Perang Hamas vs Israel

Siapa Kelompok Houthi Yaman yang Nyatakan Perang Melawan Israel? Iran Punya Peran Pasok Senjata

Kelompok Houthi menyatakan perang melawan Israel pada Selasa (31/10/2023). Selaras dengan itu, kelompok militan Yaman itu telah meluncurkan rudal ke w

Tayang:
Penulis: Tommy Simatupang | Editor: Tommy Simatupang
HO
Kelompok Houthi menyatakan perang melawan Israel pada Selasa (31/10/2023). Selaras dengan itu, kelompok militan Yaman itu telah meluncurkan rudal ke wilayah selatan Israel.  

TRIBUN-MEDAN.com - Kelompok Houthi menyatakan perang melawan Israel pada Selasa (31/10/2023). Selaras dengan itu, kelompok militan Yaman itu telah meluncurkan rudal ke wilayah selatan Israel. 

Serangan Houthi ini didukung oleh Iran dan Yaman. 

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari Media The Times, Pasukan Pertahanan Israel mengatakan bahwa sistem angkatan udara melacak lintasan rudal dan mencegatnya. 

Pasukan pertahanan Israel (IDF) juga mengatakan jet tempur menembak jatuh dua alat musuh yakni drone yang terbang di wilayah Laut Merah.

“Semua ancaman dihadang. Untuk saat ini, tidak ada intrusi ancaman masuk ke wilayah Israel yang terdeteksi,” tambah IDF.

Pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman mengaku bertanggung jawab atas rudal tersebut serta sejumlah upaya serangan serupa terhadap Israel selatan dalam serangan baru-baru ini.

Yahya Saria, juru bicara kelompok tersebut, mengatakan bahwa serangan udara, yang terdiri dari drone serta rudal balistik dan jelajah, dilakukan atas dasar rasa tanggung jawab agama, moral, kemanusiaan dan nasional untuk rakyat Gaza. 

Ia juga menyinggung kelemahan dunia Arab, dan kolusi beberapa negara Arab dengan Israel.

Operasi tersebut dipicu oleh “tuntutan rakyat Yaman,” tambahnya.

Saria mencatat bahwa ini adalah serangan ketiga yang dilakukan kelompok tersebut terhadap Israel sejak awal perang, dan berjanji akan melakukan serangan lebih lanjut terhadap Israel dengan rudal dan drone.

Sebelumnya pada hari Selasa, Abdelaziz bin Habtour, perdana menteri pemerintah Houthi, mengatakan bahwa “drone ini milik negara Yaman.”

Kelompok Houthi, yang merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada tahun 2014 dan menguasai sebagian besar wilayah negara tersebut, adalah bagian dari poros perlawanan terhadap Israel bersama dengan Hamas – yang juga didukung oleh Teheran.

Lantas siapa Kelompok Houthi

Profil Kelompok Houthi

Houthi adalah kelompok oposisi politik di Yaman yang muncul sejak awal tahun 1990-an.

Kemudian sejak tahun 2000-an kelompok Houthi berkembang hingga memiliki organisasi militer.

Mereka lantas berperang dengan pemerintah resmi Yaman, berhasil menguasai sebagian wilayah Yaman, bahkan beberapa kali menyerang wilayah negara tetangganya seperti Uni Emirat Arab dan Arab Saudi.

"Houthi bertransformasi dari kelompok pemberontak kecil di ujung utara Yaman, menjadi peserta sentral dalam konflik regional yang mungkin paling signifikan dalam sejarah Semenanjung Arab dan Arab modern," kata Lawfare Institute.

"Sejak tahun 2011 Houthi mulai menguasai Sa'dah, sebuah provinsi yang terpinggirkan di Yaman, dan kini menguasai sebagian besar wilayah utara Yaman, termasuk ibu kota negara Yaman dan institusi-institusinya," lanjutnya.

Adapun menurut data yang dihimpun Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), selama periode 2010-2022, satu-satunya negara yang tercatat pernah memasok senjata untuk kelompok Houthi adalah Iran.

SIPRI menemukan pada 2015 ada satu kontrak pengiriman senjata asal Iran untuk kelompok Houthi, senjatanya berupa rudal balistik jenis Qiam-1.

Selain itu, tak ada lagi kontrak spesifik untuk Houthi yang datanya terbuka dan bisa diakses publik.

SIPRI juga menemukan ada puluhan kontrak pengiriman senjata lain ke Yaman selama periode 2010-2022.

Negara asal pengirimnya beragam, mulai dari Uni Emirat Arab (UEA), Amerika Serikat (AS), Afrika Selatan, Arab Saudi, Belarus, Ceko, Yordania, Rusia, dan lain-lain, dengan jumlah kontrak seperti terlihat pada grafik.

