Gumpalan Asap Masih Mengudara, Sejumlah Karyawan Pantau Kondisi Pabrik

Tiga hari pascakebakaran, gumpalan asap berwarna hitam masih terlihat mengudara di langit.

TRIBUN MEDAN/Haikal Faried Hermawan
KEBAKARAN DI MEDAN - Maya Novianty, HRD PT Garuda Mas Perkasa, mengungkap tidak ada korban jiwa di dalam pabrik sandal di Kalan KL. Yos Sudarso, km, 6.5, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan. Rabu (28/1/2026). 

MEDAN, TRIBUN - Tiga hari pascakebakaran, gumpalan asap berwarna hitam masih terlihat mengudara di langit. Gumpalan asap berwarna hitam ini merupakan asap dari pascakebakaran yang melanda PT Garuda Mas Perkasa di Jalan KL. Yos Sudarso, km, 6.5, Kecamatan Medan Deli, Kota Medan, pada Selasa (27/1) kemarin malam.

Amatan Tribun Medan, terlihat petugas mobil pemadam kebakaran masih berulang kali keluar masuk pabrik sandal. Tak hanya itu, didepan pintu gerbang pabrik. Terlihat sejumlah karyawan yang berdiri sedang memantau kondisi suasana pascakebakaran yang menghanguskan pabrik sandal tersebut.

Seorang karyawan pabrik sandal hanya termenung melihat bangunan gudang sudah berporakporanda setelah dilalap si jago merah. Tempat ia bekerja selama puluhan tahun ini untuk mengais rezeki sudah tak berbentuk seperti yang semula.

"Saya bekerja di pabrik sandal ini sudah selama 32 tahun. Saya tak menyangka api akan menghanguskan seluruh bangunan pabrik dalam waktu sekejap," ucap seorang buruh pabrik yang enggan disebutkan namanya saat ditemui awak media di lokasi TKP, Kamis (29/1)

Sebelum kebakaran, katanya, bekerja seperti biasanya. Masuk bekerja dari pagi hingga sore atau bisa disebut masuk shift pagi. Seketika malam yang seharusnya sunyi dan tenang, namun dia mendapat kabar dari salah sanak saudara bahwa pabrik tempat ia bekerja hangus terbakar. .

Ia pun hanya berharap mendapatkan informasi dari pihak manajemen perusahaan. "Hanya tinggal menunggu informasi ajalah saya dari pihak perusahaan," lanjutnya.

Baca juga: Baru Ditinggal Sebentar, Motor Sudah Hilang di Kawasan Deli Tua

Hal senada juga disampaikan oleh karyawan pabrik sandal lainnya yang sudah bekerja selama 33 tahun. "Saya di sini sudah karyawan, bekerja di bagian penyusunan sandal Swallow," lanjutnya.

Ia mengungkapkan, sistem gajian yang dia dapat selama puluhan tahun ini berbeda dengan buruh pabrik. "Saya dapat gajian seminggu sekali," ungkapnya. 

Menurutnya, ia mengungkap rasa senang dan duka saat masa-masa bekerja di pabrik sandal ini. "Lebih dapat rasa senang bekerja di sini dapat teman yang banyak. Kalau duka, ya sedih enggak bisa bekerja. Apalagi sebentar lagi masuk bulan puasa, enggak ada uang, jadi sulit hidup ini," tuturnya.

Hingga kini, mama pun masih belum ada niat untuk mencari pekerjaan lainnya, karena pikirannya masih berantakan apalagi melihat pabrik tempat ia bekerja. "Belum tahu ke depannya bagaimana. Saya pun masih bingung apa yang terjadi apa penyebab pabrik ini terbakar," pungkasnya.(cr9/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved