Bachtiar Ja'far Sempat Enggan Ditunjuk jadi Wali Kota Medan, Akhirnya Dipercaya Menjabat Satu Dekade

Sosok Bachtiar Ja'far bagi kerabat dan keluarganya adalah pemimpin yang menjadi teladan.

Penulis: Arjuna Bakkara |
Abul Muammar
Mantan Wali Kota Medan periode 1 April 1990 - 31 Maret 2000, Bachtiar Ja'far. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah kerabat dan keluarga mendatangi rumah duka meninggalnya Wali Kota Medan ke-13, Kolonel Pur H Bachtiar Ja'far di Komplek Griya Riatur Indah, Medan, Selasa (3/8/2021).

Tokoh kharismatik Melayu ini tutup usia 82 tahun di Medan, sekitar pukul 08.00 WIB.

Silih berganti, kerabat keluarga mendatangi rumah duka mantan Wali Kota Medan Periode 1990-2000 ini. Termasuk Bobby Afif Nasution, wali kota yang menjabat saat ini datang memberikan penghormatan kepada almarhum.

Sosok almarhum bagi kerabat dan keluarganya adalah pemimpin yang menjadi teladan.

Darma Falah Bin Haji Armansyah Djafar, sepupu kandung almarhum mengatakan, selama menjadi wali kota Ja'far tidak membeda-bedakan mana keluarga yang berada dan yang berekonomi pas-pasan.

Menurutnya, Bachtiar tidak juga memanfaatkan kekuasaannya untuk Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) selama menjabat sebagai Wali Kota Medan.

"Bisa dicek, kami tak ada namanya yang dikasih posisi atau jabatan-jabatan strategis. Dia enggak suka KKN. Enggak ada lah istilah famili. Boleh dicek enggak ada nama sepupu jadi pegawai," ujar Falah yang merupakan anak kandung dari abang almarhum.

Almarhum lima bersaudara, dan merupakan anak ke tiga. Sedangkan ayah Darman adalah kakak kandung almarhum yang paling tua.

Menurut Darma Falah, sesuai cerita neneknya, almarhum sudah terbiasa mandiri. Setelah tamat dari SMA N 2 Medan, ia langsung merantau ke Jakarta, dan berhasil menggapai cita-citanya masuk AKABRI meski pada tahun pertama tidak lulus.

"Dulu dia ngajak abangnya, ayah saya, ke Jakarta setamat SMA. Tapi, ayah saya enggak mau dan sekolah kedokteran di sini. Dan dia, jadi tentara di Jakarta. Dia berhasil jadi Kopasus," sebut Darma Falah.

Ia menceritakan, Bachtiar sempat merasa enggan diminta oleh Kasad TNI untuk menjadi Wali Kota Medan.

Ketika itu, almarhum pun berdiskusi dengan abangnya, Armansyah Djafar, dan akhirnya bertugas ke Medan. Jabatan sebagai wali kota pun diembannya selama satu dekade.

Saat itu, kantor-kantor pemerintahan di Kota Medan masih banyak yang menyewa gedung. Lambat laun, di kepemimpinan almarhum dibangunlah perkantoran untuk lembaga pemda.

Pembangunan kantor-kantor dianjurkan almarhum dari sumbangan-sumbangan pemborong yang ingin memberi fee kepadanya.

"Dia dulu ditawari fee oleh pemborong-pemborong jalan. Tapi dia enggak mau dan langsung bilang bangun kantor saja biar bisa dinikmati sebagai fasilitas umum," terang Darma Falah.

Pada masa kepemimpinanya juga, banyak dibangun jalan-jalan penting, termasuk jembatan layang di Brayan.

Putra Melayu

Almarhum Ja'far Bachtiar merupakan putra Melayu pertama yang menjadi Wali Kota Medan. Sebagai putra melayu, ia memperkuat eksistensi budaya Melayu. Salah satunya adalah menerapkan penggunaan ornamen Melayu pada kantor-kantor Pemerintahan di Kota Medan.

Gebrakannya dalam Paguyuban Melayu, bahkan mampu mengantarkan Tengku Rizal Nurdin menjadi Gubernur Sumatera Utara. Almarhum juga menolak lebih dari dua periode menjabat wali kota meski diperintah Kasad TNI, dan mencari penggantinya, Abdillah.

"Meski Pak Abdillah akhirnya bermasalah, itu lain ceritalah ya kan," sebutnya.

Sebagai keluarga, Darma Falah berharap pemimpin-pemimpin di Kota Medan sat ini dan selanjutnya agar bisa meneladani almarhum. Seperti pada jamannya, masuk kampung hingga ada istilah "rusa masuk kampung" karena dia turun bangun jalan.

Sejak mengakhiri masa jabatan sebagai Wali Kota Medan tahun 2000, almarhum hanya mengurus paguyuban Budaya Melayu.

"Setelah itu, dia pensiunlah. Enggak ada gaji bulanan atau yang lain. Paling-paling kesibukannya di Medan mengurusi budaya Melayu. Tapi, setiap wali kota yang mau maju datang juga permisi ke dia,"sebut Darman Falah.

Wali Kota Medan Bobby Nasution mendoakan mantan Wali Kota Medan 1990-2000 Kol (purn) H Bachtiar Ja’far di rumah duka Komplek Griya Riatur Indah Blok F No 37 Jalan Amir Hamzah, Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia, Selasa (3/8/2021).
Wali Kota Medan Bobby Nasution mendoakan mantan Wali Kota Medan 1990-2000 Kol (purn) H Bachtiar Ja’far di rumah duka Komplek Griya Riatur Indah Blok F No 37 Jalan Amir Hamzah, Kelurahan Helvetia Timur, Kecamatan Medan Helvetia, Selasa (3/8/2021). (TRIBUN MEDAN/HO)

Bachtiar Ja'far dikenal sebagai sosok yang peduli dengan keluarga. Ia beberapa kali memberangkatkan keluarganya yang kurang mampu untuk naik haji.

Almarhum meninggalkan Rosmaini, istrinya, serta dua putri bernama Maya Sari Bahtiar dan Laliali Bahtiar yang memberikannya cucu-cucunya. Almarhum dimakamkan di TPU muslim dekat Istana Maimun dan Masjid Raya Medan. (jun-tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved