PHK Karyawan Mal
MENDERITA, 7.000 Karyawan Mal di Sumut Kena PHK Dampak PPKM
Pandemi Covid-19 membawa kesengsaraan bagi para pekerja, khususnya karyawan mal. Ada 7.000 karyawan mal sudah di PHK
TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN-Pandemi Covid-19 ditambah dengan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) membawa kesengsaraan bagi pekerja sektor mal.
Menurut catatan Asosiasi Persatuan Pusat Belanja Indonesia (APBI), sudah ada 7.000 karyawan mal di Sumut kena PHK (pemutusan hubungan kerja) dampak PPKM.
"Sejak jam operasional kita dibatasi hingga pemberlakuan PPKM darurat ini sudah sekitar 7.000 karyawan di pusat pembelanjaan atau mall di Sumatera Utara, baik karyawan pengelola maupun karyawan dari penjaga toko seperti satpam, cleaning service, dan lainnya, semuanya sudah kita kurangi untuk melakukan penghematan," kata Penasehat APBI Sumut Herri Zulkarnaen, Sabtu (17/2021).
Baca juga: Kisah Pilu Pedagang Kecil Terdampak PPKM Darurat, Rela Memelas di Pinggir Jalan Demi Tiga Anaknya
Dia mengatakan, keputusan berat ini harus diambil, mengingat turunnya pemasukan mal atau plaza.
"Sekarang banyak pengelola plaza bukan lagi survive, melainkan sudah minus semuanya. Itulah kondisi kami sekarang, apalagi kalau diperpanjang lagi nanti," tambahnya.
Herri mengungkapkan, sebelumnya pihak APBI sudah berusaha menerapkan strategi, namun hasilnya tidak signifikan.
"Dan kami tidak bisa pungkiri, buat strategi lain lagi karena promosi yang sudah kita tawarkan secara online dan offline tidak jalan. Ditambah para penyewa tidak bayar sewa saat ini meminta stimulus terkait bagaiamana kebijakan dari pada pengelola agar mereka tetap bertahan," katanya.
Baca juga: Santun Gaya Bicara Kapolri Listyo Sigit Sidak PPKM Darurat Solo: Ini Untuk Tambah-tambah
Ia mengatakan, meskipun saat ini mal dalam keadaan tutup sementara, namun tetap saja ada pengeluaran yang sangat tinggi.
Kerugian mal di Sumut saat ini sudah menyentuh angka puluhan miliar.
"Kalau masing-masing perusahaan itu tergantung besar kecilnya mal. Seperti Plaza Millenium, kami mengalami kerugian sekitar Rp 500 juta per bulannya," kata Heu.
Untuk mal besar, sambungnya, kerugian ditaksir mencapai Rp 10 miliar lebih perbulannya.
Baca juga: PPKM Darurat Jawa-Bali Diperpanjang Hingga Akhir Juli, Kadiskominfo :Sumut Tunggu Instruksi Mendagri
"Meskipun tutup, kami tetap menggunakan energi listrik yang sangat tinggi. Semakin besar mall, semakin besar kerugiannya," ujar Herri.
Dia mengatakan, bila saja mal yang ada di Sumut ini berjumlah 10, maka kerugian bisa capai Rp 50 miliar per bulannya.
Itu belum lagi pengeluaran tambahan, seperti penyediaan hand sanitizer, area pencuci tangan dan alat cek suhu tubuh.
Baca juga: Bobby Nasution Didesak Segera Berikan Bantuan Bagi Warga Kecil yang Usahanya Tutup Karena PPKM
"Kami berharap dari pemerintah agar adanya stimulus, karena sampai saat ini kami tidak diberikan,"
"Kami seperti anak tiri, karena hotel saja diberikan stimulus. Setidaknya adanya stimulus berupa pengurangan pajak, biaya listrik, dan lainnya yang mempermudah kami,"
"Pemerintah juga kita harap agar tegas atas dalam kebijakan ini, dan jangan digantung-gantung terhadap semua sektor," tutupnya. (cr20/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mall-centre-point-medan-sepi.jpg)