Omset Masih di Bawah 20 Persen, Pedagang Seragam Sekolah Harap Sekolah Tatap Muka Tak Hanya Wacana

Ario menjelaskan bahwa ia memilih tetap buka toko lantaran hanya usaha ini yang ia geluti dan masih ada beberapa masyarakat yang masih tetap membeli.

Tribun-medan.com/ Kartika Sari
Pegawai toko seragam sekolah saat menunggu pelanggan di Pusat Pasar Medan, Minggu (13/6/2021). (Tribun-medan.com/ Kartika Sari) 

Tribun-Medan.com, Medan - Rencana pembelajaran tatap muka pada bulan Juli mendatang ternyata memberikan harapan baru bagi para pedagang perlengkapan sekolah.

Adapun seragam sekolah yang dijual bervariasi, seperti seragam SD mulai dari harga Rp80ribu-Rp100 ribu, seragam SMP seharga Rp130 ribuan, dan seragam SMA seharga Rp140 ribu-Rp150 ribuan.

Hal ini diungkapkan Ario, pedagang grosir eceran seragam sekolah di Pusat Pasar Medan.

"Tentunya bagus ya bagi kami para penjual biar stok barang ini cepat laku. Ini sekarang belajar daring pun anak-anak juga gak terkontrol. Baguslah kalau memang ada wacana seperti itu. Tapi kan tergantung gubernur juga, kalau gubernur gak setuju ya sama saja. Jadi tidak hanya wacana saja," ungkap Ario, Minggu (13/6/2021).

Dikatakan Ario, semenjak pandemi setahun belakangan omzet merosot secara drastis. Padahal, momen puncak penjualan seharusnya terjadi pada bulan Juni-Juli semasa tahun ajaran baru siswa baru.

Bahkan hingga saat ini, penjualan tak mampu melampaui 20 persen.

"Kalau lagi ramai bisa dapat Rp50 juta per hari, namun ini aja penjualan gak sampai 20 persen," ujarnya.

Bahkan pada pandemi lalu, Ario sempat menutup sementara tokonya dengan sistem shift 3 hari buka dan 3 hari tutup.

Ario menjelaskan bahwa ia memilih tetap buka toko lantaran hanya usaha ini yang ia geluti dan masih ada beberapa masyarakat yang masih tetap membeli.

"Masih ada yang beli tapi kebanyakan dari luar kota seperti Aceh sama Padang, kalau di Medan saat ini belum ada," kata Ario.

Tak jauh dari Toko Ario, Fira yang juga membuka toko seragam sekolah juga harus memutar otak untuk dapat bertahan hidup di tengah pandemi.

Dikatakannya, untuk dapat bertahan, dirinya juga menjual pakaian wanita seperti blues ataupun daster agar tetap ada pergerakan pendapatan.

Fira yang memiliki pabrik konveksi ini juga menerima orderan dari sekolah ataupun pesantren untuk seragam dalam hitungan lusin.

"Karena pesantren sudah mulai ada ya untuk celana hitam juga udah mulai laku lah pelan-pelan," kata Fira.

Namun begitu, Fira juga berharap bulan Juli mendatang realisasi pembelajaran tatap muka benar-benar terlaksana agar perekonomian dapat berjalan stabil kembali.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved