselang, lahir manga, novel grafis, berjudul 'Kyaputen Tsubasa'. Dimuat pertama kali di majalah Weekly Shonen Jump pada 31 Maret 1981. Berkisah perihal Tsubasa Oozora, bocah 11 tahun siswa sekolah dasar Nankatsu yang bercita-cita bermain di Piala Dunia.
Sampai di sini sudah ada perbedaan besar. Tahun 1967, 'Silent Cry' memperlakukan sepak bola sekadar sebagai alat propaganda, sedangkan pada 'Captain Tsubasa', sepak bola sudah ditempatkan sebagai harapan, yang sekilas pintas terasa kelewat muluk, kelewat tinggi. Bagaimana mau masuk Piala Dunia kalau bermain saja belum betul-betul becus?
Namun Jepang adalah Jepang. Hampir tidak ada khayalan yang sepenuhnya berhenti pada khayalan. Sebagian besar mewujud nyata. Robot atom Astro Boy, alutsista militer dalam Gundam, atau berbagai gadget yang berangkat dari alat-alat ajaib di kantong Doraemon.
Di sepak bola? Mereka masih gagal di Meksiko 1986 dan Italia 1990, tapi JFA, federasi sepak bola Jepang, terus bergerak. Perombakan besar-besaran pejabat federasi dilakukan. Kutu dan hama, parasit-parasit yang hanya "menumpang hidup", disingkirkan. Potensi-potensi korup digerus. Tahun 1993, kompetisi baru, J-League dan turunannya, termasuk liga mahasiswa, mulai digelar. Di lain sisi, proyek naturalisasi dimulai. Pemain-pemain bagus berkewarganegaraan asing yang beredar di kompetisi ditawari paspor Jepang. Beberapa tertarik dan langsung berkostum tim nasional. Di antaranya, Ruy Goncalves Ramos Sobrinho. Dia datang ke Jepang dari Brasil saat berusia 20 pada 1977, lalu bermain untuk Youmuri Verdy.
Hasilnya? Jepang tetap gagal. Bahkan lebih menyakitkan dibanding sebelumnya, tiket ke Amerika 1994 melayang di laga terakhir fase kualifikasi. Namun proyek besar mereka sama sekali tak goyah. Mereka meneruskannya, sembari memperbaiki hal-hal yang dianggap belum baik, dan kita sama-sama tahu cerita selanjutnya. Jepang lolos di Prancis 1998 dan meneruskannya secara beruntun di tujuh edisi berikutnya. Termasuk, tentu saja, yang teranyar. Jepang datang lagi, tergabung di Grup F, bersama Belanda, Swedia, dan Tunisia.
Dengan demikian, Jepang sudah menyalip Iran dan berada di belakang Korea Selatan sebagai negara Asia yang terbanyak tampil di Piala Dunia. Pencapaian yang barangkali memuaskan bagi negara lain, tapi tidak Jepang.
Tak lama setelah kegagalan di babak 16 besar di Piala Dunia 2018, di Jepang, terbit manga berjudul 'Buru Rokku'. Plotnya, pasca kegagalan, federasi menilai titik kelemahan Jepang adalah striker dan memerintahkan pembentukan lembaga khusus untuk menciptakan striker terbaik di dunia. Proyek ini dinamakan 'Buru Rokku', atau 'Blue Lock'.
Sebanyak 300 pesepakbola dari klub-klub dan sekolah di seluruh penjuru anak terjaring seleksi, satu di antaranya, Yoichi Isagi, siswa satu sekolah menengah, yang jika dibandingkan pemain-pemain lain, adalah justru yang paling tidak dikenal. Namun pemandu bakat akhirnya memasukkan namanya, setelah dalam wawancara, Isagi bilang dia tidak saja ingin jadi striker terbaik dunia, tapi juga membawa Jepang lolos ke final Piala Dunia dan mengangkat tropi emas itu.
Jadi begitulah, Jepang telah melangkah sekali lagi. Dari olok-olok, ke harapan, kini ambisi. Mereka tidak mau kembali terhenti di 16 besar. Mereka ingin melangkah lebih jauh. Bisa? Melihat bagaimana Jepang bermain, yang demikian apik: tajam sekaligus cantik, melawan Belanda dan Tunisia, boleh dikata mereka memang tak sekadar bisa.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Timnas-Jepang-bermain-sangat-baik-di-Piala-Dunia-2026_Manga-Blue-Lock.jpg)