Berita Internasional

Keputusan AS Kawal Kapal Melewati Selat Hormuz, Trump Sebut Iran Jangan Menganggu: Mereka Korban

Kebijakan ini diumumkan Presiden Donald Trump di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/Istimewa/PIXABAY/GERHARD TRASCHUTZ)
Ilustrasi kapal tanker 

TRIBUN-MEDAN.com - Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz mulai Senin (4/5/2026) waktu setempat.

Kebijakan ini diumumkan Presiden Donald Trump di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.

Selat Hormuz adalah jalur perairan sempit yang menjadi salah satu rute utama distribusi minyak dunia.

Trump menyebut langkah tersebut sebagai respons atas permintaan sejumlah negara yang terganggu aktivitas perdagangan akibat konflik di kawasan.

Ia menegaskan operasi ini bertujuan memastikan jalur perdagangan global kembali terbuka.

“Untuk kebaikan Iran, Timur Tengah, dan Amerika Serikat, kami telah memberi tahu negara-negara ini bahwa kami akan memandu kapal mereka keluar dengan aman dari jalur perairan yang terbatas ini, sehingga mereka dapat kembali menjalankan aktivitasnya,” tulis Trump melalui platform Truth Social.

SELAT HORMUZ - Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital distribusi sekitar sepertiga ekspor minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan berdampak hingga ke Indonesia.
SELAT HORMUZ - Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital distribusi sekitar sepertiga ekspor minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan berdampak hingga ke Indonesia. (TRIBUN MEDAN/DOK GOOGLE MAPS)

Projet Freedom

Operasi pengawalan tersebut akan diberi nama “Project Freedom”.

Trump menyebut keputusan ini telah dikomunikasikan kepada negara-negara yang terdampak.

Ia juga menegaskan bahwa langkah tersebut bersifat kemanusiaan dan tidak ditujukan untuk memperkeruh situasi.

“Pergerakan kapal ini semata-mata untuk membantu individu, perusahaan, dan negara yang tidak bersalah—mereka adalah korban keadaan. Ini adalah langkah kemanusiaan dari Amerika Serikat, negara-negara Timur Tengah, khususnya Iran,” ujarnya.

Meski demikian, Trump memperingatkan bahwa jika upaya pengawalan tersebut diganggu, maka akan direspons secara tegas.

Ia bahkan membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika situasi memburuk.

Pengumuman ini muncul setelah insiden serangan terhadap sebuah kapal kargo di dekat Selat Hormuz oleh sejumlah kapal kecil pada Minggu pagi, sebagaimana dilaporkan militer Inggris.

Gencatan Senjata Masih Berlangsung

Di tengah situasi tersebut, gencatan senjata antara Washington dan Teheran masih berlangsung, meski dinilai rapuh.

Trump sebelumnya mengaku sedang meninjau proposal damai dari Iran, namun memberikan sinyal kecil bahwa AS kemungkinan tidak akan menerima tawaran tersebut.

Sejak konflik memanas, Iran diketahui membatasi akses Selat Hormuz bagi hampir seluruh kapal asing, sementara AS juga memberlakukan blokade sejak 13 April. Kondisi ini berdampak besar terhadap arus distribusi minyak dunia dan stabilitas ekonomi global.

Hingga kini, pembicaraan diplomatik masih berlangsung, namun belum ada kepastian terkait bentuk kesepakatan damai jangka panjang antara kedua negara.

Mengapa AS Terus Soroti Nuklir Iran?

Seperti dilansir CNN, Isu nuklir Iran terus menjadi sorotan utama Amerika Serikat sejak puluhan tahun terakhir.

Pertanyaan pun muncul, mengapa Washington kerap meributkan program nuklir Iran, sementara negara lain yang memiliki senjata nuklir tidak mendapatkan tekanan serupa?

Ketegangan ini berakar dari perubahan hubungan kedua negara pasca Revolusi Iran 1979.

Sebelum revolusi, AS justru berperan besar dalam pengembangan program nuklir Iran melalui program “Atoms for Peace” yang diinisiasi oleh Presiden Dwight Eisenhower pada 1957.

Melalui kerja sama tersebut, AS memasok reaktor riset dan bahan baku uranium ke Teheran.

Bahkan, Iran sempat merencanakan pembangunan lebih dari 20 reaktor nuklir untuk kebutuhan energi.

Namun, setelah jatuhnya pemerintahan Shah Reza Pahlavi, hubungan kedua negara memburuk drastis.

Sejak saat itu, AS mulai menuding Iran mengembangkan senjata nuklir, bukan sekadar untuk energi.

Kecurigaan ini semakin menguat ketika Iran tetap melanjutkan program nuklirnya di bawah kepemimpinan baru, termasuk setelah era Ayatollah Ruhollah Khomeini dan dilanjutkan oleh Ali Khamenei.

Sejumlah analis menilai, sikap keras AS tidak hanya didasari kekhawatiran soal senjata pemusnah massal, tetapi juga kepentingan geopolitik dan energi.

Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia, sehingga stabilitas politiknya sangat berpengaruh bagi kepentingan global.

Selain itu, AS juga berupaya mengontrol pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah, terutama terkait dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok yang dianggap mengancam kepentingan Barat.

Di sisi lain, Iran memandang tekanan tersebut sebagai ancaman terhadap kedaulatan dan keamanannya.

Apalagi, kebijakan AS yang kerap menempatkan Iran sebagai musuh, termasuk dalam narasi “poros kejahatan”, memperkuat ketegangan kedua negara.

Analis dari Rand Corporation, Robert E. Hunter, menilai bahwa kedua pihak sama-sama memiliki alasan untuk merasa terancam.

Ia menyebut kebijakan AS dan sekutunya turut membentuk kekhawatiran keamanan di pihak Iran.

Hingga kini, isu nuklir tetap menjadi titik utama perselisihan antara kedua negara.

Perbedaan kepentingan, sejarah panjang konflik, serta faktor geopolitik membuat persoalan ini sulit diselesaikan dalam waktu singkat. 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews

(*/ Tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved