Yayasan Buddha Tzu Chi Rayakan Waisak 60 Tahun, Teguhkan Tekad Awal Misi Kemanusiaan
Yayasan Buddha Tzu Chi Rayakan Waisak 60 Tahun, Teguhkan Tekad Awal Misi Kemanusiaan
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ribuan umat Buddha di Kota Medan dan sekitarnya memadati lantai lima Sekolah Cinta Budaya yang berlokasi di Komplek MMTC, Jalan Williem Iskandar untuk memperingati tiga perayaan besar, yakni Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia pada Minggu, (10/5). Yayasan Buddha Tzu Chi Medan menyelenggarakan perayaan Waisak dengan penuh khidmat.
Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Cabang Medan Steel Edwin mengatakan, perayaan Waisak di Hari Ulang Tahun ke-60 Tzu Chi, menjadi momen untuk mengingat kembali perjalanan Yayasan Buddha Tzu Chi selama lebih dari enam dekade mengabdikan diri untuk misi kemanusiaan di dunia. Steel Edwin mengungkapkan, Tzu Chi terus berkomitmen untuk bersama masyarakat merajut semangat bersumbangsih. Ia berharap, para relawan di barisan Tzu Chi Medan dapat terus tumbuh agar bisa selaras dengan visi dan misi Tzu Chi. “Tzu Chi bercita-cita menyucikan hati manusia, mewujudkan masyarakat aman dan tenteram, serta dunia terhindar dari bencana. Cita-cita ini hanya akan dapat tercapai dengan menumbuhkan cinta kasih di dalam diri setiap orang. Jadi dengan cinta kasih yang kita rajut di setiap momen, seperti Waisak ini dapat mengingat kembali semangat awal kita untuk masyarakat sekitar yang membutuhkan,” ungkapnya.
Suasana khidmat begitu terasa ketika 12 anggota Sangha Agung Indonesia memimpin jalannya prosesi doa dan perenungan. Lebih kurang 1.200 peserta yang terdiri dari relawan, pelajar, guru, hingga masyarakat umum mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh rasa syukur. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual untuk memperingati Tri Suci Waisak, tetapi juga menjadi ajang mempererat nilai kebersamaan, cinta kasih, dan kepedulian antarsesama.
Rita, salah seorang relawan Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah bergabung sejak tahun 2009 menyebut perayaan Waisak ini menjadi momentum bagi ia dan para relawan lainnya untuk kembali mengingat tekad awal saat memilih jalan sebagai relawan, yakni menebarkan cinta kasih dan membantu sesama. Bagi Rita, Waisak juga menjadi momen untuk menyucikan batin sekaligus menumbuhkan rasa syukur dalam menjalani kehidupan.
“Kita sama-sama tahu ya, bagaimana peringatan Tri Suci Waisak itu adalah salah satu sarana untuk menyucikan batin kita. Sebagai relawan, kita adalah kaki dan tangan Master Cheng Yen. Kita harus ingat. Bagaimana tekad awal kita dalam bergabung dengan Tzu Chi,” ungkapnya.
Perayaan Waisak oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Medan ini juga diikuti oleh murid-murid lima sekolah di Kota Medan, yaitu Sekolah Putra Bangsa Berbudi, Sekolah Minggu Metta Jaya, Sekolah Methodist Tanjung Morawa, Sekolah Dharma Bakti Lubuk Pakam, dan Sekolah Cinta Budaya. Heriyanto, Wakil Ketua Yayasan Cinta Budaya yang menjadi tempat terselenggaranya Perayaan Waisak Yayasan Buddha Tzu Chi mengatakan pihak sekolah dengan tangan terbuka menyambut berbagai kegiatan yang diadakan oleh Tzu Chi, termasuk perayaan Waisak kali ini. Menurutnya, Tzu Chi dikenal sebagai yayasan yang aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, sehingga kehadirannya membawa nilai-nilai positif bagi masyarakat maupun lingkungan pendidikan.
“Jadi kebetulan, kita bilang hari ini hari bagus. Kalau penanggalan di kalender Tionghoa, tanggal 10 Mei itu bagus. Kita sangat gembira kedatangan relawan Tzu Chi. Jadi ada pepatah bilang, di mana ada Tzu Chi, tempat itu pasti jadi bagus. Jadi berkah. Jadi hari ini kita terima. Kita sudah menantikannya, agar kita bisa lebih dekat. Kita tahu, siapa-siapa saja yang menjadi relawan Tzu Chi, mereka itu pasti orang baik, “ ungkapnya.
Selain prosesi ibadah dan pemandian rupang Buddha, suasana haru juga terasa dalam sesi penghormatan kepada orang tua. Sebanyak 30 orang tua dari siswa Kelas Budi Pekerti Tzu Chi menerima bunga dari putra-putri mereka sebagai bentuk ungkapan kasih sayang dan rasa terima kasih atas pengorbanan yang telah diberikan selama ini. Momen tersebut membuat banyak peserta tersentuh ketika para siswa memeluk dan menyampaikan rasa syukur kepada orang tua mereka.
Perayaan Waisak ini pun menjadi pengingat bahwa kasih orang tua merupakan salah satu bentuk cinta yang paling tulus dalam kehidupan, sekaligus mengajarkan pentingnya menghormati dan membalas jasa mereka dengan penuh ketulusan.(*)
| Bupati Franc Bernhard Tumanggor Pimpin Rapat Koordinasi Antisipasi Kenaikan Harga Kebutuhan Pokok |
|
|---|
| Semangat Welas Asih Tzu Chi Medan : Murid Master Cheng Yen Tinjau Pembangunan Sekolah & Jing Si Tang |
|
|---|
| Pemkab Deliserdang Junjung Tinggi Keadilan dan Kesetaraan Seluruh Umat Beragama |
|
|---|
| Sekolah Maitreyawira Kisaran Gelar Perayaan Hari Raya Waisak Bersama 2025 |
|
|---|
| Perayaan Waisak di Vihāra Sukjai Sailendra Medan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/12-anggota-Sangha.jpg)