Namun, sebagian kontrak pengiriman senjata itu tercatat ditujukan untuk pemerintah resmi Yaman, dan sebagian lainnya tidak tercatat secara rinci.

SIPRI mengumpulkan data ini dari beragam sumber, mulai dari pemberitaan media massa, laporan tahunan perusahaan senjata, laporan ekspor-impor senjata, hingga dokumen kebijakan negara.

Dilansir dari laman Brookings, Houthi adalah kelompok Syiah Zaydi atau Zaydiyyah.

Syiah merupakan kelompok minoritas di dunia Islam dan Zaydi adalah kelompok minoritas di dunia Syiah.

Namun, meski termasuk ke dalam kelompok minoritas Islam atau Syiah, ajaran yang diterapkan berbeda sekali dengan kelompok Syiah yang ada di Iran, Irak, dan tempat lain.

Zaydiyyah, diambil dari nama Zayd bin Ali, cicit Ali, yang merupakan sepupu serta menantu dari Muhammad.

Ia adalah tokoh yang sangat dihormati oleh seluruh kalangan Syiah.

Pada tahun 740 silam, Zayd bin Ali memimpin sebuah pemberontakan melawan Kesultanan Umayyah, kerajaan dinasti pertama dalam sejarah Islam yang memerintah dari Damaskus.

Dalam peristiwa pemberontakan tersebut, Zayd menjadi martir dan kepalanya diyakini dikubur sei sebuah kuil di Kerak, Yordania.

Kelompok Syiah Zaydi meyakini bahwa sosoknya merupakan teladan seorang khalifah yang seharusnya memerintah Bani Umayyah.

Dalam biografinya, Zayd memiliki ciri khas yang dapat diingat yaitu melawan rezim yang korup.

Syiah Zaydi mengangkatnya menjadi simbol pemberantasan korupsi.

Maka dari itu, Kelompok Houthi telah menjadikan pemberantasan korupsi sebagai pilar dari program politik mereka.

Houthi, memiliki pengaruh yang kian menguat di Yaman seiring waktu berjalan.

Seperti dilansir dari laman Wilson Center, Imamah Zaydi sudah menguasai Yaman hingga 1.000 tahun lamanya.

Namun, kelompok tersebut berhasil digulingkan di tahun 1962. Alhasil, mereka kehilangan pengaruh politiknya di Yaman.

Pada tahun 1990-an, gerakan perdana pemberontakan Houthi dipimpin oleh seorang ulama terkemuka Zaydi bernama Hussein Abdereddin al Houthi.

Ia merupakan anggota parlemen Yaman pada tahun 1993 hingga 1997. Pada saat itu, Ia mengkritik keras Presiden Ali Abdullah Saleh hingga menuduhnya terlalu dekat dengan Israel dan Amerika Serikat.

Ketegangan semakin menguat, setelah Presiden Ali Abdullah Saleh memotong dana untuk Houthi pada tahun 2000.

Frustasi dengan hal tersebut, serta masalah ekonomi yang buruk, Hussein mulai menggalang pendukung demonstrasi anti-pemerintah sebagai bentuk protes terhadap pemerintah Yaman.

Hingga akhirnya, Al-Houthi tewas terbunuh oleh pasukan keamanan pada tahun 2004.

Setelah Husein al Houthi tiada, keluarganya melanjutkan pemberontakan kelompok Al-Houthi. Mereka melawan pemerintah Yaman dan hingga memiliki lebih banyak anggota. Dilansir dari Wilson Center, pada tahun 2014, Houthi mengambil ibu kota Saana, dibawah kepemimpinan Presiden Abdarabbuh Hadi.

Presiden Hadi pun terusir saat kelompok Houthi mulai mengambil alih istana.

Ia melarikan diri ke selatan serta mencabut pengunduran dirinya. Hadi menyatakan, dirinya adalah Presiden Yaman yang sah. Sebagai tanggapannya, kelompok pemberontak Houthi mulai melancarkan serangan bom ke markas besar Hadi di selatan yaitu di Aden.

Sejak saat itu, kelompok militan bersenjata, Houthi, mulai beranjak dan terus bergerak maju. Hingga saat ini, kelompok Houthi terus melancarkan serangan terhadap Pemerintah Yaman, Arab Saudi, dan sekutunya. Konflik yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun tersebut, menjadi salah satu krisis kemanusiaan yang terburuk di dunia menurut Council on Foreigns Relations (CFR).

(*/tribun-medan.com)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved