Berita Viral
Viral Mahasiswi Pandeglang Dirudapaksa dan Diancam Revenge Porn, Pelaku Diduga Anak Mantan Pejabat
Beredar di media sosial sebuah cuitan yang menceritakan kisah mahasiswi asal Pandeglang yang jadi korban rudapaksa seorang pria.
Penulis: Istiqomah Kaloko | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.COM – Beredar di media sosial sebuah cuitan yang menceritakan kisah mahasiswi asal Pandeglang yang jadi korban rudapaksa seorang pria.
Tak hanya jadi korban rudapaksa, mahasiswi asal Pandeglang itu juga dianiaya oleh pelaku.
Bahkan, mahasiswi tersebut juga diancam dengan revenge porn selama tiga tahun belakangan.
Kasus rudakpaksa tersebut dibongkar oleh kakak kandung korban bernama Iman Zanatul Haeri di akun Twitter miliknya @zanatul_91 pada Senin (26/6/2023).
Kisah penganiayaan dan ancaman ini terungkap pada Rabu (14/12/2022) lalu.
Saat itu, adik laki-laki Iman atau saudara dari korban menerima pesan di Instagram berisi video asusila korban yang direkam secara diam-diam.
Kemudian, Iman dan keluarga berusaha mencari informasi tentang pelaku dan korban.
Yang lebih buruknya lagi, ternyata teman-teman korban sudah mengetahui situasi ini karena pelaku secara terus-menerus mengirim video tersebut kepada teman-teman dekat korban sebagai ancaman.
Pelaku melakukan ini agar korban tidak dapat hidup secara normal. Selain itu, pelaku juga mengancam akan mengirim video korban kepada dosen korban.
"Jumat, 16 Desember 2022
Kami mencari beragam informasi dari teman-teman dekatnya. Mereka semua telah mengetahui video tersebut. Hal ini terjadi karena pelaku selalu mengirim video porn revenge pada semua teman-teman yang dianggap terlalu dekat dengan korban (adik kami)," tulis Iman.
Pengunggah juga membagikan tangkapan layar percakapan yang berisi ancaman pelaku kepada korban.
Pada tanggal 17 Desember, Iman menjemput korban untuk berdiskusi.
Di sinilah korban mulai menceritakan dengan histeris tentang perlakuan yang dialaminya selama 3 tahun.
Awalnya, korban menolak melaporkan kasus ini ke polisi karena dia juga diancam akan dibunuh.
Namun setelah didiskusikan oleh keluarganya, korban akhirnya melaporkan kasus ini ke Polda Banten.
Meskipun pelaku ditahan, keluarga korban mendapat tekanan dari keluarga pelaku.
Bahkan keluarga pelaku mengunjungi saudara-saudara korban dan menceritakan versi yang berbeda.
"Setelah melalui proses penyidikan yang panjang, pada tanggal 21 Februari 2023, dilakukan penahanan terhadap pelaku.
Keluarga kami mendapatkan banyak tekanan. Satu sisi kami menjaga kerahasiaan kasus ini agar adik kami tidak depresi." tulis Iman.
Namun pihak keluarga korban tetap teguh dalam membawa kasus ini ke depan karena korban telah berkali-kali dipukuli dan diancam dibunuh.
"Tentu saja, kami sekeluarga sudah bersepakat menutup rapat pintu komunikasi dengan keluarga pelaku. Satu hal yang membuat kami tdk mundur sekalipun, adalah cerita korban (adik kami) saat dipukul, ditonjok, dijambak, digusur dan terbentur tangga saat ditarik paksa oleh pelaku.
Pelaku berkali-kali berniat membunuh korban (adik kami), pernah menghunuskan pisau pada leher adik kami, bahkan meminta agar adik kami sebaiknya membunuh dirinya sendiri," lanjutnya.
Sayangnya, persidangan kasus ini dianggap mencurigakan karena pihak korban tidak diberitahu tentang jadwal sidang pertama. Bahkan kuasa hukum keluarga korban juga diusir dari ruang sidang.
Yang lebih parah, ponsel yang digunakan oleh pelaku dan barang bukti tidak dihadirkan dalam persidangan.
Dengan alasan bahwa laptop tidak mendukung.
Bahkan jaksa yang menangani kasus ini juga terkesan mencurigakan dan tidak memihak kepada korban.
Akhirnya, korban membawa adiknya untuk mengadu di posko PPA.
Namun di posko PPA, korban justru dimarahi oleh jaksa tersebut.
Setelah cuitan Iman tersebut viral, warganet berbondong-bondong mengungkap identitas pelaku rudapaksa dan penganiayaan itu.
Salah satu warganet dengan akun @kangluks mengunggah tangkapan layar dari situs Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).
Dalam situs tersebut tertulis bahwa pelaku bernama Alwi Husen Maolana itu merupakan mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dengan Nomor Induk Mahasiswa (NIM): 5501200005.
Diketahui pelaku mengambil program studi D3 Akuntansi Fakultas Ekonomi sejak tahun 2020.
Namun berdasarkan catatan PDDikti, status mahasiswa Alwi Husen Maolana dinyatakan 'Hilang'.
Bersamaan dengan cuitan @kangluks itu, Pegiat Media Sosial, Mazzini lewat cuitan twitternya @mazzini_gsp pada Senin (26/6/2023) juga mengunggah sejumlah potret pribadi Alwi Husen Maolana.
"Jadi pertanyaan besar siapa Alwi Husen Maolana ini pak @ST_Burhanuddin? Keluarganya siapa? Anak siapa dia? Kenapa anak buah Pak @ST_Burhanuddin di Kejari Pandegelang malah memihak pelaku ya? @KejaksaanRI," tulis Mazzini.
Pada postingan berikutnya, Mazzini membagikan sebuah foto keluarga Alwi Husen Maolana bersama Bupati Pandeglang, Irna Nurita.
Dalam foto tersebut, tertera tanggal momen pengambilan gambar tersebut, yaitu pada 10 Dzulhijjah 1437 hijriah atau Jumat, 19 Februari 2016.
Mazzini juga mengungkapkan bahwa Ayah dari Alwi Husen Maolana adalah Anwari Husnira, yang merupakan mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang.
Diketahui bahwa Ayah Alwi Husen Maolana telah meninggal dunia di RSUD Berkah, Cikoneng, Pandeglang, Banten pada Minggu, 18 Maret 2018.
"Bokapnya sudah almarhum mantan kadis dlh pandegelang (tweet di bawah). Slide 2 foto alwi sekeluarga bersama Bupati Pandegelang Irna Nurita," cuit Muzzani.
(cr31/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Viral-mahasiswi-Pandeglang-jadi-korban-rudapaksa_.jpg)