Sumut Terkini

Pemerhati Dorong Anak Muda Jadikan Budaya Dasar Etika Berdemokrasi di Pemilu 2029 

Iqbal menilai, tantangan demokrasi di masa depan bukan lagi sekadar partisipasi fisik di Tempat Pemungutan Suara (TPS)

Penulis: Anugrah Nasution | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Anugrah Nasution
Pemerhati Pemilu M Iqbal saat berfoto dengan latar belakang lukisan dua presiden Indonesia. Iqbal berharap, agar Pemilu tidak hanya menjadi proses tanpa tujuan untuk bangsa dan negara.  

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN- Peran pemuda dalam pesta demokrasi semakin krusial di tengah tantangan pemilihan langsung.

Agar tujuan Pemilu tercapai untuk kebaikan negara, pemuda diminta menerapkan konsep budaya dalam tata cara berdemokrasi yang telah diajarkan di Sumatera Utara. 

Hal itu disampaikan pemerhati Pemilu Sumut dari kalangan muda, Muhammad Iqbal, SH, MH. Menurutnya, kecerdasan intelektual pemilih muda tidak akan cukup tanpa dibarengi dengan kekuatan identitas budaya lokal.

Iqbal menilai, tantangan demokrasi di masa depan bukan lagi sekadar partisipasi fisik di Tempat Pemungutan Suara (TPS) melainkan bagaimana menjaga etika di ruang digital yang kian liar.

Ia menyoroti bahwa Sumatera Utara memiliki kekayaan filosofi seperti Poda Na Lima di tanah Batak atau nilai-nilai kemelayuan yang mengedepankan adab. Nilai-nilai ini adalah solusi atas maraknya kampanye hitam dan politik identitas yang destruktif.

"Anak muda kita sering terjebak dalam arus informasi yang cepat namun dangkal. Saya mendorong anak muda Sumut untuk kembali ke akar budaya. Berpolitiklah dengan berbudaya. Jika budaya kita mengajarkan hormat kepada orang tua dan menghargai perbedaan, maka seharusnya tidak ada ruang untuk saling menghujat hanya karena perbedaan pilihan politik," ujar Iqbal, Kamis (16/4/2026). 

Sebagai seorang pemerhati Pemilu dan berlatar belakang pendidikan hukum, Ibe juga mengingatkan bahwa berbudaya dalam berdemokrasi berarti patuh pada supremasi hukum. Ia menekankan tiga poin utama bagi pemuda Sumut. 

Pertama anti politik uang sebagai bentuk menghargai harga diri bangsa dengan tidak menukar suara untuk kepentingan sesaat.

"Kemudian literasi regulasi. Pemuda harus paham aturan main pemilu agar tidak mudah dimanipulasi oleh kepentingan aktor politik tertentu," ujar alumni Universitas Islam Sumatera Utara tersebut. 

Selain itu, Iqbal mendorong anak anak muda mengawasi pelaksanaan Pemilu serta memberikan kritikan jika menemui adanya pergeseran. 

"Kritis namun santun, menggunakan media sosial untuk menguji gagasan kandidat dengan cara yang bermartabat, bukan dengan caci maki," tambahnya. 

Iqbal melihat Pemilu 2029 sebagai ujian bagi generasi Z dan Alfa di Sumatera Utara untuk naik kelas.

Ia berharap anak muda tidak hanya menjadi objek suara, tetapi subjek yang menentukan arah kebijakan bangsa.

"Demokrasi yang berbudaya akan melahirkan pemimpin yang berkualitas. Jika pemudanya berintegritas dan memegang teguh nilai budaya lokalnya, maka Sumatera Utara akan menjadi barometer demokrasi yang sehat di Indonesia."

(cr17/tribun-medan.com) 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Tags
pemilu
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